Lapan: Perbedaan Idul Fitri akibat penyimpangan astronomi

Lapan: Perbedaan Idul Fitri akibat penyimpangan astronomi

Prof DR Thomas Djamaluddin. (facebook)

Jakarta (ANTARA News) - Perbedaan Idul Fitri terjadi karena adanya penggunaan perhitungan yang menyimpang dari kelaziman astronomi modern, kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Prof Dr Thomas Djamaluddin.

"Penyimpangan dari kelaziman astronomi modern ini dengan masih digunakannya metode lama dalam hisab dan rukyat. Metode lama ini misalnya, hisab urfi hanya dengan periode tetap, dengan pasang air laut, serta metode wujudul hilal," kata Thomas Djamaluddin di Jakarta, Selasa.

Pakar astronomi ini menilai, organisasi massa (ormas) Islam, seperti Muhammadiyah, masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal.

"Kalau kriteria Muhammadiyah tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadhan 1433, 1434 dan 1435 hijriyah juga akan berbeda, dan masyarakat dibuat bingung, tetapi hanya disodori solusi sementara. Mari kita saling menghormati," katanya. 1433 hingga 1435 Hijriyah sama dengan tahun 2012 hingga 2014 Masehi.

Menurut dia, perbedaan Idul Fitri itu akan terus berulang, yakni ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk, contohnya pada kasus penentuan Idul Fitri 2011, yakni saat Maghrib 29 Ramadhan atau 29 Agustus, bulan sudah positif, tetapi tingginya di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang.

Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan sudah wujud di atas ufuk saat Maghrib 29 Agustus 2011, padahal saat itu bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati sesuai dalil syar`i.

"Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya, tidak ada yang istimewa," katanya.

Sedangkan, menurut dia, metode Imkan Rukyat adalah tren baru astronomi yang berupaya menyelaraskan dengan dalil syar`i, ujar alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.

Ia mengakui sering mengritik metode hisab rukyat. Oleh karena, ia menilai, perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi, bahkan informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses  di Internet.
(T.D009)

Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Tugas kampus dalam menyiapkan SDM unggul

Komentar