Pengamat: masyarakat sudah "alergi" parpol

Pengamat: masyarakat sudah "alergi" parpol

Sejumlah ketua umum dan perwakilan pengurus partai berfoto seusai pengundian nomor urut partai politik peserta Pemilu 2014 di Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Senin (14/1). KPU melakukan pengundian nomor urut 10 parpol dan tiga partai lokal yang akan mengikuti pemilu 2014. (FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo)

Fenomena ini seperti `roller coaster` mereka harus jungkir balik mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat."
Tangerang (ANTARA News) - Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Burhanuddin Muhtadi menilai sekarang ini banyak masyarakat yang "alergi" terhadap parpol. 

"Sebagian besar masyarakat kebanyakan memandang parpol ini sebagai sesuatu yang tidak baik, padahal sebetulnya tidak seperti itu," katanya dalam peluncuran buku "Perang Bintang 2014" di Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis.

Burhanuddin menyebutkan hanya sekitar 12 persen yang memilih parpol tertentu.

"Itu pun hanya kalangan yang dekat parpol saja, bukan masyarakat secara umum" katanya.

Dia juga mengatakan sebagai akibatnya parpol kesulitan mendapat dukungan dari masyarakat.

"Fenomena ini seperti `roller coaster` mereka harus jungkir balik mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat," katanya.

Menurut dia, hal itu merupakan gejala elektoral baru yang turut memanaskan arena tanding menjelang Pemilu 2014, yakni merebaknya fenomena `emoh partai` atau deparpolisasi.

Dia juga berpendapat menguatnya pengaruh media televisi (telepolitics) dalam mempengaruhi perilaku pemilih.

Menurut Burhanuddin, semakin kencangnya perang media dan semakin besarnya proporsi memilih mengambang (swing voters) menjadikan pertandingan politik semakin ditunggu.

"Dinamika politik antarpartai dan bakal calon presiden menjadi `centre of attraction` (pusat perhatian)," katanya.

Dia menambahkan iklim kepartaian saat ini cenderung oligarki dan transaksional.

"Ini memaksa parpol untuk menyodorkan caleg yang terbaik, mulai dari daftar calon sementara (DCS) hingga daftar calon tepat (DCT)," katanya.

Dia mengatakan caleg-caleg tersebut juga harus mempunyai dana yang cukup atau didanai oleh parpol.

"Harus memiliki integritas dan kredibilitas. Tapi, biasanya caleg-caleg yang demikian itu kekurangan dana, sehingga harus dibantu," katanya.

Selain itu, dia mengimbau kepada media dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar menginformasikan caleg-caleg tersebut.

"Agar rakyat tahu mana caleg yang bersih dan mana caleg yang tidak layak dipilih. Dan ini masih ada waktu untuk mengupayakan itu semua," katanya. (J010/Z003)

Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar