Kinerja Garuda Maintenance Facility diprediksi positif tahun ini

Kinerja Garuda Maintenance Facility diprediksi positif tahun ini

Pekerja Garuda Maintenance Facility (GMF) dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap melakukan penyemprotan cairan disinfektan pada bagian pesawat Garuda Indonesia di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (13/8/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.

Kinerja tahun ini semestinya diproyeksikan mulai berjalan dengan progresif selama pemerintah tidak menerapkan kebijakan restriksi secara lebih ketat
Jakarta (ANTARA) - Kinerja PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) diprediksi positif pada 2022 seiring mulai pulihnya kinerja operasional, terus bertumbuhnya performa keuangan perusahaan, dan strategi diversifikasi bisnis yang telah berjalan.

"Kinerja tahun ini semestinya diproyeksikan mulai berjalan dengan progresif selama pemerintah tidak menerapkan kebijakan restriksi secara lebih ketat," kata Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Nafan menjelaskan di tengah situasi COVID-19 yang memukul industri penerbangan ini, GMFI mendapatkan angin segar yang dapat memicu kinerja perusahaan pada tahun ini.

Pertama, mulai naiknya penerbangan pada akhir 2021 seiring dengan mulai membaiknya penanganan COVID-19 di Indonesia.

Kedua, diversifikasi bisnis oleh perseroan di luar induknya, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), yang mulai berbuah manis.

Pada akhir 2021, GMFI terlibat dalam proyek modernisasi dan penggantian center wing box untuk pesawat C130H milik TNI AU setelah berkontrak dengan Kementerian Pertahanan (Kemhan) pada tahun lalu untuk memodifikasi total delapan unit pesawat secara berkala.

Selain dengan Kemhan, perseroan berkontrak dengan TNI AU untuk pemeliharaan beberapa mesin, mendukung layanan komponen dan material untuk mendukung overhaul pesawat 737.

Perseroan berhasil meningkatkan event maintenance pada segmen perawatan pesawat kargo, khususnya Boeing 747 wide body, serta perawatan reaktivasi pesawat menyusul meningkatnya mobilitas masyarakat dan permintaan pengembalian pesawat ke lessor.

Perseroan juga berhasil mengembangkan kapabilitas perawatan line maintenance untuk perawatan pesawat Boeing 787 milik maskapai asal Jepang, dari semula bersifat assist menjadi full release.

Dipercayanya GMFI oleh sejumlah maskapai, baik domestik maupun asing yang tersebar di benua Asia, Eropa, dan Amerika juga turut memperbesar persentase porsi pendapatan dari segmen non-afiliasi sekitar 8 persen dibandingkan 2020.

Lebih lanjut, GMFI juga berpeluang untuk bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan dalam menghadirkan layanan MRO berstandar global di Bandara Kertajati, Majalengka.

"Potensi pendapatan GMFI dari luar Garuda mulai membaik sebagai strategi diversifikasi manajemen. Tinggal maksimalkan efisiensi bisnis mengingat masa pandemi COVID-19 masih belum berakhir," kata Nafan.

Ketiga, di tengah situasi COVID-19 yang memukul industri penerbangan, perseroan berhasil melakukan penghematan yang efektif.

Sampai dengan kuartal III-2021, GMFI membukukan pendapatan sebesar 165,37 juta dolar AS atau turun 13,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, perseroan berhasil memangkas beban perusahaan hingga September 2021.

GMFI berhasil menekan rugi usahanya menjadi 27,68 juta dolar AS. Padahal, periode yang sama tahun sebelumnya rugi usaha perusahaan sebesar 178,16 juta dolar AS.

Dengan begitu, perusahaan semakin memperkecil rugi bersih yang dideritanya menjadi 38,94 juta dolar AS dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 160,60 juta dolar AS.

"Meskipun pendapatan sembilan bulan 2021 tidak terlalu jauh berbeda dengan sembilan bulan 2020, namun dari sisi kerugian bersih bisa turun sangat signifikan," ujar Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan.

Ia berharap GMFI terus bisa mempertahankan efisiensinya dan kondisi saat ini menjadikan diversifikasi tersebut sebagai pilihan terbaik.

"Selain itu, perlu diapresiasi langkah manajemen yang berusaha keras bagaimana perusahaan bisa mendapatkan pendapatan," ujar Alfred.

Pengamat pasar modal Lucky Bayu Purnomo menilai GMFI masih ada prospek sebab "captive market" masih ada.

"Prospek pendek memang masih bukan pilihan. Tapi jangka panjang investor bisa positif. Karena sekarang investor mengharapkan GMFI bisa mengembangkan market share dan juga pendapatan organik sendiri, di luar pendapatan dari Induknya," ujar Lucky.

Ia mengatakan bahwa manajemen perlu semakin mendiversifikasi pendapatan dan jasa servisnya dan menerapkan tata kelola perusahaan yang lebih ramping, efisien, dan tepat guna.

Baca juga: GMF mulai garap perawatan pesawat militer

Baca juga: BEI resmikan pencatatan saham perdana GMF

Baca juga: GMF berhasil ubah dua Fokker jadi pesawat kargo

 

Pewarta: Citro Atmoko
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar