Phnom Penh (ANTARA News) - Komisi pemilihan Kamboja Ahad menetapkan pemenang pemilu yang disengketakan adalah partai yang berkuasa pimpinan Perdana Menteri Hun Sen, memicu penolakan oposisi yang bersumpah akan melakukan protes kembali atas kecurangan dalam pemungutan suara itu.

Kerajaan itu di dilanda konflik politik sejak pemilu Juli, dengan Partai Rakyat Kamboja (CPP) yang dipimpin Hun Sen bersikukuh pihaknya meraih kemenangan sah kendatipun desakan-desakan betubi-tubi dari pemimpin oposisi Sam Rainsy bagi penyelidikan kecurangan dalam pemungutan suara itu.

CPP mraih 68 kursi sedangkan partai oposisi Partai Kwselamatan Nasional Kamboja (CNRP) memperoleh 55 kursi, kata Komisi Pemilihan Nasional negara itu.

Pihak pelaksana pemilu (NEC)juga mengonfirmasikan CPP meraih 3,2 juta suara secara nasional dan CNRP 2,9 juta suara.

Ini adalah hasil terburuk pemilu yang diraih partai yang berkuasa itu sejak tahun 1998, kehilangan 22 kursi sejak pemilu terakhir lima tahun lalu, dan merupakan satu kejutan penting oleh oposisi.

Tetapi pengumuman NEC itu mengakhiri kesempatan sah membuka oposisi untuk menggugat pemilu itu, kendatipun tuduhan-tuduhannya kecurangan itu mengganggu hasil itu dan unjuk rasa sekitar 20.000 pendukungnya Sabtu menyerukan satu pemeriksaan yang independen.

Rainsy, Ahad menolak angka NEC itu, dan menegaskan kekalahan itu tidak akan menggendorkan usaha-usaha partainya untuk membatalkan pemilu itu.

"Kami tidak menyetujui hasil-hasil yang tidak mencerminkan keinginan nyata rakyat. Ini adalah hasil-hasil kecurangan suara," katanya kepada AFP.

"Kami akan memrotes hasil-hasil itu dengan berbagai cara karena situasi politik sekarang tidak seperti pada masa lalu. Kami perlu menemukan satu solusi yang layak," katanya tanpa menjelaskan lebih jauh.

Tidak ada segera komentar dari CPP.

Pada Sabtu sekitar 20.000 pengunjuk rasa, sejumlah diantara mereka membawa plakat-plakat dan pita bertuliskan "suara saya, hidup saya" berkumpul di Phnom Penh dalam salah satu unjuk rasa oposisi terbesar kekuatan rakyat dalam beberapa tahun.

Rainsy, mantan bankir berpendidikan Prancis, tidak diizinkan ikut mencalonkan diri dalam pemilu itu walaupun ia mendapat pengampunan baru-baru ini dikenakan hukuman pidana yang ia sebut bermotif politik.

Para ahli mengatakan Hun Sen benar-benar dilemahkan akibat kehilangan kursi-kursi itu-- dan protes-protes oposisi -- memaksa ia melakukan kompromi dalam beberapa pekan sengketa menyangkut pemilu itu.

Lagi pula, hasil-hasil itu yang menunjukkan 90 kursi CPP dalam pemilu tahun 2008 menurun-- mungkin menandakan satu ruang bagi politik dua partai untuk membangun kerajaan itu, demikian AFP.
(H-RN/H-AK)

Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2013