Aparat jangan arogan hadapi demonstran

Aparat jangan arogan hadapi demonstran

ILUSTRASI-Polisi Bubarkan Mahasiswa Petugas kepolisian menembakkan gas air mata untuk membubarkan aksi unjukrasa mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) di Jalan Diponegoro, Salemba, Jakarta, Senin (17/6). (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Saleh Partaonan Dalay, mendesak aparat kepolisian yang mengamankan aksi demonstrasi di seluruh wilayah Indonesia bertindak profesional dan menghindari cara-cara arogan dan anarkistis.

"Demonstrasi dan penolakan terhadap keputusan pemerintah dan DPR terkait kenaikan harga BBM dinilai sangat wajar sebagai bentuk penyampaian sikap dan aspirasi di alam demokrasi," kata Saleh Partaonan Daulay, di Jakarta, Selasa.

Karena itu, kata Saleh, selain menjaga keamanan, aparat kepolisian pun semestinya dapat membantu para demonstran agar suara dan aspirasi mereka didengarkan.

Saleh mengatakan polisi seharusnya bersikap netral dalam mengamankan aksi demonstrasi. Kalaupun ada demonstran yang bersuara lantang dengan nada emosional, itu bukan ditujukan kepada aparat kepolisian.

"Namun kalau ditanggapi berlebihan, bisa saja emosi para pendemo malah justru berbalik arah kepada aparat yang ada di lapangan. Karena itu, polisi harus netral," tuturnya.

Saleh mengatakan dari pantauan di media massa, sejauh ini ditemukan beberapa kasus aparat kepolisian terprovokasi melakukan tindak kekerasan. Bahkan, di antaranya ada yang sampai terlibat baku hantam dengan para pendemo.

"Rekaman video yang ditayangkan media adalah bukti yang sulit dibantah. Apa pun latar belakangnya, aksi kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian tentu tidak bisa diterima," katanya.

Menurut Saleh, jangan sampai tindakan aparat itu menimbulkan antipati di tengah masyarakat. Penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi, bisa jadi malah berujung pada penolakan terhadap aparat kepolisian.
(D018)

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Ella Syafputri
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Cara milenial kritisi permasalahan bangsa

Komentar