"Selendang Merah", manusia berhati kera

"Selendang Merah", manusia berhati kera

Opera Jawa "Selendang Merah" ditampilkan pada Sabtu malam (6/4) di Solo dan selanjutnya akan digelar pada 13-14 April 2013 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. (ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo)

Kera yang suka meronta-ronta, kera yang suka bertopeng, kera yang suka mendamba belaian Sri Ledhek
Jakarta (ANTARA News) - Dipecut karena mbalelo oleh perintah bos besar Tuan Ledhek yang diperankan oleh Anggono Kusumo Wibowo, diikat kemudian ditarik-tarik oleh punggawa Pelatih-pelatih kera dengan menggunakan bentangan kain merah, kuning, hijau, biru.

Serta merta sang kera berjingkrak-jingkrak meronta-ronta seakan hendak berkata-kata seperti layaknya manusia. Dalam tiga dari trilogi Opera Jawa, "Selendang Merah", kera menjadi manusia, manusia menjadi kera.

Kera bernama Hanoman yang diperankan oleh Heru Purwanto, tergabung dalam republik Ledhek Tayub, berkeliling dari kampung ke kampung menjajakan atraksi versi Sarimin pergi ke Pasar yang bertopeng, yang berlaku ingin menghibur para penonton dengan membagi kepura-puraan sebagai layaknya makan-minum sehari-hari.

Tuan Ledhek punya istri bernama Sri Ledhek yang diperankan oleh Sruti Respati. Sebagai penari Tayub sarat gemulai tari bumi yang terus memberi untuk menggoda, tubuh Sri Ledhek terus dikerat bahkan dijajakan sedikit demi sedikit kepada mereka yang menerima tebaran selendang.

Byar...byar...dan mereka yang menerimanya hanya berbisik, semua tidak pada tempatnya, serba jungkir balik. "Salto menuju kematian".

Tidak berkutik, karena selendang menarik hati pria yang mencari sejenak rasa "plong" dari keseharian hidup yang menghimpit. Tidak heran, Tuan Ledhek terbakar bara kuasa ingin menguasai seluruh diri Sri Ledhek yang telah menjadi milik siapa saja.

Pagar makan tanaman. Didera karena berwujud masih "kera belum manusia". Sri Ledhek menyaksikan bahwa suaminya tak ubahnya seperti kera juga, yang menghamba kepada perintah diri sendiri tanpa mau tahu bahwa sejatinya kekuasaan memerintah hanyalah tebaran cinta bak tebaran selendang merah di lakon tayub terbakar asmaradana.

Darah dibayar darah. Sang kera diarak, dilecut bahkan dipaksa-paksa bertopeng memenuhi dahaga para tuan dan nyonya yang berharap bahwa sirkus kehidupan berisi darah dan airmata korban.

Dan tebaran dari selendang merah dari Sri Ledhek menyiram darah kera-kera yang bersemayam dalam hati manusia-manusia yang mendamba kesembuhan dari Ibu Bumi yang selalu memberi tanpa meminta kembali.

Lakon lima babak dibalut naskah Opera Jawa bertitel Selendang Merah hasil garapan sutradara Garin Nugroho ingin mengajak siapa saja untuk segera bergegas berjalan atau "mlaku" mengenali diri bahwa banyak kera dalam hati ini minta disapa, dibelai bahkan dibuai kemudian dijadikan persembahan guna dilarung di samudera Kuasa dari Dia pemilik Hidup.

Kera yang suka meronta-ronta, kera yang suka bertopeng, kera yang suka mendamba belaian Sri Ledhek.

Lakon Kera merasuk hati bukan melulu berkisah mengenai cinta romantis, bukan berlakon soal kekuasaan tanpa batas, melainkan "goro-goro" amuk alam yang siap menurunkan hujan lebat pada musim kemarau, angin puyuh, gempa bumi atau gerhana yang menakutkan dan menggemparkan republik Kera.

Lakon bergulir dalam balutan karawitan hasil kerja jenial dari composer Rahayu Supanggah. Karawitan yang seakan mengingatkan kepada setiap manusia setengah kera beserta kera setengah manusia.

Komposer kawakan itu mengajak mereka agar menengadah ke hamparan langit karena di sana bersemayam denting musik "rasa" (rasa, perasaan) untuk bersedia membuka diri dengan tangan hati yang menengadah agar terhindar dari ancaman sikap-sikap "kaya khewan" (seperti hewan).

Manusia berhati kera melakukan aksi tiru-meniru yang sifatnya merusak (destruktif), atau meminjam istilah filosof Yunani klasik Plato, manusia berhati kera melakoni mimesis. Meskipun dalam lakon Opera Jawa, Selendang Merah yang dibawakan dalam tempo dua jam itu, Tuan Ledhek meniru seraya berkonflik dengan Hanoman.

Di suatu desa, ada bencana. Rombongan ledhek didaulat melakukan upacara tolak bala. Hanoman tidak sudi karena ia menghadapi rekan-rekannya yang nota bene juga kawanan kera. Tuan Ledhek murka melihat penolakan Hanoman. Cambuk demi cambuk dilayangkan kepada Hanoman.

Di balik lontaran cambuk mendera diri sang kera yang mulai mengerling iba Sri Ledhek, ternyata Tuan Ledhek terbakar bara cemburu. Ketika digelar puncak tolak bala, Hanoman mencumbu Sri Ledhek. Keduanya terpagut bara asamara. Hanoman tersulut pencerahan.

Dan abrakadabra...sang kera merasa dirinya berubah tidak sekedar menjadi (becoming) hewan", melainkan ada (being) seperti manusia.

Hanoman mengajak tarung Tuan Ledhek. Konflik tak terhindarkan, sang budak dan sang tuan bertarung habis-habisan untuk memenuhi kredo di altar darah pengorbanan bahwa manusia telah memiliki (having) hati kera dan berperilaku (doing) layaknya kera.

Berlaku seperti kera, dengan bertindak seperti hewan, di mata amatan staf pengajar STF Drijarkara, Franz Magnis-Suseno SJ dalam bukunya Etika Jawa, menyentuh kelakuan amoral, yang dianggap sebagai perilaku jauh dari tatakrama. Bertindak dengan berhati kera melawan ungkapan "wis dadi wong", ia sudah menjadi manusia.

Dalam tarian, karawitan dan seni film yang dilakonkan dalam Opera Jawa "Selendang Merah" dicetuskan bobot keindahan, kepekaan, keseimbangan, agar rasa batin terus terasah.

Ketika menulis mengenai batin terasah dan budi terjernihkan - jauh dari sosok manusia berhati kera - antropolog kondang, C. Geertz menulis, "Makin halus rasa seseorang, makin mendalam pengertiannya, makin luhur sikap moralnya, dan makin indah segi luarnya".

Berlaku dan bertindak seperti kera karena memiliki hati kera terpulang kepada alam pikir Jawa. Dikisahkan dalam berbagai mitos bahwa ada binatang-binatang yang menyerupai manusia, dan manusia mirip binatang tetapi lebih kuat dan bengis, bahkan lebih cerdik dari manusia.

Di bidang penyediaan makanan bagi rakyat, manusia-manusia berhati kera beraksi, salah satunya memanipulasi dan mengorupsi penyediaan daging sapi. Impor daging sapi dibayangi kongkalikong antara pemburu rente dengan oknum pemerintah.

Di bidang pengelolaan pajak dari rakyat, manusia-manusia berhati kera nekad menilep dan melakukan penyalahgunaan kewenangan. Sejumlah pegawai Direktorat Jenderal Pajak tertangkap tangan menerima uang suap ratusan juta rupiah.

Di bidang politik, terbersit warta bahwa birokrasi telah menjadi (becoming) mesin uang bagi kepentingan politik. Sementara, di bidang hukum, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum berhenti menetapkan tersangka kasus Hambalang.

Di bidang keamanan, tim Investigasi TNI AD telah mengumumkan 11 anggota Komando Pasukan Khusus terlibat penyerangan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Cebongan, Sleman, DI Yogyakarta.

Semua drama dari bidang politik, ekonomi dan hukum itu meminta korban, karena Hanoman mengajak duel Tuan Ledhek. Yang lebih mengenaskan, makna harmoni tinggal dongeng penghantar tidur.

Harmoni kerapkali dihembus-hembuskan penguasa sebagai tameng agar rakyat tidak memberontak. Bagaimana mungkin bicara harmoni bila di sana-sini ada kesewenangan dari kekuasaan.

"Apa bedanya kekuasaan tidak melek dengan telek (tinja), jungkir balik, jungkir balik," demikian naskah Opera Jawa "Selendang Merah" dalam babak 3 dialog 10.

"Tuan Ledhek merasa orang orang penting, apa bedanya orang sok penting dengan orang sinting". Dalam dialog Sriledhek menggugat nasibnya, "kekuasaan, kamu melempar, kamu yang tertampar".

Lakon manusia berhati kera dalam trilogi Opera Jawa "Selendang Merah" menggugat etika harmoni, karena yang ada melulu kekerasan dan kesewenangan dari kekuasaan. Etika harmoni?

Budayawan Sindhunata dalam buku Kambing Hitam menulis, "...harmoni itu tidaklah ada. Jangan-jangan yang awali dan khas Jawa sama dengan yang awali dan khas manusia lainnya, yakni rivalitas, yang buahnya adalah permusuhan dan perseteruan antarmanusia yang tiada habisnya..."

"Kultur kita bukanlah kultur yang begitu saja mengandung harmoni. Kultur kita juga diwarnai dengan konflik, dan kekerasan...ya sebuah kultur yang di dalamnya mengandung Batara Kala," tulis Sindhunata.

Dalam Batara Kala itulah, manusia berperilaku jadi hewan, dan hewan berperilaku sebagai manusia. Batara Kala telah mencambuk manusia agar menjadi sirkus manusia yang serba jungkir balik menuju arak-arakan kematian.

Dan tembang karawitan penutup, "rahim adalah ibu alam. Membunuh isi alam adalah membunuh rahim ibu. Membunuh asal usul kemanusiaan."
(*)

Oleh A.A. Ariwibowo
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar