counter

Penghuni gedung BEI panik gara-gara alarm

Penghuni gedung BEI panik gara-gara alarm

(ANTARA/ANDIKA WAHYU)

Jakarta (ANTARA News) - Kesalahan tanda bahaya kebakaran di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat memicu penghuni gedung itu panik dan berhamburan keluar.

Ratusan orang dalam waktu hampir bersamaan antri, baik di depan lift maupun di tangga darurat. Mereka turun dengan tergesa dan sedikit panik setelah mendengar alarm tanda bahaya berbunyi beberapa kali.

Situasi semakin kacau tatkala para penjaga keamanan BEI mengevakuasi seluruh penghuni gedung.

"Kalau bunyinya hanya sekali kita bisa tenang. Nah ini sudah berkali-kali. Daripada terjadi apa-apa, kita keluar saja dulu. Biar aman," ujar salah satu karyawan PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI) di Jakarta, Jumat, seraya berlari menuju tangga darurat.

Alarm tanda bahaya tidak hanya menyala di satu lantai atau beberapa lantai, namun di seluruh lantai gedung BEI.

"Laporan kebakaran diterima sekitar pukul 11.15 WIB, kami yang di dalam gedung segera diminta keluar gedung oleh pihak security kantor kami," kata karyawan KPEI itu.

Beberapa menit kemudian, terdengar pengumuman dari suara pengeras gedung bahwa telah terjadi kesalahan dalam sistem tanda bahaya gedung.

"Kepada pengunjung dan penghuni gedung, diberitahukan bahwa telah terjadi kesalahan alarm tanda bahaya. Kepada seluruh pihak diharapkan tidak panik dan kami mohon maaf atas kesalahan dan ketidaknyamanan tersebut," demikian petugas dari suara pengeras itu.

Sarah dari manajemen gedung BEI mengatakan, tanda bahaya yang keluar itu merupakan kesalahan teknis. "Setiap lantai di gedung bursa menyala semua, teknisi sedang memperbaiki, yang pasti tidak terjadi apa-apa," ujarnya.

Meski terjadi insiden itu, perdagangan saham tidak terhenti. "Perdagangan masih berjalan seperti biasa, tidak berubah dibanding hari biasa," kata salah seorang pelaku pasar di BEI, Alex Marco.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama ditutup naik 86,79 poin ke posisi 3.792,60.(*)

KR-ZMF/B012

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2011

Komentar