Tiga BUMN akan beli lahan peternakan di Australia

Tiga BUMN akan beli lahan peternakan di Australia

Tiga BUMN, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Bulog, dan PT Pupuk Indonesia sepakat membentuk perusahaan patungan (joint venture) dan membeli lahan 1 juta hektar di Australia untuk dijadikan tempat peternakan sapi. (FOTO ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

Jakarta (ANTARA News) - Tiga BUMN, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Bulog, dan PT Pupuk Indonesia sepakat membentuk perusahaan patungan (joint venture) dan membeli lahan 1 juta hektar di Australia untuk dijadikan tempat peternakan sapi.

"Kami sudah siap untuk ekspansi lahan 1 juta hektar di Australia. Jika Kementerian BUMN memberi izin akan segera kita realisasikan," kata Direktur Utama RNI Ismed Hasan Putro disela peluncuran produk daging sapi "Raja Daging" di Gedung RNI di Jakarta, Rabu.

Menurut Ismed, pembelian 1 juta hektar lahan di Australia dalam jangka panjang untuk menstabilkan harga daging sapi Indonesia yang saat ini masih berkisar Rp90.000-Rp100.000 per kilogram.

Dana yang dibutuhkan untuk pembelihan lahan diperkirakan mencapai Rp300 miliar, di luar pembelian bibit sapi.

Ismed mengaku, rencana tersebut telah mendapat dukungan dari Bank BUMN, yaitu Bank Mandiri, Bank BRI dan Bank BNI.

"Saya ingin kita membentuk konsorsium, tidak sendiri-sendiri. Jika bersama-sama tentu akan memiliki kekuatan yang cukup besar dari sisi pendanaan," kata Ismed.

Masing-masing pihak yang terlibat dalam rencana besar itu sedang menyelesaikan studi kelayakan bisnis untuk kemudian disampaikan ke Kementerian BUMN.

"Sebelum 20 Juli 2013 studi kelayakan sudah ditangan Menteri BUMN untuk diadu satu sama lainnya," kata Ismed.

Rencananya lahan peternakan di negeri Kangguru tersebut akan digunakan untuk menghasilkan bibit sapi atau pedet, yang kemudian dikirim ke Indonesia untuk digemukkan.

Namun harus ada jaminan pemerintah berupa regulasi agar sapi pedet dan siap potong bisa dibawa ke Indonesia.

"Jangan sampai kita sudah mengambil risiko bisnis, namun di dalam negeri soal kuota daging sapi belum "clear". Harus ada komitmen jangka panjang soal daging nasional," ujar Ismed.

Selama ini biaya penggemukan sapi di Indonesia ternyata lebih murah ketimbang di Australia, sebaliknya pembibitan lebih mahal di Indonesia.

Meski demikian, Ismed belum dapat memastikan apakah konsorsium berhasil mendapatkan lahan 1 hektar.

Lahan 1 juta hektar masih tergolong kecil, dibanding Brunai Darussalam yang sudah memiliki lahan peternakan 4 juta hektar, dan Malaysia seluas 2 juta hektar di Australia.

"Satu juta hektar lahan peternakan masih relatif kecil dibanding tingkat kebutuhan daging sapi Indonesia yang terus meningkat," ujar Ismed.

Pewarta: Royke Sinaga
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar