counter

Keasinan Sungai Martapura kian tinggi

Keasinan Sungai Martapura kian tinggi

Dokumen foto Sungai Martapura yang menjadi sarana transportasi air lintas Banjarmasin, Kalimantan Selatan, juga menjadi sumber air bersih di PDAM Bandarmasih. (ANTARA/Hasan Zainuddin)

Dua hari lalu kadar sungai martapura tercatat 450 miligram per liter..."
Banjarmasin (ANTARA News) - Tingkat keasinan Sungai Martapura Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, kian tinggi lantaran hujan tidak turun selama sebulan belakangan ini, kata Direktur Perusahaan Air Minum (PDAM) Bandarmasih, Kota Banjarmasin, Ir. Muslih.

"Dua hari lalu kadar sungai martapura tercatat 450 miligram per liter, tetapi sekarang, Minggu ini, sudah tercatat 960 miligram per liter," ujarnya, Minggu.

Menurut dia, tingginya kadar garam di air Sungai Martpaura tersebut menyebabkan penyedotan air baku untuk perusahannya di intake Sungai Bilu belakangan ini sempat terhenti sekitar empat jam per hari, padahal biasanya bisa disedot selama 24 jam.

Tingkat keasinan yang tinggi terjadi pada malam hari, menurut dia, setelah pagi hari air Sungai Martapura tersebut kembali tawar kemudian bisa disedot lagi sebanyak kapasitas 500 liter per detik.

Akibat masalah tersebut, dikatakannya, memang terjadi kendala dalam penyediaan air baku sekitar 10 persen, sehingga perusahaannya lebih kosentrasi pengambilan air baku di bilangan Sungai Tabuk atau sekitar 20 kilometer ke hulu dari kasasan Sungai Bilu yang masih aman dari intrusi air laut.

Hasil tes terakhir kandungan garam di bilangan intake Sungai Bilu tercatat 960 miligram per liter, jauh lebih tinggi tingkat ideal yang bisa diolah menjadi air bersih 250 miligram per liter, katanya.

Tingginya kandungan garam di Sungai Martapura tersebut, dikatakannya, setelah debit air sungai turun drastis karena persediaan air di sungai yang berhulu ke Pegunungan Meratus tersebut berkurang pada kemarau saat ini.

Selain itu, ia menilai, hal itu membuktikan bahwa kawasan resapan air Pegunungan Meratus yang merupakan hulu Sungai Martapura kondisinya sudah rusak akibat berbagai aktivitas manusia, sehingga tekanan air ke hilir berkurang hingga air laut mudah masuk ke sungai.

Walau adanya penurunan persediaan air baku, ia menyatakan, distribusi air bagi 147.000 pelanggan tetap normal-normal saja, namun tekanannya tidak sederas biasanya.

Kepada masyarakat, ia mengimbau, tidak memanfaatkan air sungai Martapura untuk kebutuhan memasak dan minum, karena dapat berdampak negatif bagi kesehatan, khususnya memicu penyakit diare.

Pewarta: Hasan Zainuddin
Editor: Priyambodo RH
COPYRIGHT © ANTARA 2013

Ratusan keramba apung segera dipindahkan ke darat

Komentar