Sri Mulyani: Realisasi penerimaan pajak sudah 97,5 persen per Oktober

Sri Mulyani: Realisasi penerimaan pajak sudah 97,5 persen per Oktober

Tangkapan layar - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers APBN KiTA secara daring di Jakarta, Kamis (24/11/2022). ANTARA/Youtube Kemenkeu/pri. (ANTARA/Youtube Kemenkeu)

Penerimaan pajak ini menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia yang menunjukkan pemulihan
Jakarta (ANTARA) - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan realisasi penerimaan pajak per Oktober 2022 senilai Rp1.448,2 triliun, sudah mencapai 97,5 persen dari target tahun ini sebesar Rp1.485 triliun.

"Penerimaan pajak ini menggambarkan kondisi ekonomi Indonesia yang menunjukkan pemulihan," ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: APBN KITA November 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis.

Selain itu, ia mengungkapkan realisasi penerimaan pajak yang tumbuh 51,8 persen dibanding periode sama tahun lalu (year-on-year/yoy) tersebut disebabkan oleh tren peningkatan harga komoditas, pertumbuhan ekonomi yang merata di berbagai sektor, serta implementasi Undang-Undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP).

Adapun penerimaan pajak tersebut meliputi pajak penghasilan (PPh) Non Migas Rp784,4 triliun atau 104,7 persen dari target, serta pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) Rp569,7 triliun atau 89,2 persen dari target.

Selanjutnya, pajak bumi dan bangunan (PBB) dan pajak lainnya Rp26 triliun atau 80,6 persen dari target, serta PPh Migas Rp67,9 triliun atau 105,1 persen dari target.

Meski secara tahunan masih tumbuh fantastis, Menkeu mengingatkan pertumbuhan bulanan penerimaan pajak mulai melambat yakni 32,7 persen (month-to-month/mtm) di Oktober dan 27,6 persen (mtm) di September, dari bulan-bulan sebelumnya yang di atas 50 persen (mtm).

"Ini perlu kita mewaspadai karena pertumbuhan bulanannya agak melandai," ucap dia.

Ia menjelaskan pertumbuhan bulanan di Oktober 2022 bisa cukup tinggi pun karena adanya pembayaran kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM). Tanpa pembayaran itu, pertumbuhan penerimaan secara bulanan hanya 20 persen (mtm).

Adapun tren perlambatan pertumbuhan bulanan ini diperkirakan berlanjut hingga akhir tahun 2022 sejalan dengan meningkatnya restitusi dan tingginya basis penerimaan di akhir tahun lalu.

Baca juga: Sri Mulyani: Pendapatan negara melonjak 44,5 persen per Oktober
Baca juga: Menkeu: Pembiayaan utang turun 21,7 persen, bukti APBN makin sehat
Baca juga: Sri Mulyani sebut APBN catat defisit Rp169,5 triliun per Oktober

 

Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar