Kisah unik tentang Liga China

Shanghai (ANTARA News) - Jika Frank Lampard jadi bermain bola di China, sebaiknya terlebih dahulu melihat pengalaman mantan rekan setimnya di Chelsea yaitu Nicolas Anelka dan Didier Drogba.

Menurut AFP, pembayaran yang bermasalah, cekcok di luar lapangan, dan perbedaan budaya sering membuat para pemain bintang yang bermain di Liga Super China memutuskan untuk hengkang. Bahkan beberapa pemain pergi, ketika baru saja datang.

Anelka menjadi pemain bintang pertama yang mencoba bermain di China. Dia datang ke Shanghai Shenhua sepuluh bulan lalu, dengan gaji 175 ribu poundsterling per minggu.

Mantan penyerang timnas Prancis itu tidak sendirian ke Shanghai. Beberapa bulan kemudian, Didier Drogba ikut pindah dan dikabarkan memiliki gaji lebih besar yaitu 200 ribu poundsterling per minggu.

Tetapi, Anelka dengan cepat merasa kepindahannya menjadi hal suram dan meminta pindah dari klub tersebut. Kabarnya Drogba pun juga ingin pergi.

Drogba sendiri belum menerima gajinya untuk bulan Desember, karena permasalahan di tataran petinggi klub. Anelka saat ini juga sedang dalam pembicaraan pemutusan sisa kontrak.

Padahal, Drogba tampil impresif dengan mencetak delapan gol dari 11 kali tampil. Sementara Anelka hanya mencetak tiga gol selama satu musim penuh.

Ini jelas tidak sesuai dengan gembar-gembor Anelka saat tiba Feburari. Dia pernah berkata bahwa pergi ke China bukan hanya karena uang.

Teka-teki segera terungkap ketika Pelatih Shenhua, Jean Tigana dipecat setelah kerusuhan internal tim di pertandingannya yang kelima. Anelka pun terkejut karena dia ditawari kursi pelatih menggantikan Tigana.

Beberapa minggu kemudian, Anelka membuat berita heboh lagi dengan mengancam akan keluar dari Shenhua. Alasannya tim malahan menyuruh pemain asal Prancis itu untuk menyingkir dari posisi pelatih, untuk digantikan oleh Sergio Batista.

Kisah keanehan lain
Lain lagi yang dialami pemain berkebangsaan Argentina, Canca Dario. Dia adalah gelandang terbaik Liga Brazil dua tahun berturut-turut saat bermain di Fluminense.

Kehebatannya itu, membuat Canca pindah ke Guangzou Evergrande pada 2011 untuk harga yang fantastis bagi China yaitu rekor transfer 10 juta dolar. Dia mendapat kontrak tiga tahun senilai 1,3 juta dolar.

Sekarang, Canca bersiap untuk pindah.

Bulan lalu, dia meninggalkan catatan untuk klub yang bertuliskan, "Saya pergi dan tidak akan kembali."

Menurut laporan dari Sina Sports, Canca mengaku tidak senang pada "hal aneh yang ada di sini". Hanya saja, dia tidak merinci alasanya itu.

Ada juga kisah dari Paul Gascoine yang bergabung dengan Gansu Tianma pada 2003. Mantan pemain Timnas Inggris itu langsung hengkang pada laga keempatnya bersama klub, karena tidak digaji.

Ian Walker yang sampai saat ini masih menjadi pelatih kiper di Shanghai Shenhua pun punya kisah yang tak kalah aneh. Mantan kiper Tottenham Hotspur itu menceritakan bahwa budaya di China sangat berbeda dengan di Inggris.

"Yang terburuk adalah makanannya, saya memang belum pernah diberi daging anjing sama sekali, tapi saya pernah mencurigai salah satu burger," katanya.

"Di sini panas, yang sangat sulit untuk adaptasi di awal. Dan di sini sangat berbahanya untuk menyebrang jalan. Lupakan zebra cross," tambahnya.

Ian juga menjelaskan bahwa di sini sebaiknya menghindari penggunaan mobil. Menurutnya, setiap mobil di jalanan pasti membunyikan klakson setiap lima detik dan itu sangat berisik.

(lod)

Penerjemah:
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2012

Komentar