counter

Bila mahasiswa asing belajar Indonesia

Bila mahasiswa asing belajar Indonesia

Foto dokumentasi CommTECH 2012 - peserta program Community and Technological (CommTECH) Camp 2012, mencermati karya batik (FOTO ANTARA/Eric Ireng)

Surabaya (ANTARA News) - "The sound quality is very good," puji Dr Irtiza Ali Shah dari National University of Science and Technology, Islamabad, ketika mengetahui gamelan di Jurusan Teknik Elektro ITS Surabaya.

Irtiza Ali Shah adalah salah seorang dari 48 mahasiswa asing dari 14 negara yang mengikuti kegiatan internasional bertajuk "Community and Technology (Commtech) Camp 2013" yang digelar "International Office" (IO) ITS Surabaya, 26 Agustus-3 September.

Namun, Irtiza Ali Shah dan rekan-rekannya tidak hanya mengenal gamelan tradisional, karena di jurusan itu juga ada gamelan berteknologi Android, yakni Gamelan Toetoel.

"Gamelan Toetoel ini menggantikan gamelan tradisional yang aslinya berat dan kurang praktis untuk dibawa-bawa, agar anak-anak muda lebih mudah belajar memainkannya," kata pendamping para mahasiswa asing itu, Gustisatya Perdana.

Para peserta sangat antusias dengan teknologi gamelan itu, mereka pun bergantian mencoba memainkan gamelan, baik yang tradisional maupun yang elektronik.

Di jurusan yang sama, mereka juga menyaksikan presentasi mengenai Spectronics, sebuah konsep mobil dengan bahan bakar biofuel.

Mobil dalam bentuk konsep itu telah melalui beberapa generasi perkembangan dan memenangkan juara ketiga Chemical Engineering Car Competition (Chem-E Car) 2011 di Berlin, Jerman.

Selain itu, mereka juga menikmati pameran hasil karya terbaik mahasiswa Desain Produk Industri (Despro) ITS.

Pengenalan mereka tentang Indonesia juga dilakukan dengan menikmati kuliner khas Indonesia di Restoran Halo Surabaya. Selain makan malam, mereka juga menyaksikan penampilan musik dari para mahasiswa ITS.

Tidak hanya budaya, para peserta juga diajak untuk belajar Bahasa Indonesia dengan mengunjungi UPT Bahasa ITS. Kedatangan mereka langsung disambut dengan ucapan "Selamat pagi" oleh para staf dan pengajar di UPT itu.

"Bahasa Indonesia sangat menarik untuk dipelajari, namun pengucapan yang berbeda membuat proses belajar sedikit lambat," komentar Nurgul Bolat dari Yildiz Technical University, Turki, kepada Kepala UPT Bahasa ITS, Dr Kartika Nuswantara.

Mereka juga belajar lagu "Suwe Ora Jamu". Setelah belajar bahasa, menyanyi, dan belajar tarian sederhana, mereka juga berlomba memasak rujak bersama-sama.

Peserta juga sempat berdiskusi mengenai "Roles and Challenges of Student Movement in Different Countries" untuk membahas berbagai aspek mengenai pergerakan mahasiswa, termasuk usaha penyeimbangan antara "hard skills" dan "soft skills".

Hadir pula Nadia Sanggra Puspita dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS yang memotivasi mereka untuk berperan sebagai "changemaker dalam lingkup global". Nurgul Bolat dar Turki pun memujinya, "Ambisi yang sangat memberi inspirasi".

Ketua ITS International Office ITS Maria Anityasari PhD mengatakan peserta memang berasal dari Malaysia, Thailand, China, Jepang, Inggris, Timor Leste, Belarusia, Turki, Pakistan, Jordania, Afrika Selatan, dan sebagainya.

"Prinsipnya, kami mengajak para mahasiswa mancanegara untuk saling berdiskusi guna mencari solusi dari permasalahan lokal dengan pengetahuan global di masing-masing negara, karena itu tema kegiatan kali ini adalah Solving Local Problems with Global Knowledge," katanya.

Senam dan Tanam
Peserta juga diajak mengenal lingkungan dengan senam dan tanam di halaman Jurusan D3 Teknik Mesin. Mereka mengawali penanaman "Pohon Kebersamaan" dengan senam Poco-Poco.

Noelle Camilla Rivera dari Filipina sangat menyukai lagu pengiring Poco-Poco. "Bolehkah saya menyalin lagunya?," tanyanya kepada panitia di akhir acara.

Tidak jauh dari lokasi senam, beberapa jenis tanaman telah disiapkan lengkap dengan pupuk organik. Seperangkat alat bercocok tanam pun telah siap beserta air dan tanah.

Dengan antusias, para peserta menanam tahap demi tahap. Mulai dari mencangkul, menancapkan tanaman hingga memberi pupuk organik. Rasa puas terlihat ketika mereka mengakhirinya dengan menyiram tanaman yang mereka tanam sendiri.

Beberapa peserta mengungkapkan kegiatan ini sangat unik, karena kegiatan musim panas biasa mereka lakukan di dalam ruangan, seperti mengukir, menggambar dan keterampilan lainnya.

"Saya tidak pernah melakukan ini, sebenarnya saya tidak suka kotor, tapi ini sangat menyenangkan," ungkap Nurul Afiqah Ishek, peserta dari Malaysia.

Sementara itu, Koshiro Hira dari Kumamoto University, juga sangat menyukai kegiatan tanam pohon, karena kegiatan menanam itu sudah biasa dilakukan di negaranya.

"Ini bisa membuat masyarakat lebih mencintai lingkungannya, juga bisa menjadikan Surabaya yang panas ini jadi lebih dingin," komentarnya.

Wakil Rektor IV ITS Prof Dr Darminto yang menghadiri acara penanaman itu pun membuka pelakat pohon bertuliskan "Sowing the Seeds of a New International Generation".

"Sudah saatnya ITS membiasakan diri dengan suasana internasional seperti ini. Dengan kegiatan ini kita mampu mengenal dan mempelajari kehidupan mereka baik dari sisi akademik, riset maupun social life," ungkapnya.

Dalam forum "Commtech Camp 2013" itu, sebagian dari para peserta juga mewakili kepentingan institusinya melakukan kerja sama luar negeri dengan ITS.

Misalnya, Dr Pule Khulopane yang menandatangani kerja sama joint research antara Jurusan Teknik Industri ITS dengan University of Johannesburg, Afrika Selatan, Senin (2/9).

Selain itu, Dr Irtiza Ali Shah menandatangani kerja sama dengan Pusat Studi Teknologi Informasi, Komunikasi dan Robotika LPPM ITS untuk "disaster management vehicle" dan sistem monitoring manajemen bencana.

Ada pula Dr Kola Liadi Mudashiru yang menandatangani kerja sama lecturer exchange dan student exchange antara Newcastle University dengan Jurusan Kimia FMIPA ITS, Selasa (3/9).

Ya, selama kurang lebih seminggu, peserta tidak hanya belajar Bahasa Indonesia dan budaya tradisional Indonesia, namun peserta juga menggali berbagai ide dari ITS, misalnya belajar penanganan bencana, gerakan mahasiswa, hingga belajar mengenai kebijakan, lalu diskusi.

"Ini merupakan salah satu tujuan kita untuk menjadikan Bahasa Indonesia bisa mendunia, sekaligus mengenalkan Indonesia lebih lanjut, tapi kita juga belajar dari negara lain sebagai sahabat yang saling membantu." kata Ketua ITS International Office ITS Maria Anityasari PhD.

(T.E011/Z003)

Oleh Edy M Ya`kub
Editor: Aditia Maruli Radja
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Pujian tinggi-tinggi untuk Indonesia dari wartawan senior Pakistan

Komentar