Pengusaha mie basah beralih dari terigu ke tapioka

Pengusaha mie basah beralih dari terigu ke tapioka

Produksi Mie Glosor. Pekerja mengoperasikan alat press hidrolik untuk pembuatan mie glosor di industri rumahan, jalan Pancasan Baru, Pasir Jaya, Kota Bogor, Jabar, Sabtu (13/7). Mie glosor sebagai makanan untuk menu berbuka puasa ini mengalami peningkatan produksi dari biasanya 3 ton menjadi 12 ton/hari sehingga pengusaha kewalahan memenuhi tingginya pesanan untuk wilayah Bogor dan Cianjur. (ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)

....Saya berusaha mempopulerkan mie basah berbahan lokal ini supaya nanti jika ada kelangkaan tepung terigu, saya masih bisa bertahan."
Bantul (ANTARA News) - Pengusaha mie basah di Dusun Karangnongko, Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai beralih menggunakan tepung tapioka sebagai bahan baku karena kenaikan harga tepung terigu.

Pengusaha mie basah Karangnongko, Waljito di Bantul, mengatakan, sejak harga tepung terigu naik karena dampak pelemahan nilai tukar rupiah beberapa waktu lalu pihaknya mulai menggunakan bahan baku tepung tapioka untuk memproduksi mie.

"Untuk tepung terigu, saya memproduksi 25 zak per hari, ditambah tepung tapioka sebanyak 10 zak. Saya berusaha mempopulerkan mie basah berbahan lokal ini supaya nanti jika ada kelangkaan tepung terigu, saya masih bisa bertahan," katanya.

Menurut dia, meski tidak banyak, namun upaya untuk melakukan diversifikasi penggunaan bahan lokal tersebut diharapkan bisa membantu kelancaran usahanya jika nanti terjadi kelangkaan bahan baku tepung terigu.

Ia mengatakan, tekstur mie basah dengan bahan baku tepung terigu memang lebih elastis dibandingkan mie basah tapioka, namun mie basah tapioka lebih membantu para perajin karena tidak memerlukan banyak campuran serta lebih berbobot.

"Kelemahannya mie basah tapioka memang belum bisa diterima pasar, karena konsumen masih fanatik dengan mie basah terigu. Peralihan ini memang harus terus dikampanyekan, terutama dalam penggunaan bahan lokal," katanya.

Menurut dia, sejak harga tepung terigu naik dari Rp147.000 menjadi Rp150.000 per zak, pihaknya mengalami penurunan produksi cukup signifikan, yakni dari 30 zak menjadi sekitar 15 sampai 25 zak per hari.

Kondisi tersebut, kata dia diperparah dengan kenaikan harga bahan baku lainnya sehingga otomatis berdampak pada kenaikan ongkos produksi.

"Dengan harga bahan baku segitu, idealnya mi basah dijual antara Rp5.000 sampai Rp5.500 per bungkus, namun rata-rata konsumen masih minta bertahan Rp4.500 per bungkus, ini menyulitkan kami," katanya.

Ia berharap, sebagai langkah antisipasi, pemerintah menstabilkan harga kebutuhan pokok terutama tepung terigu, karena jika tidak maka pengusaha mie basah seperti dirinya tidak akan bisa bertahan lebih lama.

"Mungkin dengan operasi pasar atau kebijakan lain, yang pasti harus bisa menstabilkan harga kebutuhan pokok seperti semula," katanya. (HRI/B015)

Pewarta: Heri Sidik
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2013

INKA salurkan bantuan modal usaha gerobak mie ayam di Madiun

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar