counter

Menyongsong puncak haji di Arafah

Menyongsong puncak haji di Arafah

Menjelang puncak ibadah haji, Kabah dan Masjidil Haram makin dipadati jemaah (4/10), 2013. (ANTARANEWS/ Fitri Supratiwi)

Madinah (ANTARA News) - Haji itu arafah, jadi tidak sah haji seseorang jika tidak wukuf di Arafah setiap tanggal 9 Dzulhijah. Jadilah sebuah prosesi akbar sepanjang sejarah manusia karena sekitar 4 juta umat Islam digiring ke lembah Arafah sebuah padang pasir yang terletak sekitar 5 kilometer dari kota Mekkah, Arab Saudi.

Dari sana kemudian lautan manusia bergerak ke Mudzadlifah, berhenti sejenak sambil mengambil kerikil untuk jumroh dan kemudian melanjutkan ke Mina yang digunakan sebagai tempat mabit pada hari tasyrik (tanggal 11, 12, 13 Dzulhuijjah).

Mina mempunyai batas-batas tertentu, sehingga kawasan di luar batas mina tidak dipandang sebagai Mina, sehingga berada di tempat itu bukanlah mabit. Panjangnya Mina sekitar 2 mil atau sekitar 3 km. Dalam sebuah hadist dijelaskan, Mina berada di antara Muhassir sampai Jumrah Aqabah. Sedangkan lebarnya adalah kawasan di antara dua bukit.

Berkembangnya jumlah jamaah haji membuat bukit yang mengapit Mina itu telah diratakan sehingga kawasan yang ada di antara dua bukit menjadi luas dan lebih jelas batasnya, bahkan Pemerintah Arab Saudi pun membuat papan petunjuk bertuliskan "Nihayat Mina" (batas akhir Mina).

Diantara negara lain, Indonesia merupakan negara pengirim jamaah terbesar dan tahun ini walau sudah dipotong kuota jumlahnya masih tetap besar yaitu 168.800 orang, dimana 154.00 orang merupakan jamaah haji reguler yang persiapannya diatur Pemerintah.

Bagi Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Anggito Abimanyu, ini merupakan "operasi besar" melebihi operasi militer.

Kalau operasi badai gurun dengan jumlah yang sama memberangkatkan tentara yang sudah terlatih dalam perjalanan jauh, maka operasi haji Indonesia ini memberangkatkan mereka yang sebagian besar berusia lanjut dan tidak terlatih melakukan perjalanan jauh.

Mereka mulai berangkat dari desa-desa berkumpul di asrama haji, lalu masuk embarkasi berdasarkan kelompok terbangnya. Dan menuju negara yang mempunyai sistem pemerintahan dan budaya yang berbeda dengan Indonesia.

Mengarahkan 154.000 jamaah reguler yang tiba di bandara secara berlombang untuk bergerak ke Madinah, lalu ke Makkah dan Arafah, bukanlah pekerjaan mudah. Perencanaan yang sudah matang dibuat Panitia Pelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bisa saja berubah tergantung aturan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi.

Masa gelombang pertama jamaah haji yang diarahkan langsung ke Madinah sebanyak 195 kloter, berakhir sudah, dan berkat kerja keras semua petugas prosesi di Madinah itu berjalan lancar tanpa gangguan berarti. Semua jamaah juga telah diberangkatkan ke Makkah sesuai jadwal yang telah disusun sebelumnya.

Acungan jempol bagi petugas Daerah Kerja Madinah, karena tingkat kematian jamah dan tingkat kriminalis yang menimpa jamaah menurun dibanding tahun lalu. Keluhan juga tak banyak keluar dari jamaah seperti soal pondokan dan catering.

Riak-riak kecil seperti mobil mogok, bagasi berlebih, dan jemaah tersesat, dengan segala daya mampu diatasi petugas dengan senyum, salam dan sapa. Tidak tampak keluh kesah petugas melayani jamaah. Sungguh sebuah pengabdian untuk menjamu tamu-tamu Allah, seperti juga yang pernah dilakukan Rasulullah SAW.

Arafah

Kini, di depan mata, puncak haji akan segera tiba. Semua persiapan telah dilakukan mulai rapat perencanaan penempatan petugas, sarana transportasi, kesehatan dan logistik sampai strategi mengatur pergerakan jamaah.

Yang paling krusial memang saat jamaah bergerak dari Makkah menuju Arafah dan dari Muzdalifah menuju Mina untuk melempar jumroh.

Tugas pertama merupakan bagian PPIH Daerah Kerja Makkah yang membuat terobosan dengan mengatur jadwal keberangkatan dengan pihak muassasah sehingga tidak semua jamaah bergerak bersamaan, ini untuk menghindari kepadatan yang berlebihan.

Direktur Pelayanan Haji Kementerian Agama (Kemenag) Sri Ilham Lubis mengatakan, selama ini, jadwal keberangkatan menjadi domain muassasah dan para ketua maktab. "Tahun sebelumnya mereka hanya berkoordinasi dengan para perangkat kloter. Namun, tahun ini Kantor Misi Haji Indonesia meminta untuk dilibatkan untuk mengatur pemberangkatan," katanya.

Dalam kesepakatan itu, jadwal keberangkatan jamaah haji asal Indonesia dari pemondokan ke Arafah itu dibagai tiga trip yaitu pukul 08.00 -- 12.00, pukul 12.00 -- 16.00, dan pukul 16.00 -- 22.00.

Mereka yang berada di kawasan padat seperti Jarwal, Misfalah, dan Maabdah akan diberangkatkan terlebih dahulu pada 8 Dzulhijah yaitu saat situasi jalanan masih sepi.  "Dengan pengaturan itu diharapkan seluruh jamaah haji sudah berada di Arafah sebelum pukul 10 malam," katanya.

Lebih lanjut Sri mengatakan, proses peninjauan lapangan yang sebelumnya para ketua maktab hanya mengajak ketua kloter maka saat ini Daker Mekkah juja dilibatkan agar diketahui peta penempatan jamaah.  "Kalau ada masalah, kami bisa mendeteksi lebih awal," katanya.

PPHI Arab Saudi juga sudah membentuk tim kerja untuk pemberangkatan pergerakan jamaah di masyair yang terdiri atas misi haji, pihak maktab, muassasah, dan naqabah (transportasi).

"Tim ini sudah ada SOP nya, sehingga jika ada kendala maka sudah tau harus berkomunikasi dengan siapa. Kalau kekurangan bus, misalnya, langsung menghubungi pihak maktab. Selanjutnya, maktab menyampaikan ke naqabah dan kontak personnya pun sudah diserahkan ke tim," katanya.

Tujuh Pos

Personil Daerah Kerja Madinah yang ditugaskan untuk mengatur pergerakan jamaah di Mina juga akan menyiapkan tujuh pos untuk mengatur rute jamaah haji yang akan melempar jumproh.

"Pos itu tidak berbentuk tenda karena dilarang Pemerintah Arab Saudi, jadi hanya petugas yang menggunakan jaket hijau bertuliskan Indonesia dengan Lambang Bendera yang cukup besar," kata Kepada Daker Madinah Akhmad Jauhari yang menggelar Rapat Persiapan Armina.

Ia menjelaskan tujuh pos yang disiapkan itu antara lain adalah Pos Muazim I yang akan dilalui jamaah haji Indonesia berada di Mina Jadid, Pos Muazim II di mulut Terowongan Muazim, Pos Muazim III di dekat Jembatan yang ada Terowongan Muazim, Pos Lantai III Jamarat atau tempat melempar jumroh di lantai III.

Kemudian ada Pos Depan Majid Khaif untuk mencegah jangan sampai jamaah masuk ke perkemahan negara-negara Timur Tengah dan Pos Aziziyah yaitu menjelang perkemahan jamaah Indonesia.  "Kalau sampai tersasar ke sana maka bisa dipastikan sulit akan kembali karena bentuk tenda sama dan sulit mencari tempat bertanya," katanya.

Ia menjelaskan, rute untuk lempar jumroh bagi Indonesia memang masuk Terowongan Muazim yang sekarang panjangnya menjadi hampir tiga kilometer dan langsung mengarah ke lantai III.

"Ini ada bagusnya perubahan itu sehingga jamaah tidak tersesat, tetapi jaraknya agak panjang. Tahun lalu terowongan itu masih satusetengah kilometer dan di mulut terowongan ada pilihan mau lantai I, II atau III," katanya.

Kasmudi, Kabid Keamanan (PPIH) Arab Saudi yang akan mengemban tugas sebagai Kepala Satuan Operasi Mina, meminta petugas di tiap pos untuk terus waspada karena jamaah akan terus bergerak.

"Kami tekankan petugas harus terus mewaspadai pergerakan jamaah agar tidak salah arah, dan khusus di Pos Jamarat II akan memantau juga kepadatan massa baik di lantai I,II dan II, jika terlalu padat maka segera dilaporkan ke Pos Mina untuk menahan laju pergerakan jamaah," katanya usai Rapat Persiapan Mina.

Radio komunikasi di Pos Jamarat II menurut Kasmudi akan selalu aktif untuk melaporkan situasi baik di Lantai I, II dan III, lontar Jumroh untuk mencegah jamaah terjebak kepadatan yang tinggi.

Sementara itu, Kasubsi Kesehatan BPHI Madinah, Tedy Erfano Rahman juga sudah menyiapkan pos-pos kesehatan dalam rangka stabilisasi jemaah yang sakit.  "Kita juga siapkan Tim Teta yang akan mengantarkan jamaah sakit dengan kursi roda ke pos kesehatan atau ambulan milik Bulan Sabit Merah," katanya.

Ia juga sudah meminta para petugas agar bisa membedakan jamaah yang kelelahan dengan jamaah yang sakit sehingga kursi roda yang disiapkan Tim Teta di sekitar Pos Jamarat II hanya digunakan untuk jamaah yang benar-benar sakit.

"Perhatikan betul perbedaaannya. Kalau kelelahan cukup istirahatkan di tempat sejuk dan minum yang cukup, dalam 15 menit biasanya akan pulih lagi," katanya.

Ia menjelaskan, di beberapa titik Pemerintah Arab Saudi menyiapkan ambulan, sehingga jika ada jamaah kita yang sakit bisa langsung diantarkan ke ambulan terdekat.

Calon haji yang masih dirawat di sejumlah rumah sakit juga akan didata apakah mereka akan mengikuti safari wukuf atau dibadalkan.  "Kita masih menunggu masukan dari ketua kloter, setelah itu kita seleksi lagi mana yang akan ikut safari wukuf dan mana yang dibadalkan," kata Kabid Kesehatan PPIH Arab Saudi Dr dr Fidiansjah Sp.KJ MPH.

Ia cukup bersyukur jamaah yang meninggal sampai Kamis (3/10) kemarin hanya 30 orang atau jauh menurun dibanding periode sama tahun sebelumnya yang mencapai 45 orang.

Keberhasilan petugas Daker Jeddah, Madinah dan Makkah selama melayani jamaah pra wukuf selama ini hendaknya memotivasi mereka untuk tetap semangat menjelang puncak haji yang sebentar lagi akan datang. 
(B013/M009)

Pewarta: Budi Santoso
Editor: Tasrief Tarmizi
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Jabal Rahmah setelah puncak musim haji usai

Komentar