counter

Roman Rahwana-Sinta dalam konser musik Sujiwo Tejo

Oleh Ade Irma Junida

Roman Rahwana-Sinta dalam konser musik Sujiwo Tejo

Sujiwo Tejo. (ANTARA/Fahrul Jayadiputra)

Jakarta (ANTARA News) - "Tuhan, jika cintaku pada Sinta terlarang, kenapa Kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku..."

Demikian ungkapan cinta Rahwana untuk Sinta.

Jika dalang lain mengangkat soal agungnya kisah cinta Rama-Sinta, dalang Sujiwo Tejo justru mengambil kisah cinta soal tokoh antagonis Rahwana terhadap Sinta, yang ia culik dari pelukan Rama.  

Dalam kisah pewayangan yang umum diketahui masyarakat, Raja Alengka yang digambarkan sebagai tokoh jahat dan menyeramkan itu menculik Sinta dari hutan Dandaka, tempat pasangan Rama-Sinta dan adik iparnya Lesmana diasingkan dari kerajaan Ayodya.

Kematian adiknya Surpanaka, membuat Rahwana dendam pada Rama dan Lesmana hingga ia memutuskan untuk menculik Sinta. Meski memendam rasa dendam, perasaan Rahwana terhadap Sinta justru berbeda. Ia mencintai Sinta dengan sepenuh hati dan terus berupaya menggaet hati sang permaisuri.

Perasaan Rahwana inilah yang dipotret penulis, pemusik dan pelukis kawakan Sujiwo Tejo dalam konser musik bertajuk "Maha Cinta Rahwana" yang dibawakan dalam rentang dua setengah jam.

Romatisme Rahwana tersurat dalam puisi yang dituturkan dalang bernama asli Agus Hadi Sudjiwo itu. Rasa rindu yang mengiris banyak diungkap di awal konser musik yang diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat malam itu.

Tak hanya melalui puisi, kecintaan Rahwana pada Sinta juga terungkap melalui lagu-lagu Sujiwo Tejo yang dihimpun khusus dalam rangkaian konser arahan Agus Noor.

"Ingsun", "Hujan Deras", "Anyam Anyaman Nyaman", "Blak-blakan", "Ole Olang Wanita", "Changing Room", "Pada Sebuah Ranjang", "The Sound of Orang Asyik", "Jancuk", "Zen Die", "Gugur Bisma", "Pada Suatu Ketika", dan "Kidung Kekasih" serta adegan drama dan tari-tarian melengkapi suguhan pertunjukan.

Tata panggung sederhana membuat penonton bisa dengan tenang menonton pertunjukan. Lagu-lagu yang dibawakan penyanyi seperti Syaharani, Glenn Fredly, Sruti Respati dengan musik arahan Binttang Indrianto dan artistik karya Ong Harry Wahyu itu juga dengan suksesnya menyedot perhatian penonton.

Sarat Sindiran

Konser musik yang menampilkan seniman sekaliber Butet Kertaredjasa itu juga sarat akan sindiran halus akan isu terkini. Misalnya, saat Butet yang berperan sebagai resi (tokoh agama) itu berkelakar soal pencarian pemimpin yang dilakukan salah satu partai politik melalui konvensi.

Sang resi juga mengkritisi soal sulitnya umat untuk bisa beribadah karena karena harus tersandung masalah diskriminasi, satu hal yang kini tengah dialami Muslim Sampang.

Meski beberapa isu yang dibawakan cukup berat, ada banyak banyolan yang membuat gelak tawa penonton pecah di sepanjang pertunjukan.

Emosi penonton dibawa turun naik dalam rangkaian lagu, gerak tari dan adegan pewayangan yang disajikan tanpa ada batasan. Belum lagi Presiden Republik Jancukers ini juga tak segan mengajak penonton ikut bernyanyi di salah satu lagu.

Tak perlu takut "tersesat" saat menonton pagelaran wayang Sujiwo Tejo. Meski kebanyakan lagu ciptaannya berbahasa Jawa, hampir setengah dialognya dibawakan dalam Bahasa Indonesia.

Trio GAM (Joned, Gareng, Wisben) yang bertindak sebagai Punakawan juga memeriahkan konser yang digelar 30-31 Agustus 2013 itu. Tak perlu takut missed the joke, karena punakawan lucu ini tak sepenuhnya menggunakan Bahasa Indonesia seperti lakon umumnya meski tanpa meninggalkan kesan Jawa-nya.

Konser musik yang menandai 25 tahun kiprah Sujiwo Tejo masih akan berlangsung 31 Agustus 2013 pukul 14.00 dan 20.00 WIB. Tiket masuk dibanderol mulai dari Rp100.000 untuk kelas balkon hingga Rp500.000 untuk kelas Platinum. Penggemar seni dan sastra tentu tidak akan melewatkan konser musik si  "dalang edan" ini.

Oleh Ade Irma Junida
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar