Jakarta (ANTARA) - Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid berharap agar para mantan narapidana terorisme atau mitra deradikalisasi menjadikan puasa Ramadhan sebagai momentum untuk memupuk toleransi antarsesama.

“Saat menjalankan ibadah puasa Ramadhan tidak perlu untuk melakukan kegiatan sweeping dengan menutup tempat-tempat makan,” ujar Nurwakhid dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Nurwakhid menambahkan bahwa pada dasarnya, puasa adalah upaya untuk menenangkan hati dengan mengontrol diri dan hawa nafsu. Oleh karena itu, puasa dapat menjadi media untuk menambah pahala, baik yang berpuasa maupun tidak berpuasa.

Ia menuturkan bahwa Pancasila bukan agama dan tidak akan mengganti agama.

“Pancasila adalah dasar negara, ideologi pemersatu bangsa yang digali dari nilai-nilai luhur agama dan budaya nusantara,” ujarnya.

Pernyataan tersebut ia sampaikan ketika BNPT menggelar silaturahmi dan dialog kebangsaan bersama mitra deradikalisasi di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (29/3).

Pada kesempatan itu, para mitra deradikalisasi atau mantan narapidana terorisme (napiter) yang kini telah kembali ke masyarakat berharap agar BNPT bisa terus memberikan penguatan wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan moderat.

Bagi para napiter, penguatan wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan sangat penting untuk membantu mitra deradikalisasi mengikis ideologi terorisme yang pernah dianut sebelumnya.

M Taufik sebagai salah seorang mitra deradikalisasi mengharapkan bahwa kegiatan silaturahmi seperti ini dapat dilaksanakan secara berkala.

Dengan demikian, menurut dia, para mitra deradikalisasi dapat melakukan dialog dan bertukar pikiran terkait wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan.

"Ini penting agar para mitra deradikalisasi benar-benar sembuh dari ideologi radikalisme dan terorisme yang pernah mereka anut, sekaligus kembali tulus mencintai tanah air Indonesia. Masih banyak mantan napiter yang membutuhkan materi wawasan kebangsaan dan wawasan keagamaan yang lebih moderat,” ujar Taufik.
 

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2023