Pakar: doping sebagai resiko olah raga komersial

Kemenangan dalam olah raga bukan hasil akhir yang diharapkan tapi kesehatan dan atau kesenangan."
Jakarta (ANTARA News) - Penggunaan doping jelas menyalahi nilai sportifitas dan `fairplay`.

Namun itulah yang terjadi sebagai resiko olah raga komersial seperti dalam kasus pesepeda Lance Armstrong asal Amerika Serikat atau Alberto Contrador dari Spanyol.

"Saya menilainya sebagai resiko dari kompetisi olah raga komersial yang memicu atlet untuk melakukan apa saja demi menjadi yang terbaik," kata  pakar pendidikan dan guru olahraga Sekolah Isabel La Catholica Madrid, Spanyol, Andres Izquierdo, saat berada di Jakarta, Kamis.

Menurutnya olahraga komersial merupakan suatu bentuk pemanfaatan olah tubuh sebagai mesin penghasil uang yang mampu menyejahterakan olahragawan. Banyak pula semangat positif sportifitas olahraga komersial yang dapat ditularkan kepada seluruh masyarakat dunia karena bersifat universal.

Namun di tengah persaingan yang ketat beberapa atlet memilih menggunakan cara-cara yang tidak patut melalui kecurangan seperti penggunaan doping.

Andres menekankan bahwa tujuan utama olah raga adalah mencari kesehatan tapi dengan adanya doping merusak tujuan awal.

"Mereka ingin sehat tapi yang dilakukan justru sakit lantaran menggunakan obat terlarang. Justru yang terjadi adalah mereka merusak diri mereka sendiri dengan doping bukan meraih kesehatan," kata dia.

Menurutnya, selama ini dirinya mengajak siswa didik untuk berpartisipasi dalam olah raga agar meraih kesehatan yang berkualitas.

"Tugas pendidikan kami bukanlah mencetak atlet profesional dalam dunia olah raga tapi mengarahkan siswa kepada jalan yang mudah untuk sehat. Anda harus berolahraga agar sehat karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat," katanya.

"Pedoman utamanya adalah olah raga dilakukan seefisien mungkin agar meraih kebugaran dan tentu saja dengan cara yang sehat. Tapi efisien di sini bukan berarti menggunakan doping sebagai jalan pintas."

Dia justru merasa prihatin dengan atlet pengguna obat-obatan terlarang karena tidak benar dalam menerjemahkan kesenangan berolahraga.

Kesenangan mereka pahami sebagai prestasi puncak yang diraih dengan jalan pintas bukan dengan berlatih keras dan tekun.

"Kemenangan dalam olah raga bukan hasil akhir yang diharapkan tapi kesehatan dan atau kesenangan," kata dia menegaskan. (ANT)

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar