Kevin Rudd mengaku kalah

Kevin Rudd mengaku kalah

Perdana Menteri Australia Kevin Rudd (ANTARA/Prasetyo Utomo)

Malam ini adalah masa untuk bersatu sebagai bangsa besar Australia"
Sidney (ANTARA News) - Perdana Menteri Kevin Rudd mengaku kalah kepada penantangnya dari kubu konservatif Tony Abbott dalam Pemilu Australia.

Dia mengatakan akan mengundurkan diri dari Ketua Partai Buruh setelah publik menghukum partainya atas isu kesejahteraan di dalam negeri.

Sekitar 100 menit setelah pemungutan suara ditutup, Rudd tampil ke mimbar di stadion kriket Gabba di Brisbane untuk menyelamati lawannya.

"Beberapa saat lagi saya menelepon Tony Abbott untuk mengakui kekakalahan pada pemilu ini," kata dia seperti dikutip AFP, lalu disambut para pendukungnya.

"Sebagai Perdana Menteri Australia, saya doakan dia selamat di jabatan tinggi sebagai perdana menteri negara ini."

Rudd juga mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai ketua partai, dengan mengatakan inilah saatnya berubah.

"Saya tak akan mencalonkan diri lagi dalam kepemimpinan parlementer Partai Buruh. Rakyat Australia, saya yakin layak memulai awal baru dengan kepemimpinan kita."

Dengan 83 persen suara sudah dihitung, Komisi Pemilu Australia menunjukkan data bahwa koalisi Liberal-Nasional yang mengusung Abbott memenangi 88 kursi DPR, sedangkan Partai Buruh 56 kursi.

Abbott, yang didukung kaum monarkis, memanfaatkan perseteruan kubu Rudd dan Julia Gillard yang didepak Rudd dari kepemimpinan Partai Buruh beberapa waktu lalu.

"Keseluruhan sukses yang bisa kami raih dalam pemilu ini adalah berkat dedikasi, determinasi dan komitmen Tony Abbott  menawarakn sebuah pemerintahan alternatif yang jelas fokus, bersatu dan kompeten," kata deputinya, Julie Bishop.

Rudd sendiri memuji Partai Buruh telah berjuang maksimal.  "Malam ini adalah masa untuk bersatu sebagai bangsa besar Australia," katanya.

"Karena apa pun politik kita yang utama dan paling penting adalah rakyat Australia dan hal yang mempersatukan kita adalah jauh lebih kuat dibandingkan apa-apa yang membedakan kita, inilah yang menjadi alasan dunia menghormati Australia."

Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Komentar