Artikel

Saatnya melirik citra satelit sebagai penyeimbang informasi sawit

Oleh Ganet Dirgantara

Saatnya melirik citra satelit sebagai penyeimbang informasi sawit

Pekerja mengumpulkan kelapa sawit di Desa Mulieng Manyang, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, Aceh, Rabu (3/11/2021). ANTARA FOTO/Rahmad

40 persen lahan sawit di Indonesia dimiliki oleh pekebun rakyat
Jakarta (ANTARA) - Indonesia sampai saat ini masih menjadi kiblat bagi pengambil kebijakan global negara-negara tujuan ekspor kelapa sawit.

Hal itu karena sentra produksi komoditi ini hadir hingga di pelosok-pelosok negeri.

Negeri ini juga melakukan berbagai upaya untuk menepis kampanye hitam tentang perkebunan sawit sebagai penyumbang penggundulan hutan (deforestasi) sehingga kerap merugikan perdagangan ke sejumlah negara, termasuk Eropa.

Menurut sebuah survei di Eropa, sebanyak 80 persen dari responden menyatakan bahwa industri kelapa sawit adalah penyumbang terbesar dalam deforestasi global dan 54 persen industri peternakan, diikuti kedelai sebanyak 52 persen dan 14 persen lainnya pulp dan kertas.

Kondisi demikian membuat komoditi kelapa sawit Indonesia kerap mengalami kesulitan untuk masuk ke negara-negara Uni Eropa.

Hal itu tentunya berlawan dengan kebijakan Uni Eropa yang mendorong penggunaan bio diesel sebagai sumber energi.

Secara fakta, isu deforestasi sebenarnya sulit untuk dibuktikan sehingga kalau hal ini bisa diperkuat dengan penggunaan berbagai teknologi agar tudingan negatif ini bisa dipatahkan. 

Baca juga: Indonesia siap buktikan sawitnya tak rusak lingkungan

Pemerintah kerap menyosialisasikan pengelolaan kelapa sawit di Indonesia sebagai upaya mematahkan berbagai kampanye hitam baik soal pembukaan lahan dengan cara dibakar, konflik fauna, bahkan pelanggaran hak azazi manusia (HAM).

Di sini pemerintah harus berpegang kepada data dan fakta yang meyakinkan untuk mengembalikan opini masyarakat luar negeri terutama di Eropa bahwasanya tidak terjadi pembukaan lahan baru.

Pemerintah harus bekerja sama dengan pihak ketiga sebagai penyeimbang terhadap isu-isu negatif yang masih beredar di pasar global sawit luar negeri.

Harus diakui harga sawit saat ini sedang bagus-bagusnya di luar negeri sehingga sudah sewajarnya kalau fakta sebenarnya mengenai perkebunan sawit di Indonesia harus terus didengungkan.
Rekomendasi dari hasil citra satelit Sateligence terhadap perkebunan sawit di Indonesia. ANTARA/Ganet Dirgantoro


Satelit
Salah satu yang bisa dipergunakan untuk membantah kampanye hitam di luar negeri adalah dengan memanfaatkan citra satelit untuk memotret kondisi sebenarnya tutupan hutan di Indonesia.

Dengan citra satelit, pemerintah dapat membuktikan apakah benar sudah terjadi pengurangan tutupan hutan dari waktu ke waktu.

Teknologi tersebut agaknya bisa menjadi fakta yang tak terbantahkan untuk mengubah persepsi terkait wajah industri sawit tanah air.

Founder dan CEO Sateligence, Niels Wielaard mengatakan berdasarkan citra satelit tergambarkan kelapa sawit bukanlah penyumbang deforestasi di Indonesia.

Baca juga: Indonesia didesak ikuti langkah Malaysia buka data lahan kelapa sawit 

Bahkan, lanjutnya, berbagai gambar yang diambil memperlihatkan perkebunan sawit termasuk perkebunan yang digarap masyarakat selalu memanfaatkan lahan yang memang sudah terdegradasi sejak awal.

Menurut Niels, telah terjadi kesenjangan besar terhadap opini publik yang terjadi dengan kelapa sawit termasuk di dalamnya komoditi perkebunan lain seperti karet, pulp dan sebagainya.

Dalam memantau dinamika deforestasi dari beberapa komoditas di Indonesia melalui satelit, Niels mengungkapkan terdapat kendala yang cukup menyulitkan, yakni lokasi Indonesia yang kerap tertutup awan yang cukup tebal.

Namun Satelligence memanfaatkan data yang berasal dari satelit radar Sentinel-1 sehingga citra yang didapatkan dapat menembus tutupan awan.

Selain itu, dalam mendukung upaya pencegahan deforestasi, Satelligence berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan di lapangan untuk mengetahui informasi mengenai siapa yang memiliki lahan tersebut dan bagaimana distribusi komoditasnya, sehingga bisa melakukan berbagai pendekatan untuk menanggulangi deforestasi.


Turun
Sejak 2015, angka deforestasi untuk pembukaan lahan sawit menurun tajam.

Penurunan angka deforestasi tersebut juga berbarengan dengan komitmen dari pemerintah dan sektor swasta untuk menjalankan kebijakan tanpa deforestasi, tanpa gambut, tanpa eksploitasi (NDPE) yang juga didukung penuh peraturan yang dikeluarkan pemerintah.

Pantauan citra satelit yang diproduksi oleh Satelligence mengkonfirmasi deforestasi untuk tujuan lahan kelapa sawit menurun secara signifikan hingga sama seperti yang terjadi pada 2001.

Baca juga: Luhut bantah kelapa sawit penyebab besar deforestasi

Saat itu, angka pembukaan lahan untuk perkebunan sawit seimbang dengan pembukaan lahan untuk tujuan industri pulp dan kertas.

Satelligence sendiri merupakan perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang penginderaan jauh yang memiliki misi untuk menyajikan data realistis mengenai kenampakan bumi melalui citra satelit.
 
Aktivis organisasi lingkungan hidup Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan "Head & Shoulders Menyapu habis Hutan Tropis" di konsesi PT Multi Persada Gatramegah, milik Musim Mas, pemasok minyak sawit untuk P & G, di Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah, Senin (10/3). Greenpeace meminta P & G untuk mematuhi kebijakan Nol Deforestasi (penggundulan hutan). ANTARA FOTO/HO/Ulet Ifansasti

Ada anggapan bahwa deforestasi turun karena tidak ada lagi hutan yang tersisa, nyatanya Indonesia masih memiliki hutan dan yang terjadi adalah kinerja kolaborasi untuk menjaga dan menahan laju deforestasi sejauh ini bisa berjalan dengan baik.

Lebih jauh Niels menerangkan bahwa data citra satelit yang dimiliki Satelligence selain dapat membantu mencegah deforestasi, namun juga dapat membantu proses reforestasi.

Justru dengan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan terkait maka selain fokus dalam mencegah deforestasi maka dengan data itu juga fokus untuk memberikan informasi di mana saja tempat di mana pohon dapat tumbuh kembali.

Hal itu dapat memudahkan mereka melakukan pemberdayaan bagi para petani untuk menjaga stok karbon dalam bentuk tanaman pohon.

Data menunjukkan sebanyak 40 persen lahan sawit di Indonesia dimiliki oleh pekebun rakyat. Tidak semua dari mereka memulai usaha dari membabat hutan, melainkan mereka menanam sawit pada area yang sudah terdegradasi sebelumnya.

Hal itu adalah salah satu kabar positif bagi para petani sawit.

Baca juga: Gapki: kelapa sawit hanya gunakan 6 persen lahan minyak nabati

Hal ini tentu berbanding terbalik dari narasi yang dibangun oleh media-media di berbagai belahan dunia yang kerap menjadikan kelapa sawit sebagai biang kehancuran hutan.

Ke depannya masih terdapat tantangan-tantangan lain yang harus dijawab oleh pemerintah dan industri kelapa sawit Indonesia di tengah kampanye hitam yang terus ditujukan pada salah satu komoditas yang menyumbang nilai ekspor terbesar di Indonesia ini.

Bagi Niels, sudah saatnya dunia mengakui kinerja baik yang dibangun oleh petani dan pengusaha kelapa sawit, serta pemerintah Indonesia agar capaian positif penurunan laju deforestasi untuk industri kelapa sawit di Indonesia bisa menjadi contoh dan panutan bagi komoditas lainnya di dunia.

Saat ini di Indonesia, Satelligence sudah memetakan tren deforestasi yang terkait dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit dengan cara mengombinasikan kecanggihan teknologi dan verifikasi lapangan secara kolaboratif dengan para perusahaan yang bermitra.

Tak hanya itu dengan akses satelit yang dapat dibuka semua pihak sehingga fakta-fakta mengenai tutupan hutan di Indonesia menjadi benar adanya.

Pada akhirnya, ini akan membantu pelaku industri untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara tujuan utama, termasuk Eropa.

Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar