Pariwisata ancam seni budaya Bali

Pariwisata ancam seni budaya Bali

Dua anak berada di dekat seorang penari yang memainkan tarian topeng tua di Bali Classic Centre (BCC), Ubud, Gianyar, Bali, Minggu (11/3). Di BCC pengunjung dikenalkan pada kesenian dan adat istiadat Bali. (FOTO ANTARA/Seno S)

... mereka berteriak kembalikan Baliku padaku... "
Denpasar (ANTARA News) - Guru Besar Universitas Udayana, Prof Dr I Nyoman Darma Putra, mengingatkan, sektor pariwisata yang berkembang pesat kini menjadi salah satu ancaman terhadap pengembangan dan kelestarian seni budaya Pulau Dewata.

"Pariwisata menjadi ancaman lewat kekuatan kapital dan global, sehingga pariwisata sering dicurigai sebagai musuh dalam selimut yang secara diam-diam bisa menghancurkan seni budaya setempat," kata Putra, di Denpasar, Rabu.

Alumnus S-3 University of Queensland Australia mengatakan, kekhawatiran itu tidak berlebihan, mengingat resiprokalitas paradoksal bermuara menjadi kekuatan tunggal untuk membela supaya seni budaya Bali tetap kokoh (ajeg).

Selain itu seni budaya Bali berkesinambungan, sekaligus menjadi pilar dan daya tarik utama pariwisata. Bali kaya akan budaya jalanan (street culture), namun miskin akan budaya yang dipentaskan di panggung (staged culture).

Putra menambahkan, berkembang dan lestarinya seni budaya di tengah-tengah kehidupan dapat dilihat dalam berbagai bentuk, mulai dari kegairahan masyarakat untuk melaksanakan upacara keagamaan.

Selain itu melakukan renovasi tempat-tempat suci dengan arsitektur khas Bali, mengenakan busana adat sampai pada kebanggaan menjadi orang Bali.

"Saat kebalian itu terancam hilang, mereka berteriak kembalikan Baliku padaku," kata dia.

Banyak contoh semaraknya street culture belakangan ini. Prosesi ogoh-ogoh merupakan tradisi baru, yang ditemukan di tengah memuncaknya kekhawatiran masyarakat akan lenyapnya budaya Bali dari gerusan gelombang pariwisata.

Sebelum '80-an, prosesi ogoh-ogoh menjelang malam pergantian Tahun Baru Saka (Hari Raya Nyepi) hampir tidak ada. Belakangan, sejak '90-an, pawai ogoh-ogoh seperti menjadi keharusan rangkaian ritual penyambutan hari besar itu.

Bahkan pemerintah Kota Denpasar melihat penting kreativitas masyarakat khususnya anak muda dalam tradisi baru ogoh-ogoh sehingga mengadakan festival ogoh-ogoh.

Contoh lain dari semaraknya budaya masyarakat (jalan) adalah prosesi melasti (membersihkan benda suci) ke pantai atau sumber mata air dan aktivitas lainnya di Pura setiap purnama tilem, selain puncaknya saat piodalan.

Pewarta:
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar