IHSG diprediksi melemah, dipicu terpuruknya indeks saham Wall Street

IHSG diprediksi melemah, dipicu terpuruknya indeks saham Wall Street

Ilustrasi - Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melalui layar telepon selular di Jakarta. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/hp.

Meski sejumlah indikator teknikal mengindikasikan potensi rebound IHSG, namun pelemahan lebih dari satu persen pada indeks-indeks utama Wall Street di perdagangan Selasa (18/1) diperkirakan menjadi sentimen yang lebih dominan
Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu diprediksi melemah, dipicu koreksi indeks saham di Wall Street.

IHSG dibuka melemah 4,23 poin atau 0,06 persen ke posisi 6.609,83. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 0,85 poin atau 0,09 persen ke posisi 943,97.

"Meski sejumlah indikator teknikal mengindikasikan potensi rebound IHSG, namun pelemahan lebih dari satu persen pada indeks-indeks utama Wall Street di perdagangan Selasa (18/1) diperkirakan menjadi sentimen yang lebih dominan mempengaruhi IHSG pada hari ini," kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.

Dari dalam negeri, terdapat peningkatan risiko ketidakpastian seiring kecenderungan peningkatan kasus baru harian COVID-19 dalam sepekan terakhir.

Penambahan kasus baru tersebut diikuti peningkatan Bed Occupancy Rate (BOR) nasional ke 6 persen per 16 Januari 2021 dari 3 persen pada 4 Januari 2021. Perkembangan kondisi COVID-19 tersebut memicu kekhawatiran adanya pengetatan restriksi kegiatan masyarakat lebih lanjut oleh pemerintah.

Dari dalam negeri, DPR RI mengesahkan RUU Ibu Kota Negara (IKN) menjadi UU dalam rapat paripurna pada Selasa (18/1) kemarin. Pengesahan tersebut mendorong intraday rebound pada sejumlah saham konstruksi yang sempat melemah signifikan di awal perdagangan, namun top picks masih pada saham-saham bluechip.

Dari eksternal, indeks-indeks Wall Street melemah signifikan pada perdagangan Selasa (18/1) dipicu oleh kenaikan signifikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level 1,87 persen, level tertinggi sejak Januari 2020.

Baca juga: Wall Street terpuruk dipicu kenaikan imbal hasil obligasi AS

Di sisi lain, imbal hasil obligasi jangka pendek (U.S. 2-year Bond) naik ke atas satu persen untuk pertama kalinya sejak Februari 2020. Kenaikan yield tersebut salah satunya dipicu kekecewaan pelaku pasar terhadap laporan keuangan terbaru.

Terbaru Golman Sachs mencatatkan laba kuartal IV 2021 yang berada di bawah ekspektasi pasar. Selain itu, kenaikan tersebut juga menjadi sinyal bahwa normalisasi The Fed Rate akan segera dimulai.

Sentimen serupa turut menekan mayoritas indeks-indeks di Eropa pada perdagangan Selasa (18/1) lalu. Padahal ZEW economic sentiment di Jerman mencapai 51,7 pada Desember 2021, jauh di atas ekspektasi (32) dan meningkat signifikan dari November 2021 (29,9).

Pelaku pasar di Eropa juga mencermati pertemuan Economic and Financial Affairs Council di Brusel, Belgia yang diadakan Selasa (18/1).

Dari regional Asia, Bank of Japan (BoJ) mempertahankan suku bunga acuan negatif, tepatnya di -0,1 persen pada pertemuan Januari 2022 (18/1). Japan Industrial Production tumbuh 5,1 persen (yoy) pada November 2021, dibandingkan koreksi 4,1 persen (yoy) pada Oktober 2021.

IHSG diperkirakan melemah ke kisaran 6.580 hingga 6.600 terutama di awal-awal perdagangan.

Bursa saham regional Asia pagi ini antara lain Indeks Nikkei melemah 540,43 poin atau 1,91 persen ke 27.716,82, Indeks Hang Seng naik 27,21 poin atau 0,11 persen ke 24.139,99, dan Indeks Straits Times meningkat 0,46 atau 0,01 persen ke 3.280,5.

Baca juga: IHSG ditutup melemah, tertekan pengetatan moneter bank sentral global

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar