Tujuh kebiasaan digital yang positif untuk anak

Tujuh kebiasaan digital yang positif untuk anak

Ilustrasi - Anak bermain dengan gawai. ANTARA/Flickr.

Jakarta (ANTARA) - Menggunakan teknologi digital dan mengakses dunia maya sudah buka menjadi barang yang asing bagi anak-anak sekarang.

Memiliki keterampilan saat menggunakan teknologi digital bisa membantu anak-anak bertahan hidup di era digital. Kaspersky membagikan tujuh kebiasaan yang baik diterapkan pada anak saat menggunakan teknologi.

1. Jadwal waktu tanpa gawai
Anak-anak banyak menghabiskan waktunya sehari-hari menggunakan gawai digital. Jika tidak diatur dengan baik, penggunaan gawai bisa menimbulkan rasa ketergantungan.

Agar anak tidak melulu di depan gawai, berikan batasan waktu menggunakan teknologi digital. Cara yang paling mudah, tidak boleh menggunakan gawai menjelang waktu tidur, perangkat harus dimatikan atau dibisukan semalaman. 

Orang tua juga perlu membuat kesepakatan dengan anak soal kapan tidak boleh menggunakan ponsel, misalnya saat waktu makan.

Baca juga: Kiat Darius Sinathrya saat beri "gadget" pada anak

Baca juga: Tips kendalikan pemakaian gawai pada anak


2. Disiplin mengisi daya baterai
Orang tua bisa memberikan pemahaman kepada anak bahwa ponsel menggunakan baterai yang harus diisi ulang daya supaya bisa tetap menyala. Ajak anak meninggalkan ponsel mereka di luar kamar untuk mengisi daya, misalnya sebelum tidur malam supaya mereka tidak main ponsel.

3. Keamanan
Anak harus berhadapan dengan isu keamanan, baik di dunia maya maupun nyata ketika mereka mengakses internet. Berkaitan dengan keamanan di dunia nyata, beri tahu anak mereka tidak boleh menatap ponsel saat sedang menyeberang jalan atau naik-turun tangga.

Di dunia maya, beri tahu anak tentang situs yang mencurigakan dan minta mereka tidak sembarangan mengunjungi website, memasukkan kata sandi dan informasi pribadi.

Orang tua juga harus mengajari anak untuk tidak membagikan dokumen pribadi, informasi kartu kredit dan foto secara sembarangan. Pasang aplikasi atau fitur yang bisa membantu anak dari konten yang berbahaya.

4. Batasi notifikasi
Orang dewasa pun sering hilang konsentrasi ketika gawai mereka terus mengirimkan notifikasi, apalagi anak-anak. Batasi notifikasi di perangkat supaya mereka tidak mudah teralih saat mengerjakan tugas sekolah.

5. Etika digital
Sama seperti dunia nyata, sebenarnya ada aturan tidak tertulis yang berlaku di dunia maya. Orang dewasa mungkin bisa mudah memahaminya, namun, anak-anak tentu perlu bantuan.

Diskusikan etika di dunia digital dengan anak, misalnya berkomunikasi melalui email berbeda dengan saat menggunakan pesan instan. Biasakan anak bertanya pada dirinya sendiri sebelum mengunggah sesuatu di media sosial, seperti apakah hal-hal seperti ini boleh dikatakan.

Beri pemahaman juga mengenai konsekuensi yang akan diterima jika misalnya menulis sesuatu yang menghina orang lain di media sosial.

6. Mengelola informasi
Menggunakan teknologi digital menyebabkan penggunanya harus bisa mengingat sejumlah informasi, terutama yang digunakan untuk masuk ke sebuah akun. Ajari anak untuk mengelola informasi, seperti mengingat nomor ponsel dan kata sandi.

Ajari juga mereka tentang membuat cadangan untuk informasi yang penting, misalnya menggunakan flashdisk atau penyimpanan di cloud. Jangan lupa diskusikan bahwa informasi tersebut tidak bisa dibagikan sembarangan.

7. Jadwal detoks digital
Teknologi digital hadir hampir di semua aspek kehidupan anak-anak, mereka bisa saja terpapar informasi secara berlebihan. Orang tua bisa berdiskusi dengan anak bahwa internet bukan prioritas kehidupan mereka.

Setelah membuat jadwal menggunakan gawai, termasuk aturan menggunakan media sosial, terapkan juga detoks digital secara rutin agar anak tidak melulu menggunakan gawainya.

Simpan gawai anak selama beberapa waktu dan ajak anak melakukan kegiatan di dunia nyata seperti olahraga, bermain dengan teman atau berwisata. Selama kegiatan itu, tidak boleh menggunakan gawai.

Orang tua akan menjadi contoh yang paling efektif soal menggunakan gawai. Meski pun sulit, jika terus dibiasakan, kebiasaan seperti ini bisa membantu anak-anak terhubung ke lingkungan sekitar mereka.

Baca juga: Agar mata tetap sehat meski terus terpapar layar gawai

Baca juga: Tips aman pakai gawai di masa adaptasi kebiasaan baru menurut pakar

Baca juga: Belajar daring bukan alasan abaikan batasan "screen time" untuk anak

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar