Saham Asia merosot dan dolar bersinar, kekhawatiran resesi kian dalam

Saham Asia merosot dan dolar bersinar, kekhawatiran resesi kian dalam

Ilustrasi - Pejalan kaki melintas di depan layar elektronik pergerakan Indeks Nikkei di Bursa Efek Tokyo, Jepang. ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

Tokyo (ANTARA) - Saham-saham Asia tergelincir dan dolar berdiri di level tertinggi dua dekade terhadap euro pada perdagangan Rabu pagi, karena ketakutan investor semakin dalam bahwa benua itu memimpin dunia ke dalam resesi, sementara minyak dan ekuitas berjangka Eropa berusaha untuk stabil setelah catat penurunan.

Minyak mentah Brent berjangka melambung 1,4 persen pada perdagangan pagi menjadi 104,18 dolar AS per barel, mengobati sebagian lukanya setelah jatuh 9,5 persen ke level terendah 2,5 bulan pada Selasa (5/7/2022) ketika kekhawatiran bahwa perlambatan pertumbuhan global akan melemahkan permintaan.

Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,6 persen. Indeks Nikkei Jepang melemah 0,88 persen, di jalur untuk kerugian pertama minggu ini. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,2 persen, meskipun kontrak berjangka Euro STOXX 50 meningkat 1,8 persen.

Indeks Hang Seng Hong Kong tergelincir 0,42 persen, sementara indeks CSI300 saham unggulan China turun 0,7 persen, diseret oleh kekhawatiran tentang kasus COVID-19 baru di Shanghai yang mempertaruhkan pembatasan baru.

Semalam indeks STOXX 600 Eropa turun 2,0 persen dan euro jatuh lebih dari 1,5 persen menjadi 1,0236 dolar, terendah sejak akhir 2002 karena pembicaraan tentang penjatahan gas menakuti para pedagang.

"Genderang semakin keras tentang risiko resesi," kata Jason Teh, kepala investasi di Vertium Asset Management di Sydney.

"Saat ini pertahanan adalah nama permainannya. Ini adalah strategi terbaik saat ini, karena dalam resesi, banyak hal bisa jatuh dari tempat tidur."

Ketidakpastian atas pasokan gas Eropa telah membuat harga meroket. Harga gas acuan Belanda telah berlipat ganda sejak pertengahan Juni dan naik 7,0 persen semalam ke level tertinggi empat bulan.

Daya beban dasar tahun depan di Jerman mencapai rekor tertinggi. Investor khawatir tentang kontinuitas pasokan setelah pipa Nord Stream, yang membawa gas Rusia ke Jerman, ditutup selama sepuluh hari untuk pemeliharaan mulai 11 Juli.

Di Tokyo, saham perusahaan perdagangan komoditas Mitsui & Co dan Mitsubishi Corp turun lebih dari 5,0 persen setelah mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev mengancam pemotongan pasokan minyak dan gas ke Jepang.

Sterling juga terjepit oleh level terendah dua tahun dan tidak terbantu oleh krisis politik terbaru yang melanda pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson, dengan pengunduran diri menteri keuangan dan kesehatannya mempertanyakan umur panjangnya sebagai pemimpin. Setelah menyentuh 1,1899 dolar semalam, mata uang tersebut stabil di 1,1964 dolar di Asia.

Pergantian pemimpin, atau spekulasi tentang hal itu, dapat memberikan dukungan tetapi sangat terbebani oleh prospek ekonomi bahwa seorang pemimpin baru tidak mungkin digeser. "Inggris berada dalam bahaya menjadi ekonomi maju utama yang tumbuh paling lambat tahun depan, dengan tingkat inflasi tertinggi dan defisit transaksi berjalan terbesar," kata ahli strategi Societe Generale Kit Juckes. "Itu koleksi yang cukup, dan itu merupakan ancaman yang jelas bagi pound."

Di tempat lain, dolar juga berdiri kokoh, menahan mata uang Antipodean yang sensitif terhadap risiko di dekat posisi terendah dua tahun dan menjatuhkan harga spot emas ke level terendah tahun ini. Aussie terakhir meringkuk di 0,6810 dolar AS setelah turun 1,0 persen semalam ke palung dua tahun di 0,6762 dolar AS.

Harga emas spot terakhir stabil di 1.771 dolar AS per ounce setelah jatuh semalam. Aset safe-haven emas turun sekitar 3,0 perseb tahun ini, kurang dari kerugian tajam untuk ekuitas dan obligasi.

Investor sekarang menunggu rilis data penggajian AS pada Jumat (8/7/2022) untuk tanda-tanda lebih lanjut apakah ekonomi akan jatuh ke dalam resesi.

"Angka penggajian yang kuat dapat meredam ketakutan resesi secara singkat, meskipun itu juga kemungkinan akan menaikkan imbal hasil dua tahun dan mungkin tidak akan dianggap sebagai positif oleh komunitas investasi ekuitas," Robert Carnell dan Iris Pang dari ING menulis dalam sebuah catatan pagi.

Imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS datar pada Rabu pagi, dengan obligasi 10-tahun di 2,8218 persen. Sementara itu, Bitcoin jatuh kembali di bawah level utama 20.000 dolar AS, merosot 2,77 persen untuk diperdagangkan di 19.855,14 dolar AS.

 

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar