Ditemukan 606 Sarang Orangutan di Wehea, Kutai Timur

Samarinda, (ANTARA News) - Di tengah pasimistis terhadap upaya pelestarian orangutan (Pongo pygmaues) --terkait tinggginya laju kerusakan hutan yang menjadi habitat primata ini-- pihak Pengelola Hutan Lindung (HL) Wehea, Muara Mahau, Kutai Timur menemukan 606 sarang orangutan. Ditemukan 606 sarang orangutan di Wehea sangat berarti bagi upaya pelestarian satwa langka itu karena menandakan bahwa masih terdapat ratusan orangutan berada di kawasan konservasi tersebut sehingga upaya pelestarian perlu ditingkatkan, kata Ketua Badan Pengelola HL Wehea Kutai Timur, Reza Indra Riadi kepada ANTARA di Samarinda, Selasa (4/4). Ia menjelaskan bahwa data itu berdasarkan hasil survei pihaknya bekerjasama dengan The Nature Conservancy (TNC), baru-baru ini. Sebelumnya sejumlah kalangan merasa pasimistis terhadap upaya pelestarian orangutan mengingat tingginya laju kerusakan hutan di Kaltim yang diperkirakan mencapai 500 ribu hektare per tahun. Luas kawasan konservasi Wehea sekitar 38.000 ha yang terletak di Kecamatan Muara Wahau. Kawasan konservasi Wehea selain terdapat berbagai fauna dan flora langka juga berfungsi sebagai sub daerah aliran sungai (DAS) Saleq, Sungai Melinyui dan Sungai Sekung yang muaranya menuju ke Sungai Mahakam yang merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Kaltim (920 Km). Kondisi topografi kawasan tersebut 68 persen curam bahkan sebagian lagi sangat curam sehingga kondisi itu bisa menyelamatkan kawasan tersebut dari aktifitas tebang liar. "Alam yang sulit dijangkau menjadikan hutannya masih sangat baik dan tidak heran dari hasil survei terdapat sekitar 606 sarang orangutan di dalamnya," kata dia. "Selain orangutan, terdapat sejumlah satwa yang merupakan jenis langka yang dilindungi keberadaannya baik secara nasional maupun internasional," katanya. Berdasarkan hasil survei tersebut, Pemkab Kutim akan membuat sejumlah program pelestarian di kawasan itu, yakni melakukan kerjasama pengelolaan dengan sejumlah lembaga donor dari pihak pemerintah maupun swasta untuk lima hingga 10 tahun ke depan. Selanjutnya diupayakan pencarian dana abadi dan konsep usaha lain sebagai upaya memberikan jaminan pengeloalan kawasan tersebut untuk daerah konservasi di Kutai Timur. Dijelaskannya bahwa untuk lima tahun pertama, pengelolaan HL Wehea mendapat dukungan dana dari TNC dan selanjutnya dilakukan penggalangan dana dari pihak lain untuk memperoleh dana abadi sehingga mampu menopang kegiatan lima tahun kedua dan seterusnya. "Selain kawasan ini sebagai tempat bermukimnya orangutan, kawasan Wehea juga menjadi tempat berbagai hewan lainnya antara lain berupa jenis mamalia, burung, reptil dan berbagai jenis pohon komersil yang sebagian sudah langka keberadaannya," katanya. Dia menyebutkan bahwa pelestarian kawasan HL Wehewa merupakan upaya untuk menjamin keberadaan keanekaragaman hayati sekaligus berfungsi sebagai kawasan penyangga kehidupan masyarakat yang berada di sekitar hutan. Diperjualbelikan Orangutan selain terancam akibat kerusakan hutan yang menjadi habitatnya --baik akibat aktifitas industri perhutanan dan perkebunan serta kebakaran hutan/lahan-- primata tercerdas setelah simpanse dan gorilla itu banyak ditangkap untuk diperjualbelikan. Harga orangutan dari tangan pertama --pemburu liar-- sekitar Rp500 ribu/anak orangutan, namun di tangan pedagang dalam negeri bisa mencapai Rp1-Rp5 juta namun apabila lolos diselundupkan bisa mencapai 50 juta/ ekor bayi orangutan. Padahal untuk menangkap satu ekor bayi/anak orangutan maka pemburu liar harus membunuh satu induknya. Data orangutan di Wanariset Semboja menyebutkan bahwa dari lima bayi/anak orangutan yang dipelihara manusia itu, maka diperkirakan hanya satu ekor yang bisa bertahan hidup sampai besar.(*)

COPYRIGHT © ANTARA 2006

Komentar