Pertama sejak "Berlian Biru", PM Thailand akan kunjungi Arab Saudi

Pertama sejak "Berlian Biru", PM Thailand akan kunjungi Arab Saudi

Arsip foto - Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-ocha di Bangkok, Thailand, Juni 2019. ANTARA/Reuters/Athit Perawongmetha/as.

Riyadh (ANTARA) - Perdana menteri Thailand Prayuth Chan-ocha akan mengunjungi Arab Saudi pada Selasa, kata kementerian luar negeri.

Kunjungan itu akan menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak perselisihan diplomatik yang dipicu kasus pencurian permata hampir tiga dekade lalu.

Arab Saudi menurunkan status hubungan diplomatik dengan Bangkok menyusul insiden pencurian perhiasan senilai 20 juta dolar (sekitar Rp286,6 miliar) pada 1989 oleh seorang petugas kebersihan asal Thailand di istana seorang pangeran Saudi.

Kasus itu kemudian dikenal sebagai "Skandal Berlian Biru".

Sejumlah besar perhiasan, termasuk berlian biru yang langka, hingga kini belum ditemukan.

PM Thailand Prayuth Chan-ocha akan memulai kunjungan dua hari di Arab Saudi pada Selasa atas undangan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, kata kementerian Saudi dalam pernyataan, Minggu.

Kunjungan itu dilakukan untuk menciptakan pandangan yang lebih dekat dan kerja sama dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan bersama, kata kementerian.

Kasus pencurian permata itu masih menjadi salah satu misteri terbesar bagi Thailand yang diikuti oleh jejak berdarah.

Setahun setelah pencurian, tiga diplomat Saudi di Thailand tewas dalam tiga pembunuhan yang berbeda dalam semalam.

Sebulan kemudian, pengusaha Saudi, Mohammad al-Ruwaili, yang menyaksikan salah satu penembakan, menghilang.

Pada 2014, pengadilan kriminal Thailand membatalkan kasus terhadap lima orang, termasuk seorang perwira tinggi polisi, atas dugaan membunuh Ruwaili terkait kasus pencurian batu-batu berharga itu.

Thailand sangat ingin menormalkan hubungannya dengan kerajaan kaya minyak tersebut setelah kasus itu merugikan miliaran dolar perdagangan kedua negara, berkurangnya pendapatan pariwisata dan hilangnya pekerjaan bagi ribuan pekerja migran Thailand.

Sumber: Reuters
 

Penerjemah: Anton Santoso
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar