Jakarta (ANTARA News) - Komisioner Liga Bola Basket Nasional (NBL), Azrul Ananda mengharapkan dunia olahraga di Indonsia lekas mengalami privatisasi secara meluas dan bukan hanya bola basket.

"Jadi sebenarnya di Indonesia ini kan olahraga itu bisa dibilang campur tangan pemerintah sudah tidak terlalu penting, makanya saya harap ada cara supaya olahraga kita itu cepat lebih banyak diambil alih oleh swasta," kata Azrul di Jakarta, Jumat (11/1).

Azrul mencontohkan bagaimana kompetisi bola basket yang ia kelola akhirnya menarik perhatian pemerintah dan kemudian otoritas olahraga terkait menawarkan dirinya untuk mengambil alih dan menjalankan liga.

Ia mengatakan, bahwa dalam kompetisi yang ia jalankan bisa dikatakan tidak sedikitpun terdapat campur tangan dari pemerintah.

"NBL Indonesia ini kan nol dari pemerintah, dikelola secara swasta, klub-klubnya juga dikelola secara swasta. Hampir tidak ada uang pemerintah dan kita baik-baik saja," ujar Azrul

Lebih lanjutan Azrul menyebutkan bahwa dalam olahraga, kucuran dana dari pemerintah untuk bergulirnya liga seharusnya tidak lagi dibutuhkan.

"Yang kita butuhkan dari pemerintah bukan dukungan finansial, tetapi stabilitas, jaminan dan `support` moral sehingga memberi kami ruang cukup untuk bekerja," ujar dia.

Ia mengharapkan pemerintah melalui otoritas olahraga secara spesifik ataupun Kementerian Pemuda dan Olahraga, tidak mengambil kebijakan yang mempersulit ataupun membebani pihak swasta dalam mengelola olahraga.

Azrul tak berhenti hanya berbicara pada tataran bola basket dan olahraga umum, ia sedikit memberi komentar tentang bagaimana kondisi sepak bola di Indonesia saat ini baik secara kompetisi maupun secara kepengurusan.

Azrul mengatakan bahwa sepak bola pada masanya sempat mengalami privatisasi sebagaimana bola basket saat ini, yaitu di masa Galatama. Lantas, pergeseran dan pembesaran makna sepak bola dalam kehidupan masyarakat ikut mengubah nasib persepakbolaan di Indonesia.

"Tapi kemudian ini menjadi sebuah komoditas politik, dan ini tidak bisa dielakkan. Ada beberapa pemimpin daerah yang saya temui mengatakan sepakbola itu punya peran sebagai kontrol sosial," kata dia.

Azrul mengakui dapat memahami sudut pandang kontrol sosial tersebut, meskipun kemudian mempertanyakan apa jadinya ketika olahraga dibiarkan menjadi besar dan masih merasakan campur tangan pemerintah.

"Ketika uang pemerintah, yang mungkin kita bisa katakan tak terbatas, bercampur baur dengan olahraga maka mereka tak bisa lagi melihat atap. Pada saat itulah berbondong-bondong orang ingin ikut ke sana, dan `bermain` di dalamnya," tutur Azrul.

Oleh karena itu, Azrul kembali menawarkan solusi yaitu memprivatisasi pengelolaan sepak bola. Meskipun, ia juga ragu dengan keinginan dan kemauan berbagai pihak yang terlibat dalam sepak bola.

"Kalau sekarang sistem sepak bola mulai dari nol lagi, kita kembangkan lagi dari dasar seperti basket ini, apakah mereka mau susah lagi? Ya pertanyaannya bukan sesusah apa nantinya, tapi apakah mau susah?" kata dia.

"Karena sepak bola ini sudah terlalu tinggi, tuntutan pemainnya sudah terlalu tinggi, tuntutan timnya sudah terlalu tinggi, tuntutan macem-macemnya itu sudah terlalu tinggi. Jadi kalo harus `direset` kembali untuk memulai dari titik yang paling sehat, mau nggak," ujar dia.

Selain itu, ia bersyukur bahwa dalam dunia bola basket lebih mudah menemukan rekan-rekan swasta yang memiliki kesamaan visi bahkan kesamaan semangat sebagai pemuda.

"Akhirnya enak, kita bekerjasama, kebanyakan swasta, kebanyakan muda-muda lagi, dan kebanyakan tidak berafiliasi dengan pemerintah. Itu advantage basket menurut saya," ujar dia menutup perbincangan. (G006)

Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2013