PLRT di Malaysia disiram minyak panas oleh majikannya

PLRT di Malaysia disiram minyak panas oleh majikannya

Penata laksana rumah tangga (PLRT) asal Kendal, Jawa Tengah, Tina binti Ngatemin (26), menunjukkan bekas luka-luka yang diduga akibat disiksa dan disiram minyak panas oleh majikannya di Malaysia, Selasa (29/11). (FOTO ANTARA/Aulia Badar)

Kuala Lumpur (ANTARA News) - Tina binti Ngatemin (26), penata laksana rumah tangga (PLRT) asal Kendal, Jawa Tengah, mengalami penderitaan panjang karena diduga disiksa majikannya di Malaysia hingga sebagian badannya luka-luka bekas disiram air panas dan pukulan benda keras.

"Badan saya luka-luka karena disiram minyak panas. Dua gigi saya copot karena digetok sama sendok sayur. Bahkan, bibir dan kepala saya juga berdarah akibat dipukul oleh mereka," kata Tina saat menuturkan kejadian yang dialaminya kepada ANTARA di Kuala Lumpur, Selasa.

Dijelaskannya, perlakuan kasar itu dilakukan satu keluarga mulai ibu, bapak, anak, cucu, bahkan menantunya. Khususnya anak perempuan mereka yang paling tua sering memukul saya, terutama setelah dia menikah.

"Ini luka-luka di tangan saya juga bekas dipukul dia dengan menggunakan sendok masak yang besar," ungkapnya.

Menyinggung majikan perempuan (ibu mereka), Tina mengatakan, "Dialah yang menyiram minyak panas ke badan saya  pada saat sedang membantu menggoreng donat di dapur."

"Tiba-tiba ibu naik angin (marah besar) dan dia siram saya dengan minyak panas," ungkapnya dengan menjelaskan bahwa majikannya adalah pedagang pisang goreng.

Ia menuturkan bahwa dirinya bekerja di majikan tersebut sudah hampir satu tahun setelah dijual oleh tekong (calo) dengan harga RM 1.400. "Tekong itu adalah bekas majikan saya yang punya usaha menjual bakso," terangnya.

Pada saat mulai bekerja di rumah tersebut sekitar November 2010, dia tidak mengalami penyiksaan. Selama bekerja di sana, di samping membantu bersih-bersih rumah, dirinya juga ikut membantu majikannya berjualan pisang goreng.

Ironisnya, Tina sejak bekerja dengan keluarga tersebut selama satu tahun belum pernah menerima gajinya.

"Saya dulu dijanjikan gaji sebesar 600 ringgit per bulan. Tapi selama satu tahun kerja dengan mereka, belum pernah menerima gaji," ungkapnya.

Tina mengaku, selama empat bulan terakhir sering disiksa karena dianggap kerjanya tidak betul. Karena sudah tidak tahan sering disiksa, pada 4 November 2011, dia kabur dari rumah majikannya ke tempat teman dan selanjutnya dibawa ke rumah sakit untuk diobati.

Dari informasi yang diterima, pihak dokter rumah sakit kemudian melaporkan kejadian tersebut ke kantor polisi dan selanjutnya dilakukan penangkapan kepada keluarga itu.

Menurut sumber dari KBRI KL, saat ini tujuh orang anggota keluarga tersebut, yaitu anak dan menantu sudah ditangkap dan kasusnya sedang diproses oleh pihak kepolisian Shah Alam, Selangor.

Namun, ibu dan bapak serta cucunya belum tertangkap karena sempat melarikan diri. Kini mereka masih dalam pengejaran.


Menyayangkan

Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Mulya Wirana, menyayangkan kejadian tersebut, dan berharap pihak kepolisian setempat melakukan tindakan cepat dengan memprosesnya secara hukum yang berlaku.

"Saat ini, KBRI terus melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian Malaysia, terutama agar kasus tersebut cepat diselesaikan dengan memprosesnya secara hukum yang berlaku," ungkapnya.

Sebagai bentuk perlindungan kepada WNI, saat ini Tina ditampung di shelter di KBRI KL terutama untuk memberikan pengobatan agar luka-lukanya bisa cepat sembuh, termasuk membantu menyelesaikan pengurusan gaji yang tidak dibayarkan oleh majikannya.

(N004/M026)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2011

133 pekerja migran ilegal dipulangkan ke Tanjungbalai

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar