Liwa, Lampung (ANTARA News) - Sebanyak 16 ekor gajah liar keluar dari hutan kawasan kembali mengusik kenyamanan warga Pekon (Desa) Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat.

"Belasan gajah liar kembali mengusik kenyaman warga yang berada di pesisir, kehadiran satwa liar membuat warga yang berada di desa tersebut kembali dirundung ketakutan," kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, melalui Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, Achmad Sutardi di Bengkunat Belimbing, Kamis.

Dia mengatakan, kawanan gajah liar itu dapat mengancam keselamatan warga setempat.

Dia menjelaskan, belasan gajah liar membuat sebagian besar masyarakat yang berada di Desa Pemerihan, Lampung Barat resah.

Menurut dia, konflik gajah dan manusia kerap terjadi di Lampung Barat akibat kerusakan hutan membuat kawanan gajah liar tersebut terusik.

"Tidak dapat dipungkiri, hutan yang ada di Lampung Barat beberapa titik mengalami kerusakan. Hal tersebut dipicu karena ulah oknum untuk kepentingan pribadi, selain itu minimnya pengawasan terhadap kawasan hutan membuat oknum dengan bebas merusak ekosistem hutan yang berdampak terhadap konflik satwa tersebut," kata dia.

Ahmad mengakui, minimnya personel menyebabkan pengawasan hutan di Lampung Barat tidak maksimal.

Menurut Ahmad, kondisi tersebut selayaknya dapat diberikan tindakan oleh pemerintah pusat, sehingga konflik satwa dan manusia tidak akan terjadi di Lampung Barat.

"Konflik satwa liar berkali kali terjadi di Lampung Barat, terutama masyarakat yang berada di pinggiran hutan, namun kondisi tersebut tidak bisa dihindarkan karena lokasi pemukiman masyarakat berada di jalur perlintasan gajah," katanya.

Dia menjelas, pihak Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) mempersiapkan personil berupa pawang gajah dan polisi kehutanan di lokasi tersebut.

Kemudian, lanjut dia, butuh tindakan cepat dari pemerintah pusat untuk mengatasi konflik gajah di Lampung Barat, sehingga kondisi yang terjadi tidak mengancam keselamatan masyarakat.

"Saya berharap pemerintah dapat memperhatikan masalah yang dihadapi di Lampung Barat, terutama konflik satwa dan manusia, semua dapat dicegah asalkan pemerintah dapat membangun fasilitas pengawasan dan personel Polhut," katanya.

Selain itu diimbau pula kepada masyarakat yang berada di Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kawanan gajah liar tersebut, terutama pada malam hari.

Satwa liar seperti gajah terus mengancam masyarakat Lampung Barat yang berada dekat di hutan TNBBS.

Satwa ini kerap menunjukan diri pada masyarakat sehingga membuat masyarakat khawatir sewaktu waktu hewan tersebut masuk dan merusak kembali kampung.

Kewaspadaan kembali ditingkatkan masyarakat, salah satunya dengan menggelar ronda malam, tujuannya saat gajah tersebut memasuki kampung, akan dapat dihalau sejak awal.

Belasan gajah liar yang memasuki area kebun warga terjadi sejak tiga hari yang lalu, dimana terdapat 16 ekor gajah liar memasuki area perkebunan pada malam hari, hingga berita ini di turunkan belasan gajah liar tersebut masih terlihat di perbatasan hutan yang berada dekat di area perkampungan warga.

Petugas setempat hingga kini menyiagakan sekitar empat pawang gajah dan enam polisi kehutanan, guna mengantisipasi terjadinya amukan satwa tersebut.

Beberapa hari lalu, kata dia, kawanan gajah liar tersebut juga merusak dua pondok dan ratusan batang tanaman perkebunan milik warga Pekon Way Haru, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat.

Hampir setiap malam warga yang berada di kawasan itu terus melakukan penyiagaan kampung guna mengantisipasi terjadinya amukan gajah.

Kerusakan hutan dan minimnya personel membuat pengawasan hutan di Lampung Barat tidak maksimal sehingga dibutuhkan tindakan cepat dari pemerintah pusat untuk mengantasi masalah yang terjadi tersebut. (ANT-049/S023)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011