Batasi garam sedapat mungkin, kurangi konsumsi alkohol. Lalu olahraga teratur minimal 30 menit per hari
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa penderita hipertensi sebagai salah satu penyakit tidak menular (PTM) terus meningkat di Indonesia.
"Prevalensi hipertensi terus meningkat dari tahun ke tahun. Hipertensi di Indonesia sebesar 34,1 persen tahun 2018, dengan prevalensi tertinggi di Kalimantan Selatan sebesar 44,3 persen dan terendah di Provinsi Papua sebesar 22,2 persen," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Elvieda Sariwati dalam acara Peringatan Hari Hipertensi Dunia yang diikuti di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Penderita diabetes wajib kontrol asupan gula untuk cegah kebutaan
"Hal itu karena penyakit tidak menular tidak ada gejala dan tanda sampai terjadi komplikasi," tuturnya.
Kondisi itu, lanjut dia, menyebabkan pasien datang ke rumah sakit dalam kondisi teridentifikasi memiliki penyakit jantung dan lainnya.
Dari tiga penderita penyakit tidak menular yang terdeteksi tersebut, ia menambahkan, hanya satu orang yang berobat teratur.
Baca juga: Tim SAR Banda Aceh evakuasi WN Filipina dari kapal kargo karena sakit
Ia menyampaikan, hal itu didukung dengan data Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK) tahun 2022, penderita hipertensi yang berobat secara teratur sebesar 27,5 persen.
"Alasan tidak minum obat teratur adalah karena merasa sehat, hipertensi memang tidak bergejala, kalau dibiarkan saja lama-lama bisa terjadi komplikasi, yakni bisa stroke, jantung dan lainnya," tuturnya.
Baca juga: Kemenkes integrasikan riwayat imunisasi anak ke dalam PeduliLindungi
"Itu harus dihindari dengan cara menurunkan tekanan darah pada pasien yang sudah hipertensi," ujarnya.
Ia memaparkan salah satu cara mengendalikan tekanan darah bagi yang sudah hipertensi yakni dengan mengubah gaya hidup sehat dengan atau tanpa terapi obat.
Baca juga: Menkes sebut investigasi hepatitis berkembang cukup baik
Baca juga: Menkes: Penyebaran hepatitis akut tidak seperti pandemi
Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2022
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.