kalau pembawa rabies masih berkeliaran dan tidak terlindungi oleh vaksin maka dia masih bisa menularkan
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan eliminasi rabies pada manusia akibat gigitan anjing di Indonesia pada 2030 melalui vaksinasi anjing masal secara terus menerus.

"Pada 2030 kita menargetkan harus ada eliminasi rabies pada manusia yang di mediasi oleh anjing di tahun 2030, secara bertahap mengurangi yang akhirnya memberantas rabies pada manusia melalui vaksinasi anjing masal secara terus menerus," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr. Imran Pambudi dalam konferensi pers yang diikuti secara daring, Jumat.

Ia mengatakan untuk dapat mengeliminasi rabies pada manusia maka intervensi utamanya adalah memberi vaksinasi kepada anjing.

"Kalau pembawa rabies masih berkeliaran dan tidak terlindungi oleh vaksin maka dia masih bisa menularkan," tuturnya.

Baca juga: Kemenkes: Perlu gerakan massal berikan vaksinasi rabies ke anjing
Baca juga: Kemenkes: 95 persen kasus rabies disebabkan gigitan anjing
​​​​​​

Ia mengemukakan terdapat dua strategi pengendalian rabies, yakni strategi umum dan teknis. Strategi umum, yakni tata laksana kasus gigitan, memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), memberikan dukungan regulasi, dan keterlibatan masyarakat.

Untuk strategi teknis, yakni vaksinasi pada hewan, surveilans dan analisis epidemiologi, evaluasi diagnostik, respon cepat dan penanganan hewan suspek, pengawasan lalu lintas hewan, dan manajemen populasi anjing.

Ia menjelaskan gejala rabies pada manusia di tahap awalnya adalah demam, badan lemas dan lesu, tidak nafsu makan, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan, dan sering ditemukan nyeri.

Setelah itu terasa kesemutan atau rasa panas di lokasi gigitan, cemas, dan mulai timbul fobia yaitu hidrofobia, aerofobia, dan fotofobia sebelum meninggal dunia.

Sementara gejala hewan yang terkena rabies, kata dia, dapat dicirikan dengan karakter hewan menjadi ganas dan tidak nurut pada pemiliknya, tidak mampu menelan, lumpuh, mulut terbuka dan air liur keluar secara berlebihan, bersembunyi di tempat gelap dan sejuk, ekor dilengkungkan ke bawah perut di antara kedua paha, kejang-kejang, dan diikuti oleh kematian.

"Pada rabies asimtomatik hewan tidak memperlihatkan gejala sakit namun tiba-tiba mati," paparnya.

Baca juga: Kemenkes tetapkan dua kabupaten di NTT berstatus KLB rabies
Baca juga: Kemenkes: Pandemi COVID-19 salah satu sebab kasus rabies meningkat
Baca juga: Pemerintah Kota Kupang bentuk pos terpadu penanganan rabies

 

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2023