delay sistem yang dijalankan oleh pihak kepolisian, cukup membantu agar tidak terjadinya kepadatan
Bandarlampung (ANTARA) - Mudik tahun 2022 menjadi salah satu momen yang mungkin sangat dinanti oleh ratusan ribu masyarakat Indonesia khususnya bagi mereka umat Muslim yang berada di perantauan, karena dalam dua tahun ke belakang pemerintah melarang kegiatan tahunan tersebut akibat Wabah COVID-19.

Kegiatan mudik masyarakat secara serentak ke kampung halaman dalam setahun sekali ini pun identik dengan meningkatnya aktivitas manusia dan kepadatan kendaraan roda empat maupun dua di simpul-simpul transportasi, seperti bandara, stasiun kereta api, terminal bus dan juga pelabuhan penyeberangan. Bahkan tak jarang momen mudik menyebabkan kemacetan panjang pada arus lalu lintas menuju ke simpul-simpul transportasi tersebut.

Pada mudik Lebaran 2022, khususnya di Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni, Lampung Selatan terbilang lancar, tidak terjadi penumpukan kendaraan setelah kedatangan ratusan ribu pemudik yang datang secara bergelombang dari Pulau Jawa menuju Sumatera. Tentunya hal tersebut bukan menjadi permasalahan bagi pelabuhan penerima kedatangan pemudik.

Namun, dengan datangnya musim mudik, sudah pasti akan ada gelombang arus balik Lebaran, bahkan dikhawatirkan jumlah orang dan kendaraan yang akan kembali ke Pulau Jawa dari Pulau Sumatera melebihi dari kedatangan mereka ke Pulau Sumatera.

Baca juga: H+4 Lebaran, 18.770 kendaraan kembali ke Jawa lewat Tol Trans Sumatera
Baca juga: Kapolda Jambi tinjau dan pastikan Jalintim Sumatera Jambi-Riau lancar

Antisipasi arus balik

Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni sebagai salah satu pintu masuk dan keluar Pulau Sumatera, menjadi atensi bagi pemangku kepentingan agar arus balik Lebaran dapat berjalan lancar dengan tidak menimbulkan kemacetan panjang pada arus lalu lintas menuju simpul transportasi tersebut.

Sebelum menuju puncak arus balik yang diprediksikan pada tanggal 6,7, dan 8 Mei 2022, pemerintah dan pihak kepolisian terus melakukan koordinasi guna menemukan skema antisipasi yang tepat untuk mengurai kendaraan yang akan menuju ke Pelabuhan Bakauheni.

Sebab, potensi kepadatan kendaraan di Pelabuhan Bakauheni pada arus balik Lebaran sangat besar, karena terdapat dua jalur masuk menuju ke pelabuhan penyeberangan tersebut yakni Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan arteri yang dapat menimbulkan kemacetan panjang.

Kapolda Lampung, Irjen Pol Hendro Sugiatno, yang terlihat sibuk sejak masa mudik hingga menuju arus balik guna memantau kesiapan Pelabuhan Bakauheni untuk menerima kedatangan pemudik yang akan kembali ke Pulau Jawa mengungkapkan bahwa telah menggelar rapat bersama PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Bakauheni dan Dinas Perhubungan terkait masalah teknis arus balik Lebaran.

Sejumlah skema pun dipaparkan oleh Kapolda Lampung tersebut, seperti menggunakan delay sistem di jalan tol, yakni menjadikan rest area di JTTS sebagai tempat penampungan sementara kendaraan menuju Bakauheni apabila terjadi kepadatan di pelabuhan. Di rest area tersebut pun pemudik yang belum memiliki tiket dapat membelinya karena sudah disiapkan loket-loket pembeliannya.

Sementara, skema antisipasi arus balik untuk di jalan arteri yang lebih banyak dilalui kendaraan roda dua, akan disiapkan pintu masuk tersendiri guna menuju ke pelabuhan sehingga tidak bercampur dengan roda empat di pintu tol  menuju dermaga.

Pemudik pun disarankan telah memiliki tiket sebelum sampai di pelabuhan, sehingga tidak terjadi antrean dan saling tunggu di loket tiket di Bakauheni. Dan apabila di dermaga eksekutif terjadi kepadatan kendaraan maka akan digeser ke dermaga reguler yang kosong.

Diketahui Pelabuhan Bakauheni memiliki 7 dermaga dengan 1 dermaga eksekutif dan 6 lainnya dermaga reguler yang siap melayani penyeberangan ke Pulau Jawa.

Kemudian, skema antisipasi arus balik lainnya dengan menambah dermaga penyeberangan dan menyiapkan kapal penyeberangan di Pelabuhan Panjang, Kota Bandarlampung dan juga Pelabuhan Bandar Bakau Jaya (BBJ), Kabupaten Lampung Selatan.

Baca juga: 13 orang meninggal kecelakaan lalu-lintas arus balik di Sumatera Barat
Baca juga: Menhub: Baru 40 persen kendaraan balik ke Pulau Jawa dari Sumatera

Arus balik lancar

Arus balik di Pelabuhan Bakauheni dapat dikatakan lancar. Sebagaimana tanggal yang diprediksikan menjadi puncak arus mudik yakni 6, hingga 8 Mei 2022, arus kendaraan di Pelabuhan Bakauheni terlihat padat hingga menimbulkan kemacetan kurang lebih satu kilometer terjadi pada Sabtu (7/5) atau H+4.

Namun begitu, kepadatan kendaraan pada puncak arus mudik segera teratasi, Sebab pada H+5 kepadatan kendaraan yang menimbulkan kemacetan pada jalan tol dan arteri yang menuju langsung pintu masuk sudah tidak terjadi lagi di Pelabuhan Bakauheni.

Direktur Utama ASDP Indonesia Ira Puspadewi menyatakan puncak arus balik dari Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa melalui jalur laut terjadi pada Sabtu (7/5) malam, dengan 61.961 pemudik telah bertolak menuju Pelabuhan Merak, Banten.

Ia mengungkapkan hingga H+6 kurang lebih telah 71,5 persen atau 147 ribu pemudik telah bertolak ke Pulau Jawa dari Bakauheni. Dari data yang dilaporkan tersebut pada puncak arus balik tak terjadi penumpukan kendaraan yang berlangsung lama.

"Skema antisipasi delay sistem yang dijalankan oleh pihak kepolisian, cukup membantu agar tidak terjadinya kepadatan atau penumpukan kendaraan di Pelabuhan Bakauheni," kata dia.

Baca juga: Seluruh kendaraan menuju Bakauheni diarahkan ke Rest Area KM 20B
Baca juga: Kakorlantas: Arus balik kendaraan Sumatera-Jakarta turun 20 persen


Delay sistem

Ada fenomena menarik pada arus balik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni, menurut Kepala Pusat Riset dan Inovasi Metropolitan, Institut Teknologi Sumatera (Itera) Dr Eng Ir IB Ilham Malik.

Pada arus balik di Pelabuhan Bakauheni, tidak ada persoalan akut penumpukan kendaraan seperti yang dialami oleh Pelabuhan Merak pada masa mudik.

Kemacetan ribuan kendaraan yang melanda hingga berjam-jam di Pelabuhan Merak, semula memunculkan kekhawatiran bahwa akan terjadi juga di Pelabuhan Bakauheni. Tetapi hal tersebut tidak terjadi.

Sebelumnya, Akedemisi Itera ini memperkirakan ada dua penyebab utamanya kenapa tidak terjadi penumpukan kendaraan seperti di Merak pada arus balik di Bakauheni.

Pertama kapasitas antrean kendaraan di Pelabuhan Bakauheni lebih besar dari Merak sehingga tidak ada kendaraan mengantre mengular hingga ke jalan tol dan arteri. Tetapi hipotesis ini ternyata tidak terbukti karena menurut laporan bahwa tidak ada antrean besar di dalam kawasan pelabuhan dan apalagi antrian yang mengular.

Beberapa video media dan juga dari masyarakat tidak menginformasikan hal itu dan kapal mampu mengangkut semua kendaraan yang datang dan semua berjalan biasa saja.

Kedua, terdapat distribusi kendaraan ke Pelabuhan Panjang, sehingga beban angkut di Pelabuhan Bakauheni menjadi terbantu signifikan dengan beroperasinya angkutan kapal di Pelabuhan Panjang. Namun hipotesis ini kembali tidak terbukti karena ternyata jumlah kendaraan dan penumpang yang terangkut melalui Pelabuhan Panjang sama sekali tidak signifikan jika dibandingkan dengan beban yang dialami oleh Pelabuhan Bakauheni.

Meskipun tentunya, hal ini membantu, tetapi angkanya sama sekali tidak signifikan jika dibandingkan dengan volume kendaraan maupun orang yang dilayani oleh Pelabuhan Bakauheni.

Data yang dikeluarkan oleh ASDP pun memberikan gambaran bahwa ternyata beban puncak penyeberangan telah terjadi di Bakauheni yang angkanya di atas angka beban puncak Pelabuhan Merak. Jika beban puncak di Merak mencapai 37.692 unit kendaraan 29 April 2022, di Pelabuhan Bakauheni lebih tinggi dari itu yaitu 38.945 unit kendaraan 7 Mei 2022.

Menurutnya, penumpukan kendaraan di Bakauheni dapat terkendali pada arus balik karena adanya kebijakan delay sistem oleh pihak kepolisian dari jajaran Polda Lampung. Kebijakan ini memberikan pengaruh besar pada kelancaran arus mudik di ruas jalan tol, arteri dan di Pelabuhan Bakauheni.

Polda Lampung menyampaikan bahwa mereka menjadikan semua rest area aktif di sepanjang ruas jalan tol di Lampung yang mengarah ke Bakauheni sebagai tempat penampungan sementara kendaraan yang akan menuju ke Jawa.

Pengendara “dipaksa” mampir untuk beristirahat di sana. Lalu di tiga rest area yang terdekat dengan Pelabuhan Bakauheni, semua kendaraan diperiksa, apakah sudah memiliki tiket yang terakses ke aplikasi ferizy atau belum.

Pemeriksaan ini akhirnya membuat arus kendaraan tertunda dan mengantri di rest area, sehingga tidak semuanya mengalir bersamaan ke Bakauheni, namun ribuan kendaraan tersebut menumpuk di rest area yang telah ditetapkan oleh aparat kepolisian.

Pendekatan pengendalian volume kendaraan yang mengalir ke Pelabuhan Bakauheni ini merupakan pendekatan menarik dan sangat layak diapresiasi.

"Saya kira hipotesis ketiga ini yaitu penerapan sistem penundaan arus ke Bakauheni melalui setiap rest area di tol Lampung merupakan hipotesis yang paling masuk akal untuk memberikan justifikasi soal kenapa Pelabuhan Bakauheni tidak mengalami persoalan seperti yang dialami pemudik di Pelabuhan Merak," kata dia.

Menurut pengamat transportasi itu, Polda Lampung, Dishub dan Hutama Karya (HK) sebagai pengelola jalan tol Lampung, telah mengambil terobosan kebijakan penanganan masalah arus balik dengan sangat apik, sehingga tidak di Bakauheni tidak ada masalah yang menjadi atensi besar seperti di Merak.

Pendekatan baru dalam setiap persoalan transportasi memang sangat dibutuhkan. Berbagai kebijakan penanganan masalah memang juga harus terus dibuat dan digali dari fenomena dan data yang ada.

Pendekatan penanganan berupa sistem penundaan arus atau delay sistem seperti yang diterapkan Polda Lampung dan jajaran pengelola transportasi mudik, merupakan bagian dari kebijakan penanganan masalah yang berhasil membawa pengaruh signifikan di lapangan.

 Baca juga: Pelaku perjalan dari Sumatera ke Jawa reaktif bakal diisolasi 5 hari

Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2022