G20 Indonesia

Pengamat: pertemuan G20 jadi kesempatan Rusia sampaikan pandangan

Pengamat: pertemuan G20 jadi kesempatan Rusia sampaikan pandangan

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi (kanan) bertemu Perwakilan Tinggi Uni Eropa (EU) Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan (HRVP) Josep Borrell (kiri) di sela-sela Pertemuan Menlu G20 di Nusa Dua, Bali, Rabu (6/7/2022). (ANTARA/HO-Kemlu RI) ANTARA/HO-Kemlu RI.

“Saya berharap (negara G20) tidak mengulangi pola-pola walk out seperti pertemuan sebelumnya, karena ini menyangkut kewibawaan Indonesia … apalagi mereka semua sudah diterima dengan baik oleh Indonesia sebagai negara yang tidak memihak,” kata Rezasya
Nusa Dua, Bali (ANTARA) - Pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah mengatakan Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 (G20 Foreign Ministers’ Meeting/FMM) bisa menjadi kesempatan bagi Rusia untuk menyampaikan pandangan terkait konfliknya dengan Ukraina.

Rusia telah disorot karena invasinya ke Ukraina sejak Februari lalu memicu krisis pangan dan energi global, akibat terhambatnya ekspor biji-bijian dari pelabuhan Ukraina dan ekspor gas alam Rusia ke Eropa.

Dengan kehadiran Menlu Rusia Sergey Lavrov secara fisik untuk mengikuti FMM G20 di Bali pada 7-8 Juli 2022, Rezasyah memperkirakan Lavrov akan menggunakan momentum tersebut untuk menjelaskan kebijakan Moskow selanjutnya guna menjamin koridor pangan dan jalur energi.

“Rusia sudah punya formula untuk menyelesaikan isu pangan, justru (FMM) ini kesempatan bagi Rusia untuk menyampaikan kepada dunia bahwa Rusia adalah bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” kata Rezasyah ketika dihubungi ANTARA pada Kamis.

Menurut Rezasyah, G20 harus memberikan kesempatan dan keleluasaan bagi Rusia untuk menyampaikan pandangannya mengingat Presiden Vladimir Putin juga telah menyampaikan bahwa Moskow akan mengistirahatkan tentaranya dari perang di Ukraina.

G20 juga disebutnya harus menggunakan pendekatan yang berbeda dengan G7, yang memilih memberlakukan tekanan melalui sanksi maupun larangan terhadap produk-produk Rusia.

Lewat FMM, kata Rezasyah, justru Rusia berkesempatan untuk berdialog dengan sejumlah negara G20 yang terdampak sektor energinya akibat terganggunya ekspor gas alam dari Moskow antara lain Jerman, Spanyol, dan Italia.

Dalam hal ini, Indonesia sebagai Presiden G20 tahun ini berperan besar untuk memfasilitasi komunikasi antara Rusia dengan negara-negara lain.

“Saya berharap (negara G20) tidak mengulangi pola-pola walk out seperti pertemuan sebelumnya, karena ini menyangkut kewibawaan Indonesia … apalagi mereka semua sudah diterima dengan baik oleh Indonesia sebagai negara yang tidak memihak,” kata Rezasyah.

Sebelumnya, Menlu Amerika Serikat Antony Blinken menyatakan akan mengajak negara-negara G20 untuk menekan Rusia agar mendukung upaya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuka kembali jalur laut yang terblokir karena konflik Ukraina.

Blinken juga disebut akan mengulang peringatan terhadap China agar tidak membantu upaya Rusia berperang.

Kalangan analis memperkirakan pertemuan menteri G20 akan dipenuhi perdebatan.

Pasalnya, AS dan negara-negara sekutunya menyalahkan Moskow atas penurunan pangan secara global sejak Rusia mulai meluncurkan invasi pada 24 Februari ke Ukraina—negara utama pengekspor biji-bijian.

Sementara itu, Rusia, yang juga adalah pengekspor utama biji-bijian, menuding serentetan sanksi yang dipimpin AS sebagai biang keladi masalah tersebut.

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Agus Setiawan
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar