Tiga bidan di pelosok menangkan Srikandi Award

Pada malam puncak acara anugerah Srikandi Award 2012 `Cinta 9 Bidan` terpilihlah bidan-bidan terbaik yang menurut kriteria juri program pos bhakti bidan mereka memiliki program relevan serta berhasil guna saat diterapkan di daerah masing-masing,"
Jakarta (ANTARA News) - Tiga bidan yang bertugas di pelosok negeri di tiga provinsi yang berbeda dinilai inspiratif dalam hal peningkatan kesehatan ibu dan anak di daerahnya, sehingga berhasil meraih Srikandi Award 2012.

Sekretaris Jenderal Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Yetty Leoni M. Irawan, dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu, mengatakan, penganugerahan Srikandi Award 2012 dilakukan pada 18 Desember 2012 di Balai Kartini Jakarta.

"Pada malam puncak acara anugerah Srikandi Award 2012 `Cinta 9 Bidan` terpilihlah bidan-bidan terbaik yang menurut kriteria juri program pos bhakti bidan mereka memiliki program relevan serta berhasil guna saat diterapkan di daerah masing-masing," kata Yetty.

Srikandi Award merupakan penghargaan yang diberikan kepada bidan-bidan inspiratif hasil kerja sama produsen nutrisi Sarihusada dengan Ikatan Bidan Indonesi (IBI).

Para pemenang dalam tiga kategori, yaitu Kategori Inisiatif Pemberdayaan Ekonomi dan Pangan yang dimenangkan oleh Bidan Sunarti dari Desa Kokap, Kulonprogo, D.I Yogyakarta.

Kategori Inisiatif Peningkatan Kesehatan Anak dimenangkan oleh Bidan Rahmi dari Muna, Sulawesi Tenggara, sedangkan untuk kategori Inisiatif Peningkatan Kesehatan Ibu dimenangkan oleh Bidan Siti Kholifah dari Pacitan, Jawa Timur.

"Berdasarkan data yang kami peroleh bahwa 60 persen bayi diselamatkan oleh bidan. Maka dari itu saya berharap bidan bisa berperan penting selain membuat masyarakat sehat tapi juga bisa berguna bagi masyarakat," katanya.

Bidan Rahmi yang berhasil meraih predikat pemenang kategori Inisiatif Peningkatan Kesehatan Anak karena perjuangannya melawan budaya kurang tepat di daerahnya.

Masyarakat Muna, Sulsel memiliki budaya untuk selalu memberi makan bayi, meski ia baru lahir sekalipun, karena tangisan bayi dinilai sebagai indikator lapar.

"Maka bayi di sana sudah diberikan pisang ataupun madu di usia-usia yang seharusnya masih mendapatkan ASI eksklusif," kata Rahmi.

Rahmi yang sudah 17 tahun menjadi bidan di sana mampu mengubah budaya masyarakat dengan memberikan edukasi tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif.

Upaya edukasi tidak cukup ia lakukan kepada para ibu dan calon ibu, ia juga memulai sosialisasinya kepada orang-orang yang berpengaruh di desanya, seperti Kepala Desa, aparat desa, tokoh masyarakat, dan para suami.

"Saya berharap dengan program yang saya lakukan dapat memberikan contoh bagi seluruh daerah yang belum menerapkan ASI ekslusif," kata Rahmi.

Menurut dia, profesi bidan selama ini tanpa disadari menjadi sosok yang berada di garda terdepan upaya pertolongan persalinan sekaligus dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. "Kami bangga pada akhirnya usaha kami mendapatkan apresiasi," katanya.

(H016/H-KWR)

Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar