counter

Proses Membangun Jiwa Kewirausahaan

Oleh Oleh Bob Widyahartono *)

Proses Membangun Jiwa Kewirausahaan

Bob Widyahartono, MA. (BW/P003)

Jakarta (ANTARA News) - Kehidupan dalam masyarakat kental dengan rasa senasib sepenganggungan menjadi hal akrab bagi kebanyakan masyarakat Asia layaknya Jepang, China, Korea Selatan, dan anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Jadi, tidak usah belajar sikap pandang jejaring sosial dari Barat mengenai "apa maknanya kebersamaan dalam saling menghargai sesama?"

Dalam masyarakat Asia, maka seorang anggota masyarakatnya sejak lahir berada dalam lingkungan jaringan keterkaitan dan dapat dikatakan jarang sekali berada dalam kesendirian.

Jaringan tersebut dalam bahasa China disebut Guanxi, yang mengakar dalam lingkungan para pelaku ekonomi dengan kepemimpinan dan manajemen negerinya, sekalipun organisasi masyarakat dan bisnis makin memasuki keterbukaan sebagai dampak globalisasi. Mereka secara jelas menempatkan Tirai Bambu menjadi globalisasi yang bukan kebarat-baratan (westernisasi) melulu.

Jaringan kerja (guanxi) berlandaskan saling percaya (shinyung) sebagai istilah sudah membudaya dalam masyarakat umum di China, dan merupakan proses interaksi operasi lintas sektoral, yang pasti bukan "serba cepat tanpa mendalami apa maknanya berjaringan kerja".   

Sementara itu, masyarakat Jepang sudah sejak dulu kala di eranya Tokugawa dan Meiji mempraktikkan filosofi jin-miyaku, yang maknanya sama dengan guanxi. Bangsa kitapun secara historis mengenal sekaligus "pernah" menghayati makna gotong royong atas dasar saling berbagi makna menang untung semua (win-win).   
Masyarakat Asia umumnya hidup dalam keteraturan sosial dan harmoni (social order and harmony). Daya gerak modernisasi membawa masyarakat pada  tuntutan keberadaan formal lembaga, seperti hukum dan peraturan untuk mencapai apa yang disebut governance.

Namun, bagi setiap orang Asia sebagai anggota masyarakat, baik sebagai pelaku ekonomi, maupun birokrasi pemerintahan, ada jiwa ketertiban sosial sekaligus harmoni yang tetap tertanam (built in).   

Bagi birokrasi pemerintah Asia umumnya yang terkait sebagai salah satu pemangku kepentingan (stake holder) makin diperlukan kesadaran dengan menjunjung tinggi apa artinya melayani dengan "makin  baik, makin cepat dan makin murah" (better, faster and cheaper).

Kemudian, mereka diharapkan menjadi pejabat birokrasi dari yang paling senior sampai yang langsung melayani, dalam membangun jaringan kerja dengan memelihara muka yang tulus dan rasa saling mempercayai, walapun awalnya perlu pengorbanan waktu, energi dan biaya dengan tetap menghayati ketertiban sosial dan harmoni (social order and harmony). Ini pula makna sebutan pamong praja yang sejatinya diharapkan bangsa Indonesia dari pejabat birokrasinya.

Bagi masyarakat Asia dalam realita sulit kiranya hanya menggantungkan diri pada pengertian proses rasional komunikasi dalam  bentuk tatap muka dan tulisan. Proses berjaringan kerja masyarakat yang harus makin lancar karena terbentuknya hubungan emosional dengan rasa berkewajiban. Itulah yang dihayati sebagai kehidupan dalam masyarakat berjaringan kerja.   

Mineo Nakajima, guru besar International Relation and Contemporary Studies di Tokyo University dalam "Confucian Capitalism: Challenge to Global Economy" menyebut adanya lima kebajikan utama dalam Jepang moderen, yakni 1. murah hati (benevolence), 2. sikap berkewajiban (obligation), 3. ritual, 4. kebajikan, dan 5. sikap mempercayai/taat.

Dari ke lima kebajikan, menurut Nakajima, yang  harus dijunjung tinggi adalah kewajiban antar-sesama disusul dengan ketaatan. Dalam  pengamatannya, tidak ada yang istimewa dalam jin-miyaku atau guanxi, karena yang diperlukan adalah konsistensi, keuletan dan sikap jujur dalam memegang janji. Pengoperasian bisnis dalam lingkungan yang makin terbuka dan moderen justru membutuhkan kesadaran beretika.

Sarana moderen, layaknya jaringan berkomputer (Internet) dengan berbagai fasilitasnya, serta transportasi yang makin efektif dan efisien merupakan  pendukung bagai pelumas proses interaksi. Belakangan ini, pelaku bisnis negara Barat pun menilai betapa rasionalnya jejaring sosial ala Asia. Mereka mulai sadar menghargai manusia Asia, sekalipun membutuhkan pengorbanan dalam  sikap pandang tersebut.

Dalam proses negosiasi sekaligus interaksi, sadar atau tidak sadar, adanya enam tahapan memahami lawan bicara, apalagi bila melibatkan penerjemah bahasa. Pertama, sikap menjadi pendengar yang penuh perhatian (tidak melantur ke mana-mana) dan menghargai  perilaku lawan bicara yang tiada kaitannya dengan negosiasi formal.

Kedua, melakukan tukar-menukar pokok-pokok informasi yang ada kaitannya dengan  tujuan negosiasi. Ketiga, menjelaskan isi dan maksud informasi yang disajikan sebelumnya atau pada saat proses negosiasi. Keempat melalui pendekatan formal maupun personal mencari titik-titik temu. Kelima mencapai kesekapatan awal dengan saling memberi penjelasan. Keenam menetapkan jadwal waktu dan rangkaian tahapan umpan balik pelaksanaan pokok-pokok kesepakatan tertulis.

Walaupun di Asia, masyarakatnya mengenal istilah manajemen dengan struktur organisasi, sistem dan staffing, serta pengawasan jadwal implementasinya yang berasal sering diklaim dari Barat memang makin diserap. Dalam realitanya, tindakan "mengatur" di Asia tetap situasional dan tidak universal. Manajemen dalam organisasi besar maupun menengah sampai yang kecil dalam konteks ketertiban sosial dan harmoni.

Model manajemen China dan Asia umumnya memiliki landasan nilai-nilai tradisionalnya, meskipun dalam proses memasuki era keterbukaan globalisasi terdapat integrasi sekaligus asimilasi pemikiran lokal maupun yang berasal dari barat, seperti kelenturan, penyerapan proses menerima berbagai hal baru dan menghargai waktu (just in time) maupun "menjaga muka".

Kalau para pelaku ekonomi dan wirausahawan muda di Indonesia mengkaji sejarah politik, sosial dan budaya bangsa China, Jepang, Korea dan tetangga ASEAN, maka terungkap pergeseran-pergeseran dalam budaya yang menghasilkan sikap yang makin menghargai moderninasi ala Barat tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang sudah mengakar dalam dirinya. Di sini, semua pihak secara setara ditantang untuk terus belajar tanpa merasa diindoktrinasi.  

Memang masih adanya pengawasan dalam organisasi yang terbatas oleh sekelompok kecil orang dalam yang biasanya anggota keluarga atau "orang dalam". Repotnya, kalau sampai terjadi kekurangmatangan dalam proses pengawasan sekaligus menghargai waktu (just in time).

Proses membuka diri dan langkah menuju modernisasi dalam manajemen bukan westernisasi, tetapi menggerakkan anggota organisasi secara berkesinambungan belajar kemajuan penerapan teknologi informasi dan komunikasi, serta teknologi industri, jasa sekaligus informasi dari sesama Asia dan Barat.

Berbagai hal ini memperlihatkan kemampuan Asia menyerap nilai-nilai Barat yang awalnya bisa dinilai "keras" dalam manajemen, termasuk berjaringan kerja diseimbangkan dengan  nilai-nilai yang "lunak", tapi tidak mudah menyerah. Pelaku manajemen Barat, atau dari Asia yang kebanyakan menyerap karena pendidikan kebarat-baratan, banyak yang membawakan perilaku keras tanpa kompromi dalam ambisi, agresif, orentasi prestasi sesuai tujuan, walupun berisiko gagal dalam persaingan.  

Barat mengoperasikan tujuan organisasinya dengan kultur yang menonjolkan sikap rasional, yang dalam situasi gagal menonjolkan rasa bersalah (guilt culture), sedangkan Asia lebih memperlihatkan sikap rasa malu (shame culture) berbuat kecerobohan dan kesalahan dalam manajemen pemasaran dan keuangan.

Masyarakat Asia, apalagi China, secara prinsip menghindari konflik. Apalagi, mereka enggan bersaing secara frontal. Tanpa banyak pencitraan diri, mereka lebih menyukai pendekatan melalui tatap muka dan negosiasi langsung, yang belakangan ini didahului dengan komunikasi melalui telepon, sarana Internet yang disebut media jejaring sosial. Tampaknya ada urutan untuk bekerja dalam organisasi ke dalam maupun keluar, baik bisnis maupun organisasi sosial, yakni hubungan interpersonal, disusul dengan logika dan penerapan aturan yang diterima bersama.

Bagi para pemimpin dan manajemen mulai dari puncak, menengah sampai ke bawahan tentu saja memerlukan sikap pandang tiada akhirnya dalam belajar (there is no end in learning). Belajar bersama dalam kelompok-kelompok lintas fungsional --tidak lebih dari lima anggota tiap kelompoknya-- secara teratur dengan pengorbanan tanpa bersikap mencari-cari pencitraan diri, dan tanpa lekas bosan merupakan langkah yang berkesinambungan menuju kematangan diri masing-masing. Inilah proses membangun jiwa kewirausahaan aktual. (*)

*) Bob Widyahartono MA (bobwidya@cbn.net.id) adalah pengamat ekonomi dan manjemen bisnis Asia; Lektor Kepala di Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara (FE Untar) Jakarta.

Oleh Oleh Bob Widyahartono *)
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2011

BI rangsang jiwa wirausaha kaum milenial

Komentar