"Sherlock Holmes: a game of shadows", tak baru namun menghibur

 "Sherlock Holmes: a game of shadows", tak baru namun menghibur

-

Ritchie dipuji sejumlah kritikus sebagai mampu menciptakan seorang Holmes yang berbeda dan segar tidak terjebak dalam potret baku seorang detektif berpipa cangklong."
Jakarta (ANTARA News) - "Come at once if convenient - if inconvenient come all the same.."

Sepotong "perintah" singkat itu sesungguhnya merupakan pesan Sherlock Holmes untuk sahabatnya, Dr. John H Watson, sebelum sang detektif menemui musuh bebuyutannya, Profesor James Moriarty di gudang senjatanya di Jerman.

Suatu potongan adegan dalam sekuel film "Sherlock Holmes: A Game of Shadows" besutan sutradara Inggris Guy Ritchie.

Namun sedikit banyak kalimat itu bisa juga dimaknai secara bebas sebagai "pesan rahasia" Ritchie untuk puluhan ribu penggemar berat Sherlock Holmes karya Sir Conan Arthur Doyle agar suka atau tidak suka tetap datang ke bioskop dan menyaksikan filmnya.

Bukan rahasia jika Guy Ritchie menuai protes yang tidak sedikit untuk film Sherlock Holmes yang diluncurkan pada 2009, terutama dari para fans detektif super Inggris itu yang merasa keberatan dengan cara Ritchie menggambarkan hubungan Holmes-Watson yang lebih mirip pasangan daripada rekan kerja atau sahabat.

Sebagian bahkan secara terang-terangan menyebut jika Sherlock Holmes yang mereka saksikan pada 2009 adalah Holmes yang merupakan figmen dari imajinasi Ritchie dan bukannya detektif tanpa tanding karya Doyle.

Tapi Ritchie dengan bangga tetap mempertahankan gayanya untuk sekuel Holmes yang diluncurkan Warner Bros tepat di penghujung 2011 itu.

Film berdurasi 129 menit tersebut memang tidak menawarkan sesuatu yang baru dan betul-betul "hanya" duplikat dari film sebelumnya, mulai dari angle kamera dan gaya "video game" Ritchie hingga ke interaksi antara Holmes dan Dr. Watson --cara mereka adu mulut dengan saling menimpali kalimat satu sama lain di sela-sela perkelahian.

Suatu hal yang disayangkan untuk sebuah sekuel yang harus ditunggu dua tahun kemunculannya. Namun, untungnya hal itu tidak mengurangi kualitas "Sherlock Holmes: A Game of Shadows" karena Ritchie terbilang sukses di film pertamanya, terlepas dari reaksi para fans Sherlock Holmes versi novel tentunya.

Ritchie dipuji sejumlah kritikus sebagai mampu menciptakan seorang Holmes yang berbeda dan segar tidak terjebak dalam potret baku seorang detektif berpipa cangklong.

Mantan suami Madonna itu juga dinilai mampu mengulik detil kecil sosok Holmes dalam novel Doyle untuk menjadi kekuatan dalam filmnya. Misal sebut saja, gaya "Rambo" Holmes di film Ritchie.

Bahkan di "Sherlock Holmes: A Game of Shadows" sekitar 65 persen adalah adegan laga sehingga sedikit banyak akan mengingatkan pada film Ritchie sebelumnya "Lock, Stock and Two Smoking Barrels" yang penuh dengan adegan perkelahian tangan kosong maupun dengan senjata.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya-tanya apakah Holmes yang asal Inggris itu memang memiliki keahlian bela diri laiknya "Rambo" dan bukannya seorang "gentleman" Inggris yang halus perilakunya.

Pada novelnya yang bertajuk "The Sign of The Four", Holmes memang disebutkan sebagai seorang petinju tangan kosong yang sangat hebat. Sementara itu dalam "The Yellow Face" Watson melukiskan Holmes sebagai seorang yang ahli menggunakan pistol dan memiliki ketahanan fisik jauh di atas rata-rata.

Keliling Eropa
Dalam "A Game of Shadows", Holmes (Robert Downey Jr) menyeret Watson (Jude Law) keliling Eropa guna memburu musuh bebuyutannya, Moriarty (Jared Harris) yang ingin memulai perang dunia.

Tokoh Moriarty pertama kali muncul dalam novel Doyle yang bertajuk "The Final Problem", disitu Holmes menyebut Moriarty sebagai "Napoleon of crime".

Perjalanan keliling Eropa itu dimulai dengan Holmes yang menyamar sebagai perempuan menculik Watson dari kereta yang membawanya ke lokasi bulan madunya, Brighton, setelah sebelumnya melempar keluar istri baru Watson, Mary (Kelly Reilly) dari kereta.

Adegan penculikan tersebut adalah satu dari sekian banyak adegan yang akan memancing tawa panjang penonton penikmat Holmes versi Ritchie dan membuat bersungut-sungut penikmat Holmes versi novelnya.

Sepintas lalu Holmes memang terlihat konyol dalam gaun namun dalam novel aslinya, "The Mazarin Stone", Holmes memang sungguh pernah menyamar mengenakan pakaian perempuan.

Duet Holmes-Watson kemudian tiba di Paris guna mencari peramal gipsy, Simza (Noomi Rapace), yang seharusnya menerima pesan rahasia yang dibawa oleh "love-interest" Holmes, Irene Adler (Rachel McAdams).

Holmes percaya Rene (Laurentiu Possa), saudara laki-laki Simza dapat membawanya ke Moriarty, yang dipercaya Holmes sebagai dalang di belakang serangkaian teror bom di seluruh penjuru Eropa.

Namun, di Paris, Moriarty berhasil mengecoh Holmes dan meledakkan sebuah hotel tempat pertemuan bisnis berlangsung tepat di depan mata Holmes sehingga memaksa Holmes dan Watson dengan bantuan Simza dan rekan-rekannya menyeberang ke Jerman menuju gudang senjata Moriarty. Di sini Ritchie menunjukkan kelemahan Holmes yang takut kuda sehingga memilih untuk menggunakan kuda poni guna mencapai Jerman.

Petualangan Holmes dan Watson di Jerman adalah klimaks dalam film tersebut. Di gudang senjata itu, Holmes "vis a vis" dengan Moriarty sedangkan Watson adu tembak dengan Sebastian Moran (Paul Anderson) sebelum kemudian mereka meloloskan diri di bawah hujanan peluru pasukan Moriarty.

Ritchie menampilkan adegan kelompok Holmes menyeberangi hutan dibawah hujan peluru dan meriam guna mencapai lintasan kereta dengan gaya khasnya, gaya "video game" dengan banyak adegan lambat di sana-sini. Potongan adegan tersebut adalah potongan adegan kedua yang cukup menonjol selain adegan penculikan Watson di kereta.

Perjalanan keliling dunia Holmes memburu Moriarty berakhir di Swiss dalam sebuah konferensi perdamaian yang dihadiri oleh para pemimpin Eropa. Di sini Ritchie menggunakan adegan dalam "The Final Problem" guna menyelesaikan perseteruan antara Moriarty-Holmes, yaitu menggambarkan musuh bebuyutan itu jatuh ke air terjun Reichenbach saat adu pukul setelah sebelumnya bermain catur maya dan mengungkap rahasia buku saku warna merah Moriarty. Suatu peristiwa yang membuat Watson pulang ke London dengan hati hancur.

Namun tentu saja Guy Ritchie tidak menghentikan filmnya disitu dan membiarkan penonton pulang dengan air mata. Ia tetap konsisten dengan gayanya yaitu menutup film tersebut dengan humor khas Holmes.

"Sherlock Holmes: A Game of Shadows" diluncurkan secara resmi pada 16 Desember dan sejauh ini telah menjadi box office di sejumlah negara, termasuk Inggris. Akting Downey dan Law juga memperoleh pujian sejumlah kritikus sekalipun Harris disebut-sebut sebagai pencuri scene. Sayangnya akting aktris Swedia Rapace tidak terlalu menonjol sehingga karakternya dapat dengan mudah terlupakan.

Bagi penggemar berat serial Sherlock Holmes, dalam film ini Ritchie memperkenalkan Mycroft (Stephen Fry), kakak Holmes yang bekerja untuk pemerintah. Ia juga memberi porsi lebih untuk Kelly Reilly.

Pendek kata "Sherlock Holmes: A Game of Shadows" sekalipun tidak memberikan sesuatu yang baru tetapi cukup menyenangkan dan menghibur untuk menutup 2011 dengan gaya.
(ANT)




Pewarta: Gusti NC Aryani
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar