Jakarta (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan Program Keluarga Berencana (KB) bukan untuk menghentikan kehamilan, melainkan untuk menjaga kesehatan ibu dan anak.

“Alat kontrasepsi bukan alat untuk menjadikan tidak punya anak. Tapi menjadikan kesehatan reproduksi sehat, terjaga dan panjang umur juga keluarga berkualitas,” kata Deputi Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Eni Gustina dalam Peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat.

Eni menuturkan di dalam membangun sebuah negara, Indonesia tidak bisa hanya berfokus pada keseimbangan pertumbuhan penduduk. Melainkan harus meningkatkan pula kualitas sumber daya manusianya dengan mengentaskan permasalahan kekerdilan (stunting).

Salah satu caranya adalah dengan penggunaan alat kontrasepsi yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan setiap perempuan, untuk terhindar dari penyakit yang berhubungan dengan masalah reproduksi seperti kanker serviks. Hal itu dapat berdampak pada berkurangnya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).

Baca juga: BKKBN: Kebebasan pilih kontrasepsi berdasarkan hasil skrining

Baca juga: BKKBN Riau sudah bentuk 310 Kampung Keluarga Berkualitas


Selain itu, alat kontrasepsi membantu keluarga merencanakan setiap kehamilan dengan lebih sehat, karena adanya pemberian jarak antar kehamilan dan kelahiran setiap anak. Alhasil, ibu dapat beristirahat dan fokus mengembalikan kesehatan juga memberikan ASI eksklusif yang optimal pada bayi.

Menurut Eni, salah satu penyebab kematian ibu di Indonesia adalah terjadinya pendarahan saat melahirkan. Kekurangan darah saat hamil, dapat mempengaruhi pembentukan awal plasenta yang tertanam dalam rahim seorang perempuan.

“Kalau darahnya kurang, otomatis dia akan membuat kompensasi akar-akar dari plasenta itu melekat lebih banyak ke dalam rahimnya. Sehingga pada waktu kelahiran terjadinya pendarahan lebih tinggi. Makanya dengan kontrasepsi kita bisa menjaga kehamilan, mempersiapkan setiap kehamilan dengan kehamilan yang sehat,” katanya.

Menanggapi upaya yang telah dilakukan, Eni menjelaskan bahwa BKKBN terus melakukan edukasi dan sosialisasi terkait program KB dengan mengikuti gaya anak muda seperti melalui podcast dan webinar-webinar kesehatan. Semua ilmu KB digencarkan serempak secara nasional.

Ia menambahkan pada tahun 2022, BKKBN bekerja sama dengan TNI menargetkan pemasangan KB di seluruh Indonesia naik 2,8 juta lebih. Target yang ditentukan, juga telah melalui penghitungan dan disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing provinsi.

“Yakni, naik dua juta 836 ribu lebih sekian. Target kita dalam setahun 36 juta, target untuk pemasangan KB di tiap provinsi sudah kita hitung. Mudah-mudahan bisa tercapai targetnya karena kita tinggal tiga bulan lagi akhir 2022, kita harus mengejar kekurangannya,” kata Eni.*

Baca juga: BKKBN dekatkan nakes-keluarga entaskan kebutuhan KB yang tak terpenuhi

Baca juga: KB dan posyandu gerbang utama kontrol kematian ibu


Pewarta: Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
Copyright © ANTARA 2022