Iklan obat mag sudah "kebablasan"

Iklan obat mag sudah "kebablasan"

ilustrasi penjualan obat di suatu pasar swalayan (ANTARA/Rosa Panggabean)

Jakarta (ANTARA News) - Promosi obat mag ada yang sudah kebablasan karena  seolah-olah bisa mencegah gangguan lambung selama berpuasa.

"Padahal, obat itu digunakan hanya untuk mengurangi keluhan lambung dan bukan untuk mencegah orang untuk menderita sakit mag karena berpuasa," kata pakar penyakit dalam dari Divisi Gastroenterologi Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu.

Fahrial Syam minta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menertibkan iklan produk obat mag yang menurut dia menyesatkan, terutama pada bulan puasa ini.

Ia berpendapat bahwa secara teori mestinya kebutuhan obat mag akan menurun selama Ramadan karena selama menjalani puasa terjadi keteraturan dalam mengonsumsi makanan.

"Hal inilah yang menyebabkan pasien dengan sakit mag akan lebih nyaman bahkan merasa sembuh saat puasa Ramadan. Jadi, seharusnya konsumsi obat mag di tengah masyarakat seharusnya juga menurun," katanya menandaskan.

Menurut Ari, hal itu terkait dengan iklan yang menganjurkan konsumsi obat mag yang mengandung antasida untuk pencegahan, padahal antasida sebenarnya hanya diberikan jika ada keluhan.

Antasida. lanjutnya, bersifat menetralkan asam lambung sehingga akan dapat mengurangi keluhan pasien.

"Oleh karena itu, tidak benar promosi atau iklan obat sakit mag yang menganjurkan minum obat maag untuk pencegahan agar tidak mengalami gangguan mag," katanya.

Ia mengingatkan bahwa antasida sendiri sebenarnya dapat menimbulkan efek samping jika tidak digunakan dengan benar.

Antasida, ujar dia, dapat menyebabkan seseorang menjadi sembelit sehingga membuat pencernaannya menjadi tidak nyaman. Belum lagi efek samping pada ginjal dari penggunaan antasida yang tidak sesuai dengan aturan.

"Oleh karena itu, saya berharap masyarakat lebih cerdas dalam melihat iklan-iklan di TV dan tidak otomatis mengikuti anjuran-anjuran dari iklan-iklan tersebut," kata Fahrial Syam.

Pewarta: Muhammad Razi Rahman
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar