Jakarta (ANTARA News) - Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Departemen Kesehatan kini tengah mengembangkan obat malaria baru. Kepala Puslitbang Biomedis dan Farmasi Balitbangkes Erna Tresnaningsih di Jakarta, Kamis, mengatakan penelitian tentang penggunaan artemisinin, obat malaria baru itu, dilakukan karena saat ini beberapa parasit malaria seperti Plasmodium falsipiparum (penyebab malaria tropika) telah resisten dengan obat malaria yang biasa digunakan yakni Klorokuin. "Selain itu efek samping dari obat malaria yang ada seperti kina dan klorokuin juga cukup berat sehingga tidak semua pasien bersedia mengonsumsinya sesuai anjuran. Ukuran tabletnya juga besar sehingga pasien malas mengonsumsi," katanya. Sementara artemisinin, kata dia, jauh lebih efektif digunakan dalam pengobatan malaria dan tidak menimbulkan efek samping yang berat seperti kina dan klorokuin. Obat yang diekstrak dari tanaman Artemisia annua L itu menurut Kepala Bidang Program dan Kerjasama Puslitbang Biomedis dan Farmasi Balitbangkes Ondri Dwi Sampurno juga bisa digunakan untuk mengobati jenis penyakit malaria yang tidak bisa diobati dengan obat-obatan yang lain. Menurut dia terapi kombinasi obat artemisinin (Artemisinin Based Combination Therapy/ACT) merupakan pengobatan malaria terbaik yang dipromosikan oleh organisasi internasional seperti Medicines Sains Frontiers (MSF). Terapi obat artemisinin dan turunannya pada pasien malaria di Mimika, kata dia, telah dilakukan dan hasilnya cukup menggembirakan. Selain murah dan tidak toksik, obat tersebut secara bermakna mengurangi terjadinya hipoglikemia dan menurunkan kematian hingga sepertiga kali dibandingkan penggunaan obat malaria yang lain. Tingkat kematian pasien dengan terapi artemisinin hanya 15 persen sedangkan tingkat kematian pasien yang menggunakan kina, yang sebelumnya merupakan satu-satunya obat penyelamat pasien malaria, sebesar 22 persen. Lebih lanjut Ondri menjelaskan bahwa dalam beberapa tahun mendatang pihaknya bekerjasama dengan Kimia Farma, Pusat Studi Biofarmaka, Balai Penelitian Tanaman Obat, Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) akan meneliti berbagai aspek yang terkait dengan penggunaan artemisinin dalam pengobatan malaria. Balitbangkes menargetkan obat generik malaria baru dari artemisinin dan derivatnya sudah bisa diproduksi di tanah air pada 2009.(*)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2006