Jakarta (ANTARA) - Semua pabrikan besar otomotif dunia mulai menggenjot produksi serta pemasaran mobil listrik, dan rasanya kebanyakan konsumen juga menginginkannya, cuma harga yang masih mahal dibanding mobil konvensional membuat konsumen berpikir dua kali untuk membeli.

Belum lagi persoalan masih minimnya infrastruktur pendukung, utamanya pengisian daya listrik umum, di jalur-jalur utama. Sejauh ini baru ada beberapa di DKI Jakarta dan sekitarnya, padahal ini perlu ada di seluruh wilayah Indonesia.

Baca juga: IT PLN lakukan tiga langkah besar untuk hasilkan SDM berkualitas

Mengesampingkan dulu soal kesiapan infrastruktur, hal lain yang perlu masyarakat ketahui saat ini, salah satunya adalah "mengapa mobil listrik mahal?" Apa yang membuat mobil listrik lebih mahal dibanding kendaraan bermesin pembakaran konvensional?

Menurut studi Financial Times, mobil listrik akan "jauh lebih mahal" bagi pembuat mobil Eropa untuk memproduksinya ketimbang model pembakaran internal sampai setidaknya satu dekade (10 tahun) ke depan.

Meskipun total biaya produksi mobil listrik kompak akan turun lebih dari seperlima pada 2030 menjadi 16.000 euro (Rp254 juta), itu masih 9 persen lebih tinggi daripada mobil bensin atau diesel yang sebanding (di kelasnya), menurut data yang dikumpulkan Oliver Wyman untuk Financial Times.

Biaya pembuatan mobil pembakaran internal diperkirakan tidak akan turun banyak, tetapi mobil itu sendiri semakin mahal karena pembeli menuntut "interior mewah dan bahan yang bersumber lebih berkelanjutan" atau ramah lingkungan, kata para pengamat.

Mobil listrik memang pada saatnya akan mencapai paritas harga dengan model pembakaran internal, hanya saja tidak segera, menurut penelitian tersebut.

Baca juga: Pesona deretan mobil baru di IIMS Hybrid 2022, ini daftarnya

Pasar EV

Penjualan mobil listrik (electric vehicle/EV) pada 2021 mencapai 6,75 juta unit, naik 108 persen dibanding 2020, menurut laporan EV Volume. Sementara Statista melaporkan angka sedikit berbeda, yakni 6,6 juta unit, lebih dua kali penjualan 2020 yang berkisar 3 juta unit.

Volume 6,75 juta, laporan EV Volume itu, mencakup kendaraan penumpang, truk ringan, dan kendaraan niaga ringan. Pangsa global EV berbasis baterai dan plug-in hybrid (BEV & PHEV) dalam penjualan kendaraan ringan global adalah 8,3 persen dibandingkan 4,2 persen pada 2020.

BEV mencapai 71 persen dari total penjualan EV, PHEV sebesar 29 persen. Pasar mobil global meningkat hanya 4,7 persen selama tahun krisis 2020. Seperti pada 2020, EV kembali tahan terhadap kemunduran dalam permintaan dan pasokan mobil.

Pertumbuhan mobil listrik memang menggembirakan di tengah pasar mobil global yang relatif stagnan pada 2020 akibat pembatasan dan dampak langsung COVID-19, tapi pada 2021 kembali pada tren yang baik.

China khususnya mengalami tahun terobosan pada 2021, dengan penjualan hampir tiga kali lipat dari 1,2 juta menjadi 3,4 juta unit mobil listrik, menurut Statista.

Baca juga: Hyundai kenalkan mobil listrik Ioniq 5 buatan pabrik Cikarang
Mobil listrik Hyundai Ioniq 5 yang juga sudah diluncurkan di Indonesia. (ANTARA/Hyundai)
Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
Copyright © ANTARA 2022