Fakta seputar saus mala

Fakta seputar saus mala

Ilustrasi rempah (Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Saus tradisional khas China Mala, artinya "ma" (kebas) dan "la" (pedas), kian jadi primadona di kalangan penikmat kuliner.

Dikutip dari CNA, Jumat, berikut adalah lima fakta terkait mala, soal rumor apakah mala baik untuk Anda hingga bagaimana mengatasi rasa pedas di mulut dan perut setelah menyantapnya.

Baca juga: Hari Makanan Panas Sedunia, ini rekomendasi kuliner pedas Indonesia

Dampak positif untuk kesehatan?
Mala terdiri dari banyak rempah, termasuk adas manis, kayu manis, jahe dan cengkeh,tapi yang membuat rasanya khas adalah lada Sichuan dan cabai kering. Keduanya punya manfaat untuk kesehatan. Lada Sichuan yang memberikan efek kebas disebut bisa meningkatkan sistem imunitas, membantu mengurangi rasa sakit tubuh dan meningkatkan metabolisme.

Sementara cabe kering mengandung mineral seperti folat, potasium, thiamin dan merupakan sumber vitamin A, B dan C. Kapsaicin, senyawa yang membuat cabe terasa pedas, bahkan disebut membantu menurunkan berat badan.

Namun ahli jantung Calvin Chin dari Pusat Jantung Nasional Singapura mengingatkan, meski cabe membantu meningkatkan metabolisme, dampak menurunkan berat badan takkan terlalu terasa. Hanya satu kilogram dalam tiga atau empat bulan makan cabe setiap hari.

"Begitu toleransi terhadap cabe meningkat dari waktu ke waktu, efek penurunan berat badan dari cabai...berkurang juga seiring waktu,” tambahnya.

Baca juga: Pedas saus Samyang dalam balutan ayam goreng

Soal merica Sichuan, dia mengatakan manfaat untuk kesehatan juga tidak terlalu besar, dan butuh makan dalam porsi besar yang rasanya takkan terlalu lezat untuk banyak orang.

Lebih penting lagi, kata dia, kandungan garam dan minyak dalam mala disebutnya "sangat tidak sehat" dan bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Menurut ahli diet Jacqueline Loh dari RS Mount Alvernia, ada cara lebih sehat saat makan mala. Dia biasanya membuang minyak di atas permukaan kaldu setelah bahan makanannya masak. Terkadang, jumlah minyaknya bisa memenuhi tiga hingga empat mangkuk, kata Loh.

Dalam memilih bahan makanan, dia mengatakan makanan yang sebelumnya sudah digoreng, seperti kulit tahu goreng, akan menyerap minyak dua kali lebih banyak. Dia menyarankan untuk merendam sebentar sayuran seperti bayam, bukan meninggalkannya terlalu lama di dalam hotpot yang bisa menyerap minyak.

Hati-hati untuk Anda yang punya perut sensitif. Kapsaicin, kandungan dalam cabe, bisa memicu gejala seperti mual dan diare. Tapi, ada berita baik. Toleransi terhadap rasa pedas bisa terus meningkat.

Terkait anak-anak, tidak ada usia ideal untuk mengajarkan rasa pedas.

"Betul-betul tergantung dari lidah individu," katanya.

Ada anak yang lebih berani mencoba sejak dini, tapi jika mereka tidak siap, mulai terlalu muda mungkin membuat mereka jadi enggan mencoba.

Bagaimana cara menangani sensasi terbakar?
Sebagian orang mungkin berpikir minum air akan membantu, sementara yang lainnya menyebut jus jeruk atau susu bisa mengurangi rasa pedas. Tapi ternyata minum air tidak membantu karena kapsaicin tidak larut di dalam air.

"Itu hanya menyebabkan kembung."

Jus jeruk juga bukan solusi yang tepat. Ada perbedaan jelas antara minuman tanpa susu dan minuman berbahan susu. Susu mengandung protein kasein yang bisa mengikat kapsaicin dan melarutkannya.

Selain susu, alkohol juga pilihan lain yang bisa melarutkan kapsaicin.



Baca juga: Resep sate ayam pedas serai Bali ala Chef Devina Hermawan

Baca juga: Ayam bakar pedas yang membuat bibir jontor

Baca juga: Gerah? Makanan pedas buat Anda lebih adem ketimbang es krim

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar