Medan (ANTARA News) - Kondisi hutan bakau (mangrove) di sepanjang pesisir Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, kini kian kritis dan belum ada upaya penanaman kembali secara maksimal dan menyeluruh.

"Lahan hutan bakau di sepanjang pinggir pantai Serdang Bedagai semakin kritis," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Serdang Bedagai, Aminullah, kepada ANTARA News di Medan, Sabtu.

Kerusakan hutan bakau mangrove di Serdang Bedagai akibat aktifitas penebangan secara liar dan tanpa kendali selama belasan tahun terakhir.

Lahan bekas hutan bakau tersebut semula banyak dialihfungsikan untuk areal tambak udang.

Namun, ia mengemukakan, sejak lima tahun terakhir sebagian besar usaha tambak udang di sepanjang pesisir Serdang Bedagai sudah tidak ada lagi karena pengusahanya merugi.

Dia memperkirakan, total luas hutan bakau di Serdang Bedagai saat ini hanya sekitar lima persen dari sekitar 90 kilo meter panjang garis pantai di kabupaten yang menghadap ke Selat Malaka itu.

Kawasan hutan bakau yang masih tersisa hanya terdapat di sebagian pesisir Kecamatan Teluk Mengkudu.

Aminullah mengakui bahwa kondisi hutan bakau yang kian memprihatinkan menjadi salah satu faktor penyebab semakin berkurangnya populasi ikan di perairan Serdang Bedagai.

"Populasi ikan di perairan Serdang Bedagai semakin berkurang. Kondisi ini ikut berdampak buruk bagi hasil tangkapan nelayan tradisional," ujarnya.

Sementara itu, jumlah nelayan tradisional di daerah itu yang mengandalkan sumber penghasilan dari melaut diperkirakan mencapai lebih dari 12.000 orang.

Untuk mengatasi kerusakan hutan di wilayah itu, dia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai agar menggiatkan program reboisasi bakau.

"Penanaman hutan bakau hendaknya bisa segera direalisasikan guna mengatasi ancaman abrasi air laut dan meningkatkan populasi ikan di perairan Serdang Bedagai," ujarnya.
(T.ANT-197)

Editor: Priyambodo RH
Copyright © ANTARA 2011