Menteri Norwegia nilai Indonesia berbuat banyak terkait REDD+

Menteri Norwegia nilai Indonesia berbuat banyak terkait REDD+

ilustrasi Penyelamatan Hutan dan Satwa Menteri Lingkungan Hidup Norwegia B'rd Vegar Solhjell (kanan) mengamati spanduk ucapan terima kasih yang digelar aktivis Greenpeace di sela-sela pertemuan REDD Indonesia-Norwegia di Jakarta. (FOTO ANTARA/Yudhi Mahatma)

Kami bekerja sama dengan sejumlah negara sebagai mitra. Bagi Norwegia, Indonesia khususnya memiliki nilai yang sangat strategis sebagai pemilik hutan tropis yang besar guna mengurangi emisi gas rumah kaca,"
Nairobi (ANTARA News) - Pemerintah Norwegia melihat Indonesia telah berbuat banyak untuk menanggulangi penggundulan hutan dan dampak perubahan iklim, kata Menteri Lingkungan Hidup Norwegia Bard Vegar Solhjell.

Menteri Solhjell dalam sesi pertemuan dengan wartawan di Markas Program Lingkungan PBB (UNEP) di Nairobi, Kenya, Selasa, juga menegaskan bahwa hibah Norwegia tetap berlaku sesuai dengan komitmen yang dibuat sebagai bagian dari kerja sama di bidang kehutanan dan penanggulangan dampak perubahan iklim.

"Kami bekerja sama dengan sejumlah negara sebagai mitra. Bagi Norwegia, Indonesia khususnya memiliki nilai yang sangat strategis sebagai pemilik hutan tropis yang besar guna mengurangi emisi gas rumah kaca," katanya.

Menurut dia, hibah senilai 1 miliar dolar AS diberikan jika Indonesia melakukan langkah-langkah dan membuat program-program sesuai dengan kesepakatan.

"Sejauh ini, Norwegia dan Indonesia fokus pada kerja sama di bidang lingkungan hidup, terutama kehutanan dan penanggulangan dampak perubahan iklim," katanya.

Ketika ditanya soal tingkat penggundulan hutan di Indonesia, Solhjell berpendapat bahwa Indonesia berusaha keras untuk mengatasinya dan para pihak terkaitnya mengambil tindakan atas para pelanggar.

IPCC, lembaga yang bekerja sama dengan UNEP, menyatakan dalam penilaiannya bahwa lebih dari 30 persen dari emisi gas rumah kaca berasal dari penggunaan lahan, perubahan penggunaan lahan, dan sektor kehutanan, serta 18--20 persen diperkirakan berasal langsung dari penggundulan dan degradasi hutan.

Mengawali gilirannya untuk berbicara, Menteri Solhjell bercerita bahwa dirinya semasa muda pada tahun 1969 pernah berkunjung ke Indonesia dan pergi ke Kalimantan yang mimiliki hutan.

"Saya sangat terkesan dengan hutan-hutan di Kalimantan," katanya.

Norwegia merupakan salah satu mitra utama Indonesia di Eropa, termasuk dalam pengembangan kerja sama di bidang lingkungan hidup. Kedua negara itu menandatangani LoI (Letter of Intent) di Oslo pada tanggal 26 Mei 2010 mengenai pemberian dana (hibah) sampai dengan 1 miliar dolar AS (Rp9,4 triliun) kepada Indonesia dalam rangka kerja sama di bidang kehutanan dan penanggulangan dampak perubahan iklim,

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa berkunjung ke Oslo dan bertemu Menteri Pembangunan Internasional Norwegia, Heikki Holmas, April lalu.

Kedua Menteri membahas capaian kerja sama kedua negara di bidang kehutanan dan penanggulangan dampak perubahan iklim.

Menanggapi kerja sama ini, Menlu Marty menyampaikan apresiasi yang tinggi atas bantuan dan dukungan pemerintah Norwegia, terutama dalam implementasi berbagai kemitraan di bidang REDD+.

Sebagai tindak lanjut implementasi LoI, Indonesia telah melaksanakan beberapa prioritas, seperti pembentukan REDD+ Agency dan instrumen pendanaan (funding instrument), penyusunan Strategi Nasional REDD+ dan pembentukan sistem MRV (monitoring, reporting and verification).

Beberapa kemajuan yang telah dilakukan Indonesia adalah pembentukan Satgas REDD+ baru melalui Keppres Nomor 25 Tahun 2011, penandatangan MoU antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Satgas REDD+ mengenai pilot project REDD+, dan dikeluarkannya draf final Strategi Nasional REDD+ untuk memberi arah bagi solusi komprehensif terhadap penyebab utama deforestasi dan degradasi hutan.

Kedua Menteri membahas capaian kerja sama kedua negara di bidang kehutanan dan penanggulangan dampak perubahan iklim. Salah satu capaian utama hubungan bilateral RI-Norwegia terletak di bidang kerja sama kehutanan dan penanggulangan dampak perubahan iklim.

Norwegia dan Indonesia menyadari bahwa perubahan iklim merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini.

Pada bulan Oktober 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan komitmen untuk mengurangi emisi CO2 Indonesia hingga 26 persen pada tahun 2020.

Komitmen itu terbesar yang pernah diutarakan oleh negara berkembang. Indonesia telah menetapkan target absolut dan Norwegia ingin membantu upaya pemerintah Indonesia mencapai komitmen tersebut.

Norwegia seperti negara-negara lain harus berupaya keras untuk berubah menjadi masyarakat yang rendah emisi, dan harus memimpin dalam pengurangan emisi domestik.
(M016/D007)

Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2013

DKI Jakarta jadi tuan rumah peluncuran proyek ketahanan perubahan iklim

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar