Dahlan enggan gunakan pelat nomor D 19

Dahlan enggan gunakan pelat nomor D 19

ilustrasi Menteri BUMN Dahlan Iskan melakukan uji coba mobil listrik jenis city car karya perancang Dasep Ahmadi di Jalan Raya Jatimulya, Depok, Jabar, Senin (16/7). (FOTO ANTARA/Andika Wahyu)

Semua prosedur dalam uji coba nanti harus diikuti. Tentu, yang pasti tidak lagi menggunakan pelat D 19,"
Jakarta (ANTARA News) - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengatakan tidak akan menggunakan pelat nomor D 19 saat melakukan uji coba kendaraan mobil listrik jenis "sport", Selo yang diharapkan rampung sebelum Oktober 2013.

"Semua prosedur dalam uji coba nanti harus diikuti. Tentu, yang pasti tidak lagi menggunakan pelat D 19," kata Dahlan di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Selasa.

Menurut Dahlan, meskipun dalam tahap uji coba sudah seharusnya penggunaan pelat nomor resmi dari Kepolisian.

Dahlan sepertinya trauma ketika uji coba mobil listrik sport Tucuxi, yang mengalami kecelakaan menabrak tebing berbatu di Dusun Ngerong, Desa Dadi, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur pada awal Januari 2013.

Ketika uji coba mobil Tucuxi yang dikendarai Dahlan tersebut menggunakan pelat nomor D 19, yang ditengarai bikinan sendiri.

Dahlan pun pernah mengaku, D 19 merupakan rangkaian kata dari Dahlan (D) dan angka 19 merupakan jumlah huruf dalam lafal "bismillahirahmanirahim".

Namun, penggunaan pelat D 19 tersebut langsung mengundang kontra karena diduga merupakan pelat nomor palsu, yang memaksa Polisi memeriksa Dahlan Iskan.

Kegagalan pengembangan mobil Tucuxi tersebut, ternyata kini dijawab Dahlan dengan kembali menggagas pembuatan mobil listrik yaitu Selo.

"Mobil Selo dikembangkan seorang anak muda bernama, Riki Elson," kata Dahlan.

Menurut Dahlan, nama mobil Selo diambil dari Bahasa Jawa yang artinya "batu".

Pemilihan nama Selo menggambarakan kecelakaan Tucuxi yang menabrak tebing berbatu.

Namun Dahlan menggambarkan, mobil Selo dirancang menggunakan teknologi transmisi "gear box", berbeda dengan mobil Tucuxi hasil ciptaan Danet Suryatama yang tanpa "gear box".

"Bedanya, sistem mobil tanpa `gear box` dikatakan membuat mobil tersebut tidak bisa mengerem saat menuruni tebing. Sebaliknya yang menggunakan teknologi `gear box` secara otomatis bisa melakukan pengereman," ujarnya.

Sedangkan dari sisi harga, mantan Dirut PLN ini mengaku pembuataan Selo akan menelan biaya sekitar Rp1,5 miliar, lebih murah dibanding pembuatan mobil Tucuxi yang mencapai sekitar Rp3 miliar.

Dahlan pun meminta penyelesaian Selo dikebut, agar bisa dipamerkan pada penyelenggaraan KTT APEC di Denpasar, Bali, pada Oktober 2013.
(R017/C004)

Pewarta: Royke Sinaga
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Ikhtiar Indonesia menjadi sentra industri baterai lithium terbesar dunia

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar