Hikmah puasa latih diri perbanyak ukhrawi

Hikmah puasa latih diri perbanyak ukhrawi

Buka Puasa Pertamina Ribuan anak yatim dari kawasan Jabodetabek mengikuti acara syukuran dan buka puasa Pertamina bersama Presiden Yudhoyono dan 5000 anak yatim di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, Jakarta, Minggu (21/7). (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Palangka Raya (ANTARA News) - Banyak hikmah puasa di bulan suci Ramadhan. Hikmah yang kentara adalah melatih disiplih dalam kehidupan.

Kalau sebelum puasa, disiplin mungkin "terabaikan", yakinlah bahwa sepanjang Ramadhan kita bisa melatih mengatur waktu (ibadah) dalam kehidupan.

Semua orang beriman dilatih mengatur waktu untuk memperbanyak ibadah sebagai investasi ukhrawi di bulan suci ini.

Shalat wajib lima waktu, shalat tarawih, iktikaf, membaca Alquran, waktu berbuka dan makan sahur. Semua itu merupakan upaya melatih diri, disiplin dalam segala masalah kebaikan.

Itu bagian dari hikmah puasa Ramadhan yang patut dihayati dan ditindaklanjuti secara paripurna setelah sebulan menunaikan ibadah puasa.

Artinya, disiplin mengatur waktu (hikmah) itu hendaknya melekat dan tidak lekang dalam kehidupan setelah melaksanakan rukun Islam ketiga tersebut.

"Puasa menurut syariat adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa seperti makan, minum, hubungan suami istri sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa disertai niat beribadah kepada Allah SWT," kata Syed Hasan Alatas.

Ibadah puasa yang mengandung banyak hikmah itu disyariatkan sekitar tahun kedua Hijriyah seperti firman Allah yang artinya,

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" (Al Baqarah ayat 183).

Puasa itu diwajibkan kepada umat Islam, sehingga amalan ibadah ini dinilai sendiri oleh Allah SWT. "Setiap kebaikan digandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali kecuali puasa. Karena adalah untuk-Ku dan Akulah yang memberikan balasannya." (hadist).

Sesungguhnya puasa itu adalah perisai yang dapat melindungi manusia beriman dari berbagai godaan atau menepis perkataan dan perbuatan yang dapat membatalkan puasa.

Menahan diri untuk makan dan minum serta meniadakan perkataan yang tidak bermakna.

Jika kita sedang berpuasa, maka janganlah berkata-kata yang keji dan mudah menjadi berang (emosi). Andai kita dicela seseorang atau diajak berbicara sesuatu yang tidak bermakna dan bernilai ibadah, maka katakanlah sesungguhnya aku berpuasa.

Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar ibadah puasa yang mendapat balasan khusus dari Allah SWT itu dilaksanakan sesuai syariat.

"Demi (Tuhan) yang jiwa Muhammad itu di tanganNya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu adalah lebih baik di sisi Allah daripada bau kasturi." (hadits).

Hikmah puasa

Banyak hikmah puasa bila dilaksanakan sesuai syariat. Selain dapat mendisiplinkan diri dalam berbagai aktivitas ibadah sepanjang Ramadhan, puasa juga memberi petunjuk hidup seimbang antara rutinitas untuk memenuhi kebutuhan dan ibadah kepada Allah SWT.

Ibadah puasa juga mengajarkan manusia terhadap pentingnya persaudaraan dan silaturrahmi. Shalat berjamaah di masjid, saling bersalaman usai menunaikan ibadah, membaca Alquran (tadarrus) menjadi bagian persaudaraan tanpa bayar alias gratis.

Persaudaraan sesama muslim terlihat jelas di bulan suci Ramadhan. Banyak masjid yang menyediakan bahan berbuka puasa gratis. Banyak penceramah menyumbang pemikirannya berdiskusi soal keagamaan di masjid atau mushalla secara gratis.

Semua ini merupakah hikmah puasa yang sejatinya berlanjut, sehingga persaudaraan seperti ini tidak hanya di bulan suci Ramadhan. Kajian soal keagamaan di kalangan masyarakat muslim hendaknya juga dilakukan secara terus menerus untuk meningkatkan pengetahuan.

Kepedulian terhadap orang kurang mampu juga termasuk dalam hikmah puasa karena dengan merasa lapar dan dahaga akan terketuk hati kita pada nasib anak yatim, fakir miskin dan orang yang sedang ditimpa musibah gempabumi di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Apakah kita tidak peduli dan prihatin terhadap nasib mereka seperti itu. Kepedulian membantu orang yang belum beruntung dan ditimpa musibah, merupakan bagian dari hikmah puasa Ramadhan. Pahala melimpah manakala kita berkenan membantu anak yakin dan fakir miskin.

"Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin . Maka terhadap anak yatim maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap pengemis janganlah menghardik." (Al Ma`un ayat 1-2 dan Ad Dhuha ayat 9-10).

Rasulullah SAW menerangkan tentang keutamaan mengurus anak yatim. Aku dan pengasuh anak yatim berada di Surga seperti ini.

Beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah-nya dan beliau sedikit merengganggangkan kedua jarinya.

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.

Perbanyak investasi ukhrawi

Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, rahmah dan hikmah. Bulan suci Ramadhan dapat dijadikan kesempatan memperbanyak investasi ukhrawi dengan berbagai ibadah, karena semua kebaikan yang dilakukan itu mendapat balasan pahala berlipat ganda.

Selain dapat melatih diri untuk memperbanyak amal ibadah dan menghindari dosa sebagai salah satu tujuan puasa, sejatinya juga berorientasi pada tujuan hakiki, yakni terbiasa hidup dalam ibadah. Semua yang dilakukan hendaknya bernilai ibadah usai Ramadhan.

Bulan mulia ini (Ramadhan) mengajarkan bahwa hidup kita bernilai ibadah. Setiap langkah yang kita ayunkan bernilai ibadah. Artinya, menuju masjid ibadah; menolong orang ibadah; tidur orang puasa ibadah; tersenyum ibadah; membuang duri di jalan ibadah; dan berbuat adil pada manusia ibadah.

Puasa melatih kita untuk selalu berhati-hati dalam setiap perbuatan, terutama yang mengandung dosa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan segala perkataan dan perbuatan yang dapat membatalkan puasa.

"Latihan" selama bulan Ramadhan diharapkan terpatri erat dan positif dalam diri kita sehingga terbiasa dengan perkataan dan perbuatan bernilai ibadah. Kita sejatinya tidak akan mengguncing, berkata kotor, dan ingkar janji setelah bulan suci Ramadhan.

Hikmah puasa yang dapat memperbanyak investasi ukhrawi juga hendaknya selalu bersikap tabah menghadapi kendala dalam kehidupan. Puasa mengajarkan kita terbiasa menahan diri dari perbuatan yang tidak baik seperti buruk sangka terhadap orang lain.

Kita dianjurkan sabar atas segala perbuatan orang yang mungkin tidak sesuai dengan logika manusia pada umumnya. Sebaiknya kita menghindari berbicara yang tidak bermanfaat, apalagi bernuansa fitnah karena itu mengurangi pahala puasa.

Dengan sifat sabar atas berbagai "rayuan" syaithan yang menjerus dosa menjadi gagal. Kita menjadi pemenang karena syaithan akan kalah manakala manusia mengedepankan sifat sabar dalam kehidupannya. Ramadhan kesempatan perbanyak investasi ukhrawi.

Ramadhan sesungguhnya mengajarkan manusia akan arti hidup sederhana. Hidup sederhana merupakan ajaran Islam yang sejatinya menjadi pakaian dalam kehidupan masyarakat muslim, termasuk di bulan suci ini dan setelah Ramadhan nanti.

Puasa selama kurang lebih 12 jam terasa lapar dan dahaga, namun semua itu bukan berarti kita harus boros dengan membeli aneka kue dan minuman yang dijual pedagang di setiap daerah sepanjang bulan suci Ramadhan.

Hemat tidak berarti kita menahan diri tanpa makan, tapi bagaimana kita memaknai sederhana dalam kehidupan. Puasa menyadarkan kita terhadap pentingnya hidup sederhana. Sebanyak apa pun kebutuhan hidup kita, sudah terukur; sederhana dan hemat.

Kesederhanaan dalam kehidupan dapat menuntun manusia pada rasa syukur akan rahmat dan nikmat yang dianugerahkan Allah SWT. Rasa syukur akan adanya rahmat dan nikmat yang kita miliki terasa semakin sederhana ketika puasa.

Secara sederhana bisa berarti bahwa kita merasa lapar tapi masih ada makanan yang bisa kita makan. Tapi bagaimana dengan orang yang merasa lapar (bukan karena puasa) tapi karena tidak punya makanan. Kita sakit ada obat, tapi ada orang yang sakit tidak punya obat.

Kita enak, ketika kita puasa merasa lapar dan haus, kita lengahkan dengan menonton televisi atau hal-hal lain seperti internet. Bagaimana dengan orang ketika lapar dan haus mereka tidak memiliki makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Bahagia dan gembiranya hati orang-orang yang beriman dengan kedatangan bulan Ramadhan.

Bukan hanya karena balasan pahala berlipat ganda, tapi juga hidup hemat dan sederhana yang bisa jadi berlanjut dalam kehidupan di luar Ramadhan.

Ramadhan penuh berkah karena pada 17 bulan suci ini Allah SWT menurunkan kitab suci Al Quranulkarim yang di dalamnya mengandung berbagai pengetahuan dan menjadi petunjuk bagi seluruh manusia untuk membedakan benar dan salah.

Kita bersyukur masih diberi waktu untuk melaksanakan ibadah Ramadhan 1434 Hijriyah, dan ini merupakan kesempatan memperbanyak investasi ukhrawi karena dengan berpuasa organ tubuh kita mendapat (hikmah) "cuti" setelah 11 bulan bekerja tanpa henti. 

(S019/A025)

Pewarta: Saidulkarnain Ishak
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Kurma - Hikmah di balik wabah COVID-19

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar