Jakarta (ANTARA) - Indonesia mendorong peningkatan kerja sama antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan Korea Selatan di bidang ekonomi hijau.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam ASEAN-Republic of Korea Ministerial Meeting yang diselenggarakan di Phnom Penh, Kamboja, Kamis.

Dalam konteks pemulihan ekonomi, Indonesia memfokuskan pada kerja sama di bidang ekonomi hijau, termasuk transisi energi yang disebut Retno bukan sesuatu yang mudah.

“Diperlukan kerja sama investasi besar dan alih teknologi,” ujar dia dalam keterangan yang dirilis Kemlu RI.

Untuk itu, kata Retno, Indonesia menyampaikan apresiasi atas kontribusi Korsel terhadap ASEAN Catalytic Green Finance Facility (ACGF).

ACGF adalah inisiatif dana infrastruktur ASEAN yang mendukung negara-negara Asia Tenggara melalui bantuan teknis dan pendanaan proyek infrastruktur berkelanjutan.

Retno mengatakan bahwa investasi untuk teknologi rendah karbon dan proyek-proyek energi terbarukan sangat penting artinya, sejalan dengan komitmen Korsel pada Green New Deal.

Mengenai pengembangan ekosistem kendaraan listrik sebagai salah satu investasi yang memiliki masa depan baik, ASEAN dan Korsel sedang merencanakan penyelenggaraan ASEAN-RoK Carbon Dialogue, untuk memfasilitasi berbagai pihak guna bertukar pikiran mengenai perencanaan kebijakan nilai ekonomi karbon (carbon pricing).

Retno juga mengatakan bahwa kemitraan ASEAN-Korsel harus menjadi bagian dari solusi tantangan yang dihadapi kawasan dan dunia.

“Korsel merupakan salah satu mitra penting ASEAN. Selama pandemi, kemitraan ASEAN-Korsel telah bekerja dengan baik dalam penanganan pandemi. Ke depan, kemitraan ini penting untuk ditingkatkan untuk pemulihan ekonomi pasca pandemi,” kata dia.

Baca juga: Menlu RI: ASEAN, China harus berkontribusi bagi stabilitas kawasan
Baca juga: Retno: Tidak ada kemauan junta Myanmar untuk jalankan konsensus ASEAN


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2022