Jakarta (ANTARA) - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melihat Indonesia menghadapi sejumlah tantangan dalam pengembangan masyarakat, salah satunya adalah adopsi masyarakat.

"Sejauh ini, sudah banyak regulasi dari pemerintah untuk mendorong percepatan kendaraan listrik. Tapi, yang jauh lebih penting adalah adopsi kendaraan oleh masyarakat," kata Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, saat acara diskusi "Pengembangan Mobil Listrik Berbasis Baterai" di Jakarta, Rabu.

Saat ini mobil listrik sudah beredar di Indonesia. Tapi, belum diimbangi dengan daya beli masyarakat.

Data Gaikindo menunjukkan 70 persen konsumen roda empat mencari kendaraan pada kisaran harga Rp300 jutaan. Sementara itu, harga mobil listrik jauh lebih mahal, rata-rata di atas Rp 500 juta.

Konsumen dengan daya beli masyarakat untuk kelas harga tersebut, menurut Gaikindo, kurang dari 1 persen.

Adopsi masyarakat juga berkaitan dengan perubahan kebiasaan dari mobil konvensional ke mobil listrik. Perubahan kebiasaan ini adalah hal yang alamiah, sejalan dengan kemajuan teknologi industri otomotif.

Misalnya, masyarakat pernah mengalami transisi dari transmisi manual ke otomatis (matic). Pada mobil listrik, kebiasaan yang berubah adalah soal pengisian daya.

Pada mobil konvensional mengisi bensin mungkin memerlukan waktu sekitar 10 menit. Sementara mengisi ulang daya mobil listrik, bisa jadi memakan waktu yang lebih lama. Selain itu, di mana mengisi daya mobil juga menimbulkan pertanyaan lagi.

Ketika mengendarai mobil listrik, konsumen juga harus memperhatikan jarak tempuh karena jangkauan jarak kendaraan listrik masih rendah dibandingkan dengan mobil konvensional.

Dengan segala tantangan yang ada, Gaikindo optimistis kendaraan listrik bisa berkembang di Indonesia. Hal pertama yang membuat mereka merasa optimistis adalah Indonesia merupakan negara penghasil nikel terbesar dunia, bahan baku baterai kendaraan listrik.

Bloomberg NEF memproyeksikan dominasi mobil listrik, secara global, akan terjadi pada 2035. Industri otomotif Indonesia, menurut Kukuh, tumbuh dan berkembang pada masa sulit ini.

Kapasitas produksi pabrik otomotif Indonesia, menurut Gaikindo, sekitar 2,4 juta unit per tahun. Sebelum pandemi, kapasitas yang terpakai baru 54 persen, atau sekitar 1,4 juta unit.

Saat ini, pada masa pandemi, kapasitas produksi yang digunakan baru 47 persen.

Baca juga: Harga mahal tantangan utama pengembangan industri kendaraan listrik

Baca juga: Ferrari luncurkan model hybrid konvertibel 296 GTS

Baca juga: Volvo investasi di StoreDot untuk keperluan baterai mobil listrik
Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2022