Harga minyak Asia "rebound", ditopang optimisme permintaan China

Harga minyak Asia "rebound", ditopang optimisme permintaan China

Ilustrasi - Kilang minyak Aramco di dekat Khurais, Riyadh, Arab Saudi. ANTARA/REUTERS/Ali Jarekji/aa.

Tetapi penumpukan stok itu diperkirakan bersifat sementara karena gangguan pasokan dari cuaca dingin di Amerika Serikat beberapa minggu lalu hanya akan berdampak pada data dalam beberapa minggu ke depan
Tokyo (ANTARA) - Harga minyak mentah rebound pada awal perdagangan Asia pada Rabu pagi, karena harapan pemulihan permintaan di importir utama China setelah keluar dari pembatasan pandemi COVID-19 memberikan dukungan menyusul penurunan harga di sesi sebelumnya di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global.

Harga minyak mentah berjangka Brent menguat 59 sen atau 0,7 persen, menjadi diperdagangkan di 86,72 dolar AS per barel pada pukul 02.14 GMT setelah jatuh 2,3 persen di sesi sebelumnya.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 46 sen atau 0,6 persen, menjadi diperdagangkan di 80,59 dolar AS per barel, setelah jatuh 1,8 persen pada Selasa (24/1/2023).

Kekhawatiran ekonomi diperburuk oleh persediaan minyak AS yang lebih besar dari perkiraan yang dilaporkan setelah pasar ditutup pada Selasa (24/1/2023).

Stok minyak mentah AS naik sekitar 3,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Januari, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute (API) pada Selasa (24/1/2023). Itu tiga kali lipat dari perkiraan sekitar 1 juta barel dalam jajak pendapat awal Reuters pada Senin (23/1/2023).

Baca juga: Harga minyak beragam di Asia, di tengah harapan permintaan China pulih

"Tetapi penumpukan stok itu diperkirakan bersifat sementara karena gangguan pasokan dari cuaca dingin di Amerika Serikat beberapa minggu lalu hanya akan berdampak pada data dalam beberapa minggu ke depan," kata Manajer Umum Penelitian Nissan Securities, Hiroyuki Kikukawa.

Data resmi dari Badan Informasi Energi AS akan dirilis pada Rabu malam.

"Harapan bahwa permintaan bahan bakar China akan pulih pada paruh kedua tahun ini meningkat dan kemungkinan akan mendukung sentimen pasar," kata Kikukawa, memprediksi bahwa WTI akan diperdagangkan dalam kisaran antara 75 dolar AS dan 85 dolar AS per barel dalam beberapa minggu mendatang.

Pasokan minyak akan tetap stabil untuk jangka menengah karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, diperkirakan akan mempertahankan kuota produksi mereka.

Panel OPEC+ kemungkinan akan mendukung kebijakan produksi minyak kelompok produsen saat ini ketika bertemu minggu depan, lima sumber OPEC+ mengatakan pada Selasa (24/1/2023), karena harapan untuk permintaan China yang lebih tinggi diimbangi oleh kekhawatiran atas inflasi dan ekonomi global.

Baca juga: Panel OPEC+ tak mungkin ubah kebijakan minyak di pertemuan 1 Februari

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2023

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar