Jakarta (ANTARA News) - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyalurkan bantuan senilai Rp8,9 miliar untuk rehabilitasi dan pembangunan gedung-gedung sekolah di Wasior, Merapi, dan Mentawai yang rusak akibat bencana alam beberapa waktu lalu.

"Bantuan tersebut salah satu bentuk kepedulian sosial TelkomGroup beserta mitra kerjanya serta pelanggan Telkomsel dan Flexi terhadap korban bencana alam yang terjadi di berbagai daerah," ujar Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu.

Menurut Rinaldi, sesuai dengan tema tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) TelkomGroup, "Membangun Indonesia Cerdas" maka bantuan difokuskan kepada pembangunan sarana pendidikan.

Sekolah-sekolah yang segera dibangun dan direhabilitasi tersebut adalah SD YPK Rado di Kecamatan Wasior, SMK Negeri 1 Salam, Kabupaten Magelang, SD Negeri Bronggang Baru, Cangkringan Sleman, SD Negeri 2 Balerante, Klaten dan SD Negeri di Desa Malakopa di Mentawai.

Dijelaskan Rinaldi bencana alam di Wasior, Merapi dan Mentawai telah menggugah TelkomGrup bersama mitra kerjanya melakukan kegiatan penggalangan dana untuk berpartisipasi membantu korban bencana.

Dana yang terkumpul mencapai Rp7,9 miliar, ditambah donasi masyarakat melalui program SMS 5000 dan *811# Telkomsel yang terkumpul Rp787,5 juta, dan SMS 5000 Flexi terkumpul sebesar Rp319,4 juta.

Khusus donasi yang melalui Telkomsel, sebesar Rp100 juta telah disalurkan melalui PMI Pusat sedangkan sisanya digabungkan untuk membangun dan merehabilitasi sekolah di tiga lokasi bencana tersebut.


"SabakMoE"

Sebelumnya, Telkom juga melakukan kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan sistem pembelajaran elektronik (e-learning) berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) melalui konsep integrasi DNA (Device, Network, Application & Content).

Dalam kerjasama yang disebut program "SabakMoE" itu, Telkom menyerahkan seperangkat tablet PC berikut konektivitas dan platform-nya sebagai tanda dimulainya kemitraan kedua pihak.

"SabakMoE merupakan pemikiran strategis Mendiknas RI bahwa standarisasi pendidikan dan penyebarluasan pendidikan hanya bisa ditempuh dengan penggunaan TIK pendidikan," ujar Head of Corporate Communication and Affair Telkom, Eddy Kurnia.

Dijelaskannya, istilah "sabak" mengacu sarana tulis-menulis yang terbuat dari semacam batu tipis yang dibingkai dengan kayu dengan "grip" sebagai alat tulisnya.

"Dahulu, setelah siswa menyalin tulisan guru di papan tulis pada sabak, para siswa diminta menghapalkannya, setelah itu dihapus untuk digunakan menulis pelajaran yang lain," jelas Eddy Kurnia.

Sabak pun ber-evolusi dan kembali ke tangan siswa sebagai tablet PC (Sabak Elektronik) yang siap menjadi alat bagi siswa berselancar di dunia ilmu pengetahuan untuk meraih prestasi.

Tablet PC dikembangkan sebagai alat bantu proses pembelajaran bagi siswa yang terintegrasi dengan Learning Management System (LMS), yang berfungsi sebagai perangkat akses konten sumber belajar multimedia dan interaktif, perangkat akses ke sistem informasi pembelajaran, jadwal, silabus, kurikulum, tugas, penilaian, hasil penilaian, pelaporan hasil belajar, perangkat untuk berkomunikasi dan berkolaborasi.

Perangkat SabakMoE ini juga mampu mencari informasi dan menjadi media kolaborasi antar siswa maupun antar siswa dengan komunitas lainnya, dapat digunakan menyimpan ribuan buku elektronik (e-book) pelajaran maupun pengayaan siswa serta aplikasi belajar.
(R017/Z002)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2011