Kolaboratif-adaptif didorong untuk perikanan tangkap berkelanjutan

Kolaboratif-adaptif didorong untuk perikanan tangkap berkelanjutan

Peserta pertemuan finalisasi draft  modul pelatihan perikanan "Menuju Pengelolaan Untuk Perikanan Tangkap Yang Berkelanjutan" yang diselenggarakan bersama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University bersama MSC Indonesia pada pertengahan Maret 2022. (FOTO ANTARA/HO-MSC Indonesia)

Ciri kolaboratif perlu ditonjolkan karena pemangku kepentingan terkait perlu dilibatkan untuk mengambil peran dan berkontribusi, sedangkan ciri adaptif perlu diwujudkan karena pengelola harus menghadapi ketidakpastian
Bogor (ANTARA) - Penggunaan istilah pengelolaan perikanan yang kolaboratif dan adaptif didorong untuk bisa dipakai pada pertemuan finalisasi Modul Pelatihan Perikanan Tangkap Berkelanjutan yang dilaksanakan di FPIK IPB University.

"Tim penulis modul banyak mendapat saran untuk menyempurnakan dari para 'reviewer'," kata Direktur Program Marine Stewardship Coucil (MSC) Indonesia, Hirmen Syofyanto dalam taklimat media yang diterima ANTARA di Bogor, Jawa Barat, Rabu.

Ia menjelaskan istilah tersebut mencuat pada pertemuan pembahasan dan finalisasi draft modul pelatihan perikanan "Menuju Pengelolaan Untuk Perikanan Tangkap Yang Berkelanjutan" yang diselenggarakan bersama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University bersama MSC Indonesia pada pertengahan Maret 2022.

Pertemuan itu merupakan lanjutan dari diskusi tanggal 21 Desember 2021 di Bogor yang diselenggarakan secara hybrid.

Seperti pertemuan sebelumnya, diskusi dihadiri oleh berbagai representatif kalangan terkait dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Politeknik AUP, MSC, Asosiasi Perikanan Pole and Line dan Handline Indonesia dan Yayasan WWF Indonesia.

Pembahasan draft modul ini diawali dengan pemaparan umum struktur dan substansi bahan pelatihan serta kelompok sasaran dan dilanjutkan dengan pembahasan per bagian modul.

Tim penulis modul banyak mendapat saran untuk menyempurnakan dari para "reviewer".

Salah satu saran tersebut adalah mendorong penggunaan istilah pengelolaan perikanan yang kolaboratif dan adaptif dimaksud.

Ciri kolaboratif perlu ditonjolkan karena pemangku kepentingan terkait perlu dilibatkan untuk mengambil peran dan berkontribusi sehingga pengelolaan akan efektif.
Sedangkan ciri adaptif perlu diwujudkan karena pengelola harus menghadapi ketidakpastian yang disebabkan antara lain oleh keterbatasan pengetahuan tentang dinamika sumberdaya perikanan, lingkungan perairan serta perilaku para pemangku kepentingan pemanfaat sumber daya ikan.

"Semangat berbagai pihak di Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya ikan secara berkelanjutan, perlu diimbangi dengan pengetahuan yang cukup dan sikap yang bijaksana serta keterampilan yang mumpuni," katanya.

Ia mengatakan modul ini diharapkan menjadi pedoman yang dapat diimplementasi hingga mencapai target utamanya, yaitu perikanan yang berkelanjutan.

Kegiatan itu dibuka oleh perwakilan dari Dekanat FPIK IPB University Dr Muhammad Fedi A Sondita, MSc, yang juga Manajer Proyek Penyusunan Modul Perikanan Berkelanjutan dari IPB University.

Sedangkan sambutan perwakilan Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan Dirjen Perikanan Tangkap KKP disampaikan oleh Aris Budiarto, S.Pi, M.Si.

Sementara arahan disampaikan Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan BRSDM-KP dari KKP Dr Lilly Aprilya Pregiwati, yang sebelumnya diberi pengantar Direktur Program MSC Indonesia Hirmen Syofyanto.

Baca juga: Gandeng IPB, MSC susun modul pelatihan standar perikanan berkelanjutan

Baca juga: MSC-KKP kolaborasi perbaikan perikanan berkelanjutan di lima wilayah

Baca juga: Pakar IPB: Standar perikanan MSC harus diimplementasikan "stakeholder"

Baca juga: KKP gandeng MSC gelar bimtek standar global perikanan berkelanjutan


 

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar