Telaah

Mangrove, perubahan iklim dan komitmen Indonesia (2)

Oleh Erafzon Saptiyulda AS

Mangrove, perubahan iklim dan komitmen Indonesia (2)

Delegasi berkeliling Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk saat kegiatan ÒexcursionÓ dalam rangkaian G20 The Second Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (2nd EDM-CSWG) 2022 di Kamal Muara, Jakarta, Rabu (22/6/2022). . ANTARA FOTO/Galih Pradipta/nym. (ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Jakarta (ANTARA) - Apakah perubahan Iklim itu. Perubahan Iklim adalah perubahan signifikan pada iklim, suhu udara dan curah hujan mulai dari dasawarsa sampai jutaan tahun. Jadi perubahan iklim sejatinya tidak hanya disebabkan oleh degradasi hutan mangrove.

Perubahan iklim, menurut laman resmi Ditjen PPI Men-LHK, terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan efek gas rumah kaca.

Peningkatan konsentrasi gas rumah kaca tersebut, disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia seperti emisi bahan bakar fosil, perubahan fungsi lahan, limbah dan kegiatan-kegiatan industri.

Baca juga: Mangrove, perubahan iklim dan komitmen Indonesia (1)

Perubahan iklim berdampak sangat luas pada kehidupan masyarakat. Kenaikan suhu bumi tidak hanya berdampak pada naiknya temperatur bumi tetapi juga mengubah sistem iklim yang mempengaruhi berbagai aspek pada perubahan alam dan kehidupan manusia.

Beberapa contoh dampak negatif perubahan iklim adalah gagal panen, cuaca ekstrem, dan meningkatnya wabah penyakit.

Kebakaran hutan merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim, sebagai paru paru bumi hutan merupakan produsen Oksigen (O2), selain itu, hutan juga membantu menyerap gas rumah kaca yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global.

Pohon-pohon yang mati karena perubahan tata guna hutan, ataupun karena mengering dengan sendirinya akibat meningkatnya suhu dalam perubahan iklim, akan melepaskan karbondioksida.

Baca juga: Presiden mengenakan Sesingal Tidung saat prosesi tanam bibit mangrove

Selain itu, kematian pohon-pohon menyebabkan berkurangnya penyerap karbondioksida itu sendiri. Dengan demikian, karbondioksida dan gas rumah kaca lain akan meningkat drastis.

Suhu yang terlalu panas, berkurangnya ketersediaan air, dan bencana alam yang disebabkan perubahan cuaca dapat merusak lahan pertanian.

Suhu yang terlalu panas dan berkurangnya ketersediaan air akan menghambat produktivitas pertanian. Perubahan iklim juga akan menyebabkan perubahan masa tanam dan panen ataupun menyebabkan munculnya hama dan wabah penyakit pada tanaman yang sebelumnya tidak ada.


Menggeser batas daratan

Terlalu tingginya curah hujan akan mengakibatkan menurunnya kualitas sumber air. Selain itu, kenaikan suhu juga mengakibatkan kadar klorin pada air bersih.

Pemanasan global akan meningkatkan jumlah air pada atmosfer, yang kemudian meningkatkan curah hujan. Meski kenaikan curah hujan sebetulnya dapat meningkatkan jumlah sumber air bersih, namun curah hujan yang terlalu tinggi mengakibatkan tingginya kemungkinan air langsung kembali ke laut, tanpa sempat tersimpan dalam sumber air bersih untuk digunakan manusia.

Pemanasan suhu bumi, kenaikan batasan air laut, terjadinya banjir dan juga badai karena perubahan iklim akan membawa perubahan besar pada habitat sebagai rumah alami bagi berbagai spesies binatang, tanaman, dan berbagai organisme lain.

Perubahan habitat akan menyebabkan punahnya berbagai spesies, baik binatang maupun tanaman, seperti pohon-pohon besar di hutan yang menjadi penyerap utama karbondioksida.

Baca juga: Pemprov Kaltara-GIZ Jerman kelola mangrove Delta Kayan Sembakung

Hal ini disebabkan karena mereka tidak sempat beradaptasi terhadap perubahan suhu dan perubahan alam yang terjadi terlalu cepat. Punahnya berbagai spesies ini, akan berdampak lebih besar lagi pada ekosistem dan rantai makanan.

Kenaikan suhu curah hujan dapat meningkatkan penyebaran wabah penyakit yang mematikan, seperti malaria, kolera dan demam berdarah. Hal ini disebabkan karena nyamuk pembawa virus-virus tersebut hidup dan berkembang biak pada cuaca yang panas dan lembab, dimana kondisi demikian akan secara umum disebabkan oleh perubahan iklim.

Peningkatan permukaan air laut menyebabkan bergesernya batas daratan di daerah pesisir yang kemudian menenggelamkan sebagian daerah pesisir ataupun pemukiman di daerah pesisir.

Kenaikan suhu bumi yang menyebabkan mencairnya es pada dataran kutub bumi, kemudian menyebabkan peningkatan permukaan air laut yang menenggelamkan pulau-pulau kecil.


Diplomasi mangrove

Sebelum perubahan iklim semakin parah, Indonesia sudah memulai pencegahannya dengan melakukan segala upaya untuk merehabilitasi, reboisasi dan pemulihan alam, salah satunya membina hutan mangrove (bakau).

Indonesia memiliki kawasan mangrove terbesar di dunia dengan kawasan 3,3 juta hingga 3,6 juta hektare yang merupakan hampir 23 persen dari total mangrove dunia. Itu berarti posisi Indonesia sangat krusial dan vital.

“Kita tanam kembali agar dapat menjaga gelombang air laut yang ada, intrusi air laut, kemudian juga menjaga habitat dari spesies-spesies yang ada di hutan mangrove dan sekitar hutan mangrove,” ujar Presiden Joko Widodo dalam keterangannya selepas penanaman mangrove di Tana Tidung bersama dubes, pejabat dan masyarakat umum.

Baca juga: SMN asal Jakarta pelajari hutan mangrove Tarakan

Presiden menjelaskan di Kalimantan Utara saja terdapat 180 ribu hektare hutan mangrove yang akan direhabilitasi oleh pemerintah. Pemerintah menargetkan merehabilitasi hutan mangrove seluas 600 ribu hektare dalam tiga tahun ke depan.

“Target kita dalam tiga tahun ke depan agar kita perbaiki, kita rehabilitasi sebanyak 600 ribu hektare dari total luas hutan mangrove kita yang merupakan hutan mangrove terbesar di dunia (seluas) 3,6 juta hektare,” ujar Kepala Negara.

Para duta besar yang turut menanam pada kesempatan tersebut yaitu Duta Besar Ceko untuk Indonesia Jaroslav Dolecek beserta istri, Duta Besar Cili untuk Indonesia Gustavo Nelson Ayares Ossandron, Duta Besar Finlandia untuk Indonesia Jari Sinkari, Duta Besar Swiss untuk Indonesia Kurt Kunz, Wakil Duta Besar Brazil untuk Indonesia Daniel Barra Ferreira, dan Country Director Bank Dunia Satu Kahkonen.

Wakil Dubes Brazil untuk Indonesia, Daniel Ferriera, tampil mengenakan baju kotak-kotak kecil biru muda, dengan masker putih dan ikat kepala khas Sesingal Tidung.

Dia mengatakan, ini adalah hari yang istimewa. Dirinya merasa terhormat dan bersemangat, telah diundang untuk mendampingi Presiden Jokowi menanam mangrove.

"Ini adalah komitmen yang serius dari Indonesia untuk pembangunan berkelanjutan, dengan konservasi dan restorasi hutan mangrove di sejumlah wilayah," ucapnya.

Baca juga: Indonesia dorong G20 prioritaskan adaptasi perubahan iklim

Dubes Finlandia Jari Sinkari yang mengenakan kaos berkerah biru tua sesuai dengan cuaca yang cerah, bermasker hijau muda dan juga memakai ikat kepala Sesingal Tidung yang menutupi sebagian rambutnya yang pirang, mengatakan dirinya dari negara yang memiliki banyak hutan, tetapi tidak memiliki hutan mangrove.

Dia menyatakan hutan mangrove sangat efisien menyerap karbon dioksida. Jadi, jika mengharapkan banyak manfaat dari satu jenis hutan, mangrove adalah pilihan yang tepat.

Sementara Country Director of World Bank Satu Kahkonen, perempuan yang mengenakan kaos berkerah biru tua, bermasker ganda, tanpa ikat kepala sehingga menampilkan rambut pendek berwarna pirang muda, dengan tekanan suara yang jelas menyatakan penanaman mangrove sangat penting bagi Indonesia dan seluruh dunia.

Menurut dia, program menanam mangrove adalah restorasi terbesar di dunia dan dirinya salut atas usaha pemerintah Indonesia.


Dari rakyat

Sementara Dubes Republik Ceko Jaroslav Dolecek yang juga hadir mengenakan kemeja putih membalut tubuhnya yang besar dengan ikat kepala Sesingal Tidung menyatakan penanaman mangrove sungguh sesuatu yang penting.

"Karena kita tau program ini tidak hanya penting bagi negara tertentu saja, tetapi juga bagi kita, seluruh dunia. Perubahan iklim bukan hanya menjadi perhatian individu atau pemerintah saja, tetapi menjadi perhatian kita semua," katanya.

Dubes Swiss Kurt Kunz mmenyatakan program mangrove itu bisa menjadi contoh dan mendorong orang, bukan hanya di Indonesia tetapi juga seluruh belahan dunia.

Baca juga: Pertemuan ke-2 EDM CSWG G20 bahas adaptasi iklim hingga emisi GRK

Menurutnya, itu akan dorongan banyak pihak untuk menghormati alam, melindungi alam dan hidup lebih harmonis dengan alam, dan secara bersamaan akan membuat hidup ini menjadi lebih baik. Hal itu tidak hanya berlaku di sini tetapi juga di seluruh dunia.

Diplomasi mangrove Jokowi di Tana Tidung menuai simpati di kalangan dubes negara sahabat yang hadir dan ikut menanam bakau. Indonesia dinilai beruntung memiliki mangrove yang mempunyai kemampuan menyerap karbon lebih besar dibandingkan tanaman lain, dan dunia mengapresiasi kerja pemerintah memulihkan hutan bakau untuk iklim dunia yang lebih baik.

Pada kesempatan itu, Presiden membuka jaket kain berwarna merah yang dikenakannya dan menyerahkan kepada seorang warga yang beruntung. Teman-temannya tampak menyambut meriah penyerahan jaket itu. Penyerahan itu seperti simbol bahwa negeri ini dibangun oleh rakyat.

Presiden seakan berpesan, Pemerintah tak bisa berbuat banyak jika tidak didukung oleh rakyat. Oleh karena itu, semua anggota masyarakat di mana pun, mari bangun negeri ini. Jaga alam, lestarikan, maka dia akan menjaga dan menghidupi hingga ke anak cucu.*

COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar